Kesempatan tidak datang dua kali dan tidak semua orang berani menempuhnya. Ketika Program Fast Track S1-S2 FEB UGM dibuka pada akhir tahun 2023, Anawinta Choirunnisa memilih untuk melangkah meski belum sepenuhnya yakin dengan tantangan yang akan dihadapi di masa depan. Keputusan ini membawanya menjadi bagian dari angkatan pertama Program Fast Track Magister Sains Akuntansi FEB UGM.
Wisudawan yang kerap disapa Winta ini memang memiliki keinginan untuk melanjutkan studi, namun tak pernah terpikirkan untuk menempuh melalui jalur fast track.
“Beberapa orang terdekat saya mendorong untuk mencoba dulu dan saya berpikir demikian. Lagipula, kita tidak tahu juga kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi,” ujarnya.
Winta mengaku belum memiliki gambaran secara jelas mengenai studi yang akan dijalani. Sebab ia menjadi angkatan pertama dalam program ini. Belum adanya senior dan kakak tingkat yang dapat dijadikan acuan atau tempat untuk berbagi membuat semua hal yang dilakukan terasa baru. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur untuk mendapat kesempatan berharga ini.
“Program ini juga memungkinkan mahasiswa untuk menyelesaikan studi S1 dan S2 lebih cepat karena mahasiswa akan menjalani semester akhir sarjana berbarengan atau paralel dengan semester awal magister dan terdapat beasiswa yang ditawarkan,” tambah Winta yang juga menjadi penerima beasiswa Program Studi Magister Sains Akuntansi FEB UGM.
Tantangan Studi
Menjalani studi sarjana dan magister menjadi tantangan bagi Winta terutama untuk memahami perbedaan pola pembelajaran program S1 dan S2. Program magister khususnya di MD FEB UGM, memiliki kurikulum yang lebih berfokus pada penelitian secara mandiri, pendalaman teori, serta kemampuan kritis dan analitis. Tantangan terbesar baginya adalah ketika aktivitas akademik yang padat dan harus dilakukan secara paralel.

“Aktivitas yang padat membuat waktu 24 jam seminggu terasa tidak cukup sehingga perlu dimaksimalkan agar seluruh tanggung jawab tetap diselesaikan dengan baik. Mengatur prioritas adalah hal yang sangat penting. Meski pada awalnya terasa berat, seiring berjalannya waktu saya mulai menemukan ritmenya dan beradaptasi,” ujarnya.
Lingkungan akademik juga menjadi salah satu tantangan baginya karena teman-temannya memiliki latar belakang pendidikan yang beragam dan pengalaman kerja. Diskusi yang kritis dalam proses pembelajaran sempat membuatnya ragu akan kemampuannya. Seiring berjalannya waktu, ia belajar membangun mindset yang lebih seimbang dan menghargai proses perjalanan hidupnya.
“Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak ada habisnya. Saya belajar untuk melihat kembali apa yang telah saya capai dan apa yang saya miliki. Setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda dan perbedaan tersebut adalah bagian dari perjalanan masing-masing,” ungkapnya.
Bagi Winta, fase paling berat selama studinya adalah saat setiap mengerjakan tugas akhir baik skripsi ataupun tesis. Ia merasakan bahwa proses tersebut menguji kemampuan akademik, komitmen serta kekuatan mentalnya yang kerap membuatnya lelah, ragu, dan overthinking.
“Namun dari fase ini saya belajar untuk bertahan, percaya diri, dan menerima bahwa setiap perjalanan penuh tantangan dan lika-liku. Saya percaya selama kita memiliki keteguhan untuk terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu, selalu ada ruang bagi kita untuk belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” tegasnya.
Winta mengajukan penelitian tesis terkait penggunaan informasi kinerja dalam manajemen sekolah negeri. Melalui penelitian tersebut ia berusaha melihat peran orientasi budaya organisasi dalam hubungan penggunaan informasi kinerja terhadap kinerja organisasi. Hasilnya menunjukkan keberagaman tujuan penggunaan informasi kinerja dapat memberikan dampak yang berbeda bergantung pada tujuan penggunaannya. Penggunaan informasi kinerja tidak secara otomatis meningkatkan kinerja tanpa adanya tindak lanjut yang memadai. Oleh karena itu, organisasi perlu mengoptimalkan penggunaan informasi kinerja melalui tindak lanjut konkret serta membangun budaya organisasi yang mendukung praktik berbasis kinerja.
Nilai-nilai yang Menguatkan
Perjalanan akademik Winta tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak seperti kedua orang tua, dosen pembimbing Rusdi Akbar, M.Sc., Ph.D., Ak., CA., dan teman-temannya yang hadir dalam bentuk peran masing-masing. Selain dukungan dari lingkungan sekitar, nilai-nilai yang diusung oleh FEB UGM momentum karakter dan cara berpikirnya selama berkuliah. Nilai integritas menjadi nilai yang dirasakan paling melekat.

“Seorang teman dekat saya pernah menyampaikan bahwa lulusan FEB UGM dikenal memiliki integritas yang tertanam kuat, sebuah nilai yang saya rasakan tercermin dalam cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Selama menjalani studi di Program Fast Track Magister Sains Akuntansi FEB UGM ia merasa keterampilan komunikasi, manajemen waktu, dan problem solving menjadi kian terasah. Sebab, kurikulum dan proses pembelajaran dipersiapkan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan riset, pemikiran kritis dan analitis, serta komunikasi ilmiah baik tertulis maupun lisan untuk siap menghadapi dunia profesional maupun akademik.
Selepas menyelesaikan studi, putri dari pasangan Sukijan dan Insiyah ini memilih untuk terlebih dahulu mengeksplorasi dunia profesional dengan bekerja dan mengembangkan pengalaman praktis sebagai bekal penguatan kapasitas diri.
“Di masa depan, saya berharap juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi. Namun, untuk saat ini dalam waktu dekat, saya memilih melangkah untuk mengeksplorasi dan berusaha memanfaatkan setiap peluang yang hadir seiring perjalanan saya,” ucapnya.
Tips Lolos Fast Track
Winta berpesan kepada mahasiswa FEB UGM yang bercita-cita melanjutkan studi dengan skema fast track untuk memantapkan diri dengan matang sejak awal. Menurutnya, menyiapkan tekad dan komitmen adalah fondasi utama sebelum mengambil keputusan melanjutkan studi melalui skema ini.
“Teman-teman dapat mencari tahu info pendaftaran dan syarat serta berkas yang dibutuhkan dari jauh hari. Pasti dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan seluruh berkas dan seleksinya,” pesannya.
Ia pun menegaskan pentingnya keberanian untuk bermimpi dan mengambil langkah besar, termasuk dalam memilih untuk melanjutkan studi.
“Percaya pada potensi dan pilihan teman-teman. Eksplor segala kesempatan yang ada di depan mata. Kesempatan itu mungkin bisa menjadi jembatan teman-teman untuk mencapai impian,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
