Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) meluncurkan BRI GAMA International Business Case Competition (IBCC) 2026.
Mengusung tema “Empowering MSMEs: Innovate and Sustainable Business Solutions for Global Competitiveness,” kompetisi ini mengajak mahasiswa jenjang S1 dan S2 untuk merancang solusi inovatif guna memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat global.
Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi kunci dalam melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui kompetisi business case berskala internasional ini, kami berharap para mahasiswa sebagai agen perubahan dapat mengasah kemampuan analisis, berpikir kritis, dan memberikan solusi nyata yang dapat diaplikasikan untuk kemajuan UMKM,” ujarnya saat kegiatan kick-off dan talkshow yang berlangsung pada Jumat (22/5/2026) di Ruang Multimedia FEB UGM.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Bogat Agus Riyono, menegaskan bahwa kompetisi ini diharapkan mampu melahirkan gagasan yang memberikan dampak bagi masyarakat dan pengambil kebijakan.

“Kami berkomitmen agar ide-ide brilian yang lahir dari kompetisi ini tidak berhenti sebagai tumpukan laporan atau jurnal. Hasil rekomendasi terbaik akan kami kawal agar dapat disampaikan kepada para policy makers sebagai kontribusi pemikiran bagi kemajuan negeri,” ungkapnya.
Sementara itu, Senior Executive Vice President Human Capital BRI, Steven A. Yudiyantho, menjelaskan bahwa dukungan BRI terhadap kompetisi ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam memberdayakan UMKM sebagai fondasi ekonomi kerakyatan.
“Pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan pinjaman. Yang lebih penting adalah membantu pelaku usaha membangun kapasitas, meningkatkan literasi keuangan, dan memperkuat kemampuan mereka untuk bertumbuh secara berkelanjutan,” jelas Steven.
Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Boyke Rudy Purnomo, S.E., M.M., Ph.D., mengungkapkan bahwa UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap pasar ekspor masih relatif rendah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan daya saing yang perlu dijembatani.
Ia menilai tantangan yang dihadapi UMKM tidak hanya terkait akses pembiayaan, tetapi juga kapasitas manajerial, literasi keuangan, adopsi teknologi digital, hingga kemampuan memenuhi berbagai standar keberlanjutan yang berperan penting dalam perdagangan global.
Boyke juga menyoroti adanya sustainability competitiveness gap, yakni kesenjangan antara tuntutan pasar yang mengarah pada praktik bisnis berkelanjutan dengan kondisi UMKM yang masih berjuang memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.
“Jangan sampai UMKM hanya menjadi objek diskusi di ruang kelas. Kita perlu memastikan bahwa solusi yang ditawarkan benar-benar memberikan dampak bagi UMKM sehari-hari,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran akademisi sebagai knowledge broker untuk menjembatani kebutuhan pelaku usaha dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Melengkapi perspektif tersebut, Group Head Micro Business Development BRI, A. Eddy Tri Wibowo, menjelaskan bahwa penguatan UMKM membutuhkan pendekatan berbasis ekosistem yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, digitalisasi dan pemanfaatan data berperan penting dalam memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat proses pendampingan bagi pelaku usaha.

Ia mencontohkan berbagai inisiatif yang telah dikembangkan BRI, mulai dari digitalisasi proses pembiayaan melalui BRISPOT, pengembangan jaringan AgenBRILink, program Desa BRILian, hingga integrasi layanan melalui Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM. Berbagai program tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperluas akses terhadap layanan keuangan formal.
“UMKM tidak bisa berkembang sendiri. Mereka membutuhkan ekosistem yang memungkinkan akses terhadap pembiayaan, pasar, pendampingan, dan teknologi agar mampu naik kelas secara berkelanjutan,” katanya.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengembangan UMKM, digitalisasi, akses pembiayaan, hingga implementasi solusi bisnis yang berkelanjutan.
Kompetisi ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melahirkan gagasan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan aplikatif dalam menjawab tantangan nyata yang dihadapi UMKM Indonesia. Pendaftaran BRI GAMA International Business Case Competition (IBCC) 2026 dibuka mulai Mei-Juli 2026, opening ceremony pada 3 Juli 2026 dan kompetisi akan berlangsung selama bulan Agustus 2026. Informasi lebih lanjut terkait kompetisi ini dapat diakses melalui http://brigamaibcc.com.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
