Kemampuan mengelola kehidupan perkuliahan tidak hanya berkaitan dengan membagi waktu antara akademik dan aktivitas lainnya. Mahasiswa juga perlu memahami diri, menentukan prioritas, serta menjaga kapasitas diri agar dapat menjalani berbagai tanggung jawab.
Menjawab kebutuhan tersebut, Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM menggelar sesi pelatihan “Study-Life Balance” sebagai bagian dari program STAR LEAD (Soft Skills Training and Recharging Leadership Exploration and Development) bagi mahasiswa sarjana angkatan 2026. Sesi ini berlangsung pada Jumat (11/9/2026) di Auditorium Learning Center FEB UGM dan menghadirkan Hasna Uzzakiyah, M.Psi., Psikolog, sebagai pembicara.
Dalam sesi tersebut, Hasna mengajak mahasiswa untuk terlebih dahulu memahami diri sebelum menentukan cara menjalani kehidupan perkuliahan. Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah ikigai, yaitu kerangka untuk membantu seseorang memahami hal yang disukai, kemampuan yang dimiliki, kontribusi yang ingin diberikan, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Pemahaman tersebut dapat membantu mahasiswa menentukan pilihan pengalaman selama masa kuliah agar tetap selaras dengan minat dan kemampuan yang dimiliki.
Selain mengenali diri, mahasiswa juga dihadapkan pada perubahan pola kehidupan ketika memasuki perguruan tinggi. Jika pada masa sekolah aktivitas siswa cenderung lebih terarah, kehidupan perkuliahan memberikan ruang yang lebih besar bagi mahasiswa untuk menentukan jadwal, mengambil keputusan, sekaligus bertanggung jawab atas konsekuensinya.
“Kalau di kuliah itu kita lebih banyak diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan kita sendiri. Jadi, keputusan dan risikonya juga menjadi tanggung jawab kita,” jelas Hasna.
Dalam menghadapi tuntutan tersebut, Hasna memperkenalkan konsep Circle of Influence dan Circle of Concern. Circle of Influence mencakup sesuatu yang dapat dikendalikan seseorang, seperti kebiasaan belajar dan cara merespons suatu keadaan. Sementara itu, Circle of Concern mencakup sesuatu yang berada di luar kendali pribadi, seperti karakter orang lain maupun kebijakan tertentu.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengarahkan perhatian pada hal-hal yang masih dapat mereka pengaruhi daripada menghabiskan energi untuk sesuatu yang berada di luar kendali.

Ia menjelaskan bahwa keseimbangan bukan berarti membagi waktu secara sama rata untuk setiap aktivitas. Ia menggunakan analogi antara production dan production capability. Hasil yang ingin dicapai mahasiswa merupakan production, sedangkan kemampuan untuk terus menghasilkan pencapaian tersebut merupakan production capability.
“Kalau kita hanya fokus pada production-nya saja, lama-lama production capability kita bisa turun,” jelas Hasna.
Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur, pola makan, kesehatan mental, dan waktu pemulihan menjadi bagian dari upaya mempertahankan kapasitas diri. Mahasiswa tidak hanya perlu memikirkan tugas yang harus diselesaikan, tetapi juga kondisi yang memungkinkan mereka untuk terus menjalankan tanggung jawab tersebut.
Hasna turut memaparkan hal-hal yang menjadi energy drainers maupun energy chargers dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan yang tidak sehat dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menguras energi, sedangkan aktivitas seperti berolahraga dan melakukan hobi dapat membantu memulihkan energi.
Mengenali diri sendiri dan kemampuan mengelola kapasitas menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Hasna mengingatkan mahasiswa bahwa keseimbangan bukan tentang melakukan sebanyak mungkin hal, melainkan memilih apa yang perlu dijalani sesuai dengan kapasitas dan tujuan masing-masing.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
