Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam cara organisasi menjalankan aktivitasnya. Salah satu nilai yang dibawa oleh teknologi ini adalah kemampuannya mengolah data dalam jumlah yang sangat besar. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan oleh organisasi untuk mendeteksi berbagai bentuk kecurangan atau tindak fraud. Dengan adanya hal ini, pertanyaan baru justru muncul, yakni apakah manusia tidak lagi dibutuhkan jika AI dapat mendeteksi fraud?
Pertanyaan tersebut menjadi topik utama dari salah satu seri FEB Podcast berjudul “Mengungkap Masa Depan Fraud Detection: AI atau Manusia?” bersama narasumber Dr. Putri Wulanditya, Vice Rector for Student Affairs and Partnership Universitas Hayam Wuruk Perbanas sekaligus Director of Research ACFE Indonesia Chapter. Dalam diskusi tersebut, dijelaskan bahwa peran manusia dan AI dalam mendeteksi fraud saling beririsan.
Percepat Deteksi Kecurangan
Putri menjelaskan bahwa kemampuan AI dalam mengolah data berukuran besar dengan cepat menjadikannya penting untuk mendeteksi fraud. Melalui analisis terhadap keseluruhan populasi data, AI dapat mengidentifikasi pola-pola yang tidak biasa. Sebaliknya, pemeriksaan manual oleh manusia memiliki keterbatasan dari segi waktu, tenaga, dan kapasitas analisis.
Ia mencontohkan sebuah perusahaan yang beroperasi dari hari Senin hingga Jumat memiliki pola transaksi yang relatif konsisten pada hari kerja. Namun, ketika ada transaksi pada akhir pekan, hal tersebut perlu ditindaklanjuti. “Dengan adanya AI, proses deteksi tersebut akan lebih mudah karena dapat menemukan pola yang tidak biasa seperti ini dengan cepat,” jelas Putri.
Putri menyampaikan bahwa perkembangan teknologi ini juga mengubah proses audit. Jika sebelumnya pemeriksaan sering dilakukan berdasarkan sampel, penggunaan AI memungkinkan memasukkan data dalam jumlah yang lebih besar ke dalam sistem untuk dianalisis. Dengan demikian, auditor dapat memperoleh gambaran mengenai kecenderungan atau anomali yang terdapat pada keseluruhan data.

Bukan Pengganti Manusia
Meskipun AI memiliki kemampuan untuk mendeteksi anomali dengan cepat, Putri menegaskan bahwa teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Manusia berperan dalam memahami konteks, melakukan analisis lebih lanjut, dan menentukan tindakan yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa AI dan manusia memiliki peran yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Misalnya, jika terdapat tindakan whistleblowing atau pelaporan kecurangan di lingkungan organisasi, peran seseorang yang melakukan tindakan tersebut (whistleblower) tetap diperlukan untuk memverifikasi tindakan yang tidak sesuai dengan pola yang teridentifikasi oleh AI.
Putri menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab manusia. Oleh sebab itu, penggunaan AI dalam pekerjaan harus dilakukan secara bijak dan transparan.
Dalam deteksi fraud, lanjutnya, AI dan manusia tidak berada dalam posisi saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. AI mampu memproses data dalam jumlah besar, mengidentifikasi anomali, dan meningkatkan efisiensi deteksi. Sementara itu, manusia tetap berperan penting dalam menggunakan pertimbangan profesional (professional judgment), menjaga etika, mendorong keberanian untuk melaporkan pelanggaran, serta mengambil keputusan. Oleh karena itu, sistem pencegahan dan deteksi fraud yang efektif memerlukan kolaborasi antara teknologi AI dan peran manusia, yang didukung oleh mekanisme whistleblowing serta tata kelola organisasi yang baik.
“Dengan menggabungkan kecanggihan AI, whistleblowing, etika, dan tata kelola yang baik, organisasi memiliki dasar yang lebih kuat untuk membangun lingkungan yang berintegritas dan mampu menghadapi perkembangan fraud di masa depan,” tutup Putri.
Video selengkapnya dari FEB UGM Podcast berjudul “Mengungkap Masa Depan Fraud Detection: AI atau Manusia? Dapat diakses melalui: http://ugm.id/MengungkapMasaDepanFraudDetection
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
