Sebuah buket bisa menjadi cara sederhana untuk menyampaikan apresiasi baik pencapaian maupun perayaan hari spesial. Bagi Shafa Azalia, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) angkatan 2023, kebiasaan memberikan buket kepada teman-temannya semasa SMA justru menjadi awal perjalanan membangun bisnis kreatif.
Kini, kebiasaan merangkai hadiah tersebut berkembang menjadi Azalia Bouquet, usaha buket yang menawarkan beragam pilihan hadiah untuk berbagai momen spesial. Perjalanan bisnisnya bahkan mengantarkan Shafa masuk nominasi kategori Business Innovator dalam EB Awards 2025.
Dari Hobi Menjadi Peluang Usaha
Sebelum Azalia Bouquet lahir sebagai sebuah bisnis, Shafa terbiasa merangkai buket sendiri untuk diberikan kepada teman-temannya. Ia membeli bahan secara mandiri dan menyusun bunga menjadi hadiah yang lebih personal.
Melihat kesungguhan Shafa dalam menjalani hobinya, orang tuanya menangkap peluang yang bisa dikembangkan dari kegiatan tersebut. Dukungan itu kemudian hadir dalam bentuk modal awal sebesar Rp50.000 untuk membeli bahan baku.
Dari modal sederhana tersebut, Shafa mulai menerima pesanan dan mengembangkan usahanya secara bertahap. Apa yang semula dilakukan sebagai bentuk apresiasi kepada teman perlahan berubah menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Merangkai Keunikan di Tengah Persaingan
Pasar buket di Yogyakarta bukanlah ruang tanpa persaingan. Banyak pelaku usaha menawarkan produk serupa. Shafa pun memutar otak untuk menghadirkan produk dengan keunggulan dan daya tarik tersendiri.
Ia pun menghadirkan variasi produk yang ditawarkan. Selain buket bunga segar (fresh flower) dan bunga artifisial, Azalia Bouquet menawarkan buket bunga pipe cleaner, makanan ringan, hingga buah. Ragam pilihan tersebut memungkinkan pelanggan menyesuaikan hadiah dengan selera, kebutuhan, dan anggaran mereka.
Azalia Bouquet juga menyasar mahasiswa sebagai salah satu pasar utamanya. Untuk memberikan kemudahan, Shafa menyediakan layanan antar gratis bagi pesanan ke kawasan UGM, UNY, dan area sekitarnya.
Namun bagi Shafa, keunggulan sebuah buket tidak berhenti pada variasi bahan yang digunakan. Kerapian rangkaian dan keselarasan warna juga menjadi perhatian agar setiap produk tetap menarik secara visual. Perhatian terhadap detail tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga kualitas sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
“Kerapian dan keselarasan warna dari produknya juga menjadi perhatian. Keunggulan bisnis tidak hanya ada di variasi produknya, tetapi juga kemudahan layanan dan kualitas hasilnya,” ucap Shafa dalam program FEBerkarya berjudul.
Merangkai Kepercayaan Pelanggan
Shafa mengatakan bisnis buket pada dasarnya sangat berorientasi pada keinginan pelanggan. Setiap orang memiliki preferensi berbeda, mulai dari warna, jenis bunga, isi buket, hingga suasana yang ingin disampaikan melalui hadiah.
Tantangan muncul ketika pelanggan belum mampu menjelaskan secara spesifik buket yang mereka inginkan. Dalam situasi ini, Shafa memilih untuk aktif menggali kebutuhan pelanggan melalui percakapan.Ia menanyakan jumlah dan jenis bahan yang diinginkan, tema dan warna buket, isi yang akan dirangkai, hingga tujuan pemberian hadiah. Informasi tersebut membantunya menerjemahkan keinginan pelanggan menjadi produk yang sesuai.
Bagi Shafa, mendengarkan pelanggan merupakan bagian penting dari proses kreatif. Ia tidak sekadar merangkai bunga atau menyusun berbagai barang menjadi satu buket, tetapi juga berusaha menghadirkan hadiah yang mewakili maksud dan perasaan pemberinya. Kemampuan untuk mendengarkan, mengkomunikasikan, dan menerjemahkan keinginan pelanggan menjadi produk yang sesuai merupakan bagian terpenting dari bisnis kreatif.
Belajar Menyeimbangkan Bisnis dan Kuliah
Seiring bertambahnya pesanan, tantangan yang dihadapi Shafa ikut berkembang. Jika pada awal merintis usaha ia mengerjakan sebagian besar proses produksi sendiri dengan bantuan ayahnya, kesibukan kuliah membuatnya perlu menata kembali cara kerja Azalia Bouquet.
Membagi waktu antara kegiatan akademik dan produksi menjadi tantangan tersendiri bagi Shafa. Untuk mengatasinya, ia mulai bermitra dengan teman-temannya dalam proses produksi, mulai dari pembuatan rangkaian bunga hingga wrapping.
“Tentunya harus berkompromi dengan kegiatan akademik karena itu menjadi prioritas. Maka dari itu, biasanya waktu produksi dan pengantaran menyesuaikan dengan kegiatan akademik dan kesepakatan bersama pelanggan,” terangnya.
Bagi Shafa, mengembangkan hobi menjadi bisnis tidak harus menunggu sampai semuanya sempurna. Langkah awal bisnis dapat dimulai dengan menawarkan produk atau keterampilan yang telah dimiliki kepada teman-teman terdekat. Setelah itu, memperluas jangkauan melalui media sosial dan marketplace.
Ia juga menyarankan penggunaan sistem made by order sebagai alternatif untuk mengurangi risiko kerugian akibat produk yang tidak terjual. Dengan memproduksi berdasarkan pesanan, pelaku usaha dapat menyesuaikan kebutuhan bahan dan waktu pengerjaan dengan permintaan pelanggan.
Shafa juga menekankan pentingnya menjaga kualitas produk, terutama ketika melayani pelanggan pertama.
“Usahakan pesanan yang sudah diterima itu bisa dikerjakan secara maksimal. Karena first time pelanggan beli ke kita itu menjadi first impression yang penting,” tambahnya.
Perjalanan Azalia Bouquet menunjukkan bahwa peluang bisnis dapat berangkat dari kegiatan sederhana yang dilakukan dengan konsisten. Melalui kreativitas, pemahaman terhadap pelanggan, dan pengelolaan usaha yang bertahap, hobi dapat berkembang menjadi bisnis yang bernilai. Satu pelajaran besar yang dapat diambil dari perjalanan Shafa merintis bisnisnya, yakni keberanian untuk mencoba menjadi awal untuk mengenali peluang, menghadapi tantangan, dan terus mengembangkan usaha.
Video selengkapnya program FEBerkarya berjudul Hobi Bisa Jadi Cuan? Bikin Bouquet jadi Bisnis dapat diakses melalui tautan http://ugm.id/MahasiswaFEBKembangkanBisnisBuket
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
