Tim mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berhasil meraih juara kedua dalam ajang business case competition tingkat nasional bertajuk ACC Next Gen Leaders Challenge 3.0. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Astra Credit Companies (ACC) berlangsung pada 3-5 Agustus 2026 di Berijalan Office, Yogyakarta.
Prestasi ini diraih oleh tim IGA Bakar yang beranggotakan tiga mahasiswa angkatan 2024, yaitu Azzumaraa Akmalia (Manajemen 2024), Sovalia Intan Asri (Manajemen 2024), dan Glori E.P.R. Silaban (Manajemen 2024). Mereka sukses meraih juara dalam kompetisi yang diikuti oleh 115 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Azzumara mengungkapkan bahwa dalam kompetisi ini mereka ditantang untuk merumuskan strategi pemasaran kreatif guna meningkatkan awareness masyarakat, khususnya di wilayah Yogyakarta, terhadap produk ACC Danaku. Tantangan ini muncul karena masih ada persepsi masyarakat yang mengaitkan ACC semata-mata dengan layanan pembiayaan mobil.
Pada tahap penyisihan, tim melakukan riset secara mandiri dengan menjangkau berbagai kelompok masyarakat di Yogyakarta, seperti pedagang di Pasar Beringharjo, pelaku UMKM, dan warga lokal di Mlati, Sleman. Riset lapangan tersebut menjadi salah satu landasan dalam merumuskan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik calon konsumen. Upaya ini berhasil membawa mereka melaju ke babak final.
“Pada tahap penyisihan, kami mengumpulkan presentasi deck yang berisi analisis masalah, solusi, dan implementasi yang telah kami rumuskan. Akhirnya, kami dinyatakan lolos dan akan bersaing dengan empat finalis lainnya,” ujar Azzumara.
Di tahap final ini, mereka bertemu dengan finalis dari perguruan tinggi lain, yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Sriwijaya (Unsri).
Perjalanan menuju penjurian final tidak lepas dari tantangan. Melalui sesi pendampingan bersama staf dan tenaga profesional ACC, tim mendapatkan masukan yang mengharuskan mereka mengevaluasi dan menyempurnakan sejumlah strategi. Mereka juga memperkuat validasi data responden dalam waktu persiapan yang terbatas.
Azzumaraa menjelaskan bahwa timnya merancang strategi pemasaran yang mencakup tiga aspek utama, yaitu awareness, conversion, dan engagement. Untuk meningkatkan awareness, mereka mengusulkan penyelenggaraan festival serta kolaborasi dengan media lokal. Pada aspek konversi, tim mengusulkan kerja sama dengan platform transportasi lokal untuk menjangkau calon nasabah. Sementara itu, strategi engagement diwujudkan melalui program loyalitas bagi nasabah untuk membangun hubungan jangka panjang.
Di balik proses penyusunan strategi tersebut, tim juga menghadapi tantangan dalam mengatur waktu. Pengerjaan proposal dan pengembangan ide kompetisi harus berjalan beriringan dengan persiapan Ujian Akhir Semester (UAS). Kondisi ini menuntut setiap anggota untuk mengatur prioritas serta menjaga koordinasi agar pekerjaan tetap berjalan dengan baik.
“Selain berbarengan dengan UAS, tantangan yang kami rasakan terkait kerja sama. Kami perlu mengesampingkan ego, terbuka terhadap kritik, dan menguji gagasan satu sama lain sebelum menyepakati strategi yang akan kami tawarkan,” tambah Glori.
Ketiganya juga mengajak mahasiswa FEB UGM untuk tidak ragu mengikuti kompetisi, meskipun belum berhasil meraih prestasi pada percobaan pertama. Menurut mereka, pengalaman dari berbagai kompetisi sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas gagasan dan strategi yang dikembangkan.
“Jangan pernah takut untuk mencoba apa pun. Kalau gagal, ya udah coba lagi, coba lagi sampai bisa balas dendam dan mendapatkan apa yang kita harapkan,” tutup Sovalia.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals






