Bagi Aghnan Yarits Anggara, mimpi bukan sekadar sesuatu yang dibayangkan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan saat kesempatan datang. Keyakinan itu membawanya menapaki perjalanan dari praktisi statistika di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai hingga menjadi wisudawan terbaik Program Magister Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MM FEB UGM). Ia berhasil lulus dari Prodi MM FEB UGM dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,98, dengan masa studi 1 tahun 5 bulan 20 hari, sehingga meraih predikat cum laude.
Sebelum menempuh pendidikan pascasarjana di Prodi Magister Manajemen FEB UGM, Angga, begitu ia biasa disapa, berkarier di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai, Riau sebagai praktisi statistika. Selama empat tahun, ia terlibat dalam penyusunan berbagai indikator ekonomi makro, termasuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Dumai. Pekerjaan tersebut memberinya pengalaman dalam membaca kondisi perekonomian melalui data dan angka.
Namun, di balik angka-angka ekonomi yang diolahnya, Angga menyadari ada sisi lain yang ingin ia pahami lebih dalam. Jika ekonomi makro membantunya melihat gambaran besar perekonomian, ia ingin mempelajari dinamika pada tingkat perusahaan, pasar, dan pengambilan keputusan bisnis yang turut membentuknya.
Keinginan untuk memperluas perspektif itulah yang mendorongnya menempuh pendidikan di MM FEB UGM melalui program tugas belajar dari institusi asalnya. Baginya, melanjutkan studi bukan sekadar menambah kualifikasi akademik, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan melihat persoalan ekonomi dari sudut pandang yang lebih luas.
Memperluas Perspektif di Dunia Manajemen
Angga mengungkapkan bahwa keputusan untuk memilih MM FEB UGM didasarkan pada pertimbangan kualitas pendidikan dan lingkungan akademik. Akreditasi internasional AACSB dan reputasi alumni turut memperkuat keyakinannya untuk melanjutkan studi di MM FEB UGM. Sebagai awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kesempatan ini menjadi bagian dari perjalanan pengembangan dirinya.
Memasuki lingkungan pendidikan manajemen menjadi pengalaman tersendiri bagi Angga yang memiliki latar belakang statistika dan sains. Salah satu tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan bidang keuangan, yang menuntutnya mempelajari konsep dan teori baru.
Di sisi lain, keberagaman latar belakang mahasiswa MM FEB UGM menjadi pengalaman belajar yang berharga. Diskusi studi kasus di kelas tidak hanya mempertemukan konsep-konsep yang dipelajari, tetapi juga berbagai sudut pandang berdasarkan pengalaman profesional masing-masing mahasiswa. Keberagaman tersebut membuat proses diskusi menjadi lebih dinamis dan membuka ruang bagi Angga untuk melihat suatu persoalan secara lebih luas.
“Pengalaman menarik selama di sini adalah keberagaman para mahasiswa yang menghasilkan perspektif heterogen di kelas. Hal tersebut sangat mendorong kemampuan berpikir kritis,” tambahnya.
Perjalanan Penyusunan Tesis
Ketertarikan Angga pada analisis ekonomi tetap menjadi benang merah dalam perjalanan akademiknya. Hal ini tercermin dalam tesis yang mengkaji pengaruh kapitalisasi pasar saham (market capitalization of equity) terhadap indeks harga properti di negara-negara ASEAN-5, dengan mempertimbangkan faktor kredit.
Melalui penelitian ini, Angga mendalami hubungan antara indikator pasar keuangan dan pergerakan harga properti, sekaligus memperluas penerapan kemampuan analitis yang telah dikembangkan melalui latar belakang statistika.
“Tesis ini berangkat dari pertanyaan apakah terdapat faktor makrofinansial lain selain kredit yang dapat memengaruhi harga properti di negara-negara ASEAN? Dan ternyata, market cap equity memang memiliki pengaruh positif terhadap indeks harga properti di negara-negara ASEAN-5,” terangnya.

Dalam proses penyusunan tesis, Angga dibimbing oleh Prof. Dr. Drs. Eduardus Tandelilin, M.B.A. Ia sangat merasakan bahwa dukungan dan arahan dari dosen pembimbing menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mengatasi tantangan riset hingga akhirnya berhasil lulus dengan gemilang sebagai wisudawan terbaik.
Menyeimbangkan Akademik, Organisasi, dan Passion
Bagi Angga, pengalaman selama menempuh pendidikan di MM FEB UGM tidak berhenti pada kegiatan perkuliahan. Ia juga memanfaatkan masa studinya untuk mengikuti kompetisi, konferensi ilmiah, dan organisasi mahasiswa.
Salah satu pencapaiannya adalah meraih juara ketiga dalam Green Business Plan Competition melalui gagasan inovasi teh berbahan dasar kulit salak. Selain itu, ia juga mengikuti berbagai konferensi nasional dan internasional, di antaranya 13th Gadjah Mada International Conference on Economics and Business (GAMAICEB), Sebelas Maret International Conference on Digital Economy (SMICDE) di Kota Solo, Jawa Tengah, serta 2nd International Conference on Marketing and Behavioral Science (ICMBS) di Fukuoka, Jepang.
“Pengalaman konferensi terakhir di Jepang cukup menantang karena jam kedatangan di Jogja hanya selisih kurang lebih 12 jam dari jadwal sidang tesis saya,” ujarnya.
Di luar kegiatan akademik, Angga juga aktif dalam organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) di Operations Club serta sebagai Vice Chief Academic Officer di MBA Student Association (MBA SE). Dalam organisasi, ia terlibat dalam kegiatan akademik, termasuk persiapan ujian dan pendampingan bagi mahasiswa tingkat bawah.
Menjalani kegiatan akademik sekaligus organisasi membutuhkan kemampuan untuk mengelola waktu dan menentukan fokus. Angga memandang bahwa salah satu kunci untuk menjalani setiap semester adalah membangun passion terhadap bidang yang sedang dipelajari. Dengan menemukan ketertarikan pada materi yang dipelajari, proses akademik dapat dijalani dengan rasa ingin tahu yang lebih besar.
Mimpi yang Menjadi Pengingat untuk Terus Bertumbuh
Predikat wisudawan terbaik MM FEB UGM menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan Angga. Di balik pencapaiannya, ia tidak melupakan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarganya, terutama tentang arti pendidikan dan perjuangan untuk memperoleh kesempatan belajar. Cerita tentang perjuangan orang tua untuk memperoleh pendidikan menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar adalah sesuatu yang patut dihargai. Pengalaman tersebut juga membentuk sudut pandangnya dalam menafsirkan mimpi.
“Mimpi adalah sumber daya tak terbatas yang diberikan Tuhan, sehingga setiap orang memiliki ruang untuk terus bertumbuh dan mengembangkan dirinya. Namun, keberanian untuk bermimpi perlu disertai kesungguhan ketika kesempatan datang serta kemauan untuk mempelajari hal-hal baru,” tutupnya.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
