Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menunjukkan taringnya pada kompetisi "Spring 2014 SolBridge Asian Thought Leaders Case Competition" yang berlangsung di SolBridge International School of Business, Korea Selatan (22-27/03/14). Adalah Yuliana, Tara Mahdiani, dan Lay Monica Ratna Dewi, mahasiswi-mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM yang berhasil menyabet juara pertama pada ajang tersebut. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama FEB dan UGM saja, akan tetapi juga Indonesia. Mereka adalah wakil satu-satunya dari negara kepulauan ini.

Kompetisi yang mengusung tema "Asian Company Growth Strategy in a Globally Competitive Environment" merupakan perlombaan dalam pemecahkan kasus bisnis. Sebanyak 32 peserta yang terbagi ke dalam sepuluh tim bertanding dalam ajang tersebut. Mereka datang dari berbagai universitas, baik di Asia maupun Eropa. Menurut Lay Monica Ratna Dewi, salah satu anggota tim UGM, bersama tim, ia harus merumuskan strategi dan taktik yang baik untuk memecahkan masalah yang diberikan.

Ajang ini menuntut peserta untuk mengerjakan kasus dalam waktu yang sangat terbatas, yakni kurang dari 24 jam. Monic bercerita kepada EBNews bahwa kala itu mereka diberi tantangan untuk mengerjakan kasus mengenai robotic vacuum cleaner LG Hombot. Mereka harus memikirkan cara agar LG Hombot berhasil menarik perhatian konsumen agar beralih pada vacuum cleaner robotic sekaligus menjadi produk nomor satu. Tim UGM sendiri telah melakukan serangkaian persiapan sebelum mengikuti lomba. Mereka mencoba mengerjakan sejumlah kasus bisnis sekaligus mempresentasikannya.

Menurut Monic, ajang ini memberikan pengaruh positif yang banyak bagi dirinya. Ia belajar untuk bekerja sama, mendengarkan pendapat orang lain, mengendalikan emosi, mengenal kecenderungan-kecenderungan diri sendiri, serta bekerja di bawah tekanan. Ia juga sangat antusias karena dapat bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa dari belahan dunia lain. "Kesenangan atas kemenangan hanya terasa 1 hari saja, tapi mendapatkan pengalaman dan teman baru jauh lebih berharga dan membahagiakan saat saya merefleksikannya kembali," tuturnya.

Selain itu, mengikuti kompetisi merupakan salah satu cara baginya untuk menyalurkan jiwa kompetitif yang dimiliki. Monic pun tidak mempermasalahkan kesan yang mungkin akan ia terima, yakni sebagai orang yang ingin selalu mencapai hal yang lebih dari orang lain. Namun, menurutnya mengikuti kompetisi juga berarti memiliki harapan untuk belajar menghadapi ketakutan akan kegagalan. Monic berpendapat, "Saya berusaha menanamkan baik-baik dalam diri saya bahwa saya hanya perlu melakukan yang terbaik, biarlah Tuhan menentukan apa yang akan Ia berikan." Ia juga berharap agar rekan-rekan sejawatnya dapat memilih sarana untuk mengembangkan diri, meski tidak melalui jalur yang serupa dengannya. "Jalanilah dengan setia sehingga kita pun dapat memberikan sesuatu yang positif bagi kehidupan orang lain. Know yourself, find yourself, and love yourself," ujarnya.

Sumber: Nadia/FEB