Generasi muda saat ini dihadapkan dengan tantangan baru agar tetap relevan di era attention economy, sebuah era ketika perhatian publik menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. CEO Malaka Project, Ferry Irwandi menekankan bahwa atensi publik memiliki nilai ekonomi yang sangat dipengaruhi oleh narasi yang dibangun.
Ia mencontohkan, praktik pemasaran digital melalui media sosial, di mana produsen tidak lagi sekadar memperkenalkan produk, tetapi juga membangun cerita, eksklusivitas, dan persepsi nilai di benak audiens.
Apakah fenomena ini dapat disebut sebagai manipulasi? Ferry menyampaikan bahwa fenomena tersebut belum tentu dapat dikategorikan sebagai manipulasi.
“Persoalan utama tidak terletak pada atensi itu sendiri, melainkan pada kemampuan individu untuk bersikap rasional dan kritis terhadap narasi yang beredar. Semakin minim dan dangkal pemahaman kita, semakin mudah kita termakan narasi,” ujarnya dalam Young Entrepreneurs Show (YES!) 2025 pada akhir Oktober 2025 lalu.
Ia menjelaskan bahwa mencegah manipulasi dari faktor eksternal adalah hal yang sulit. Oleh karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan memperkuat pengetahuan dan rasionalitas.
“Dengan memahami cost and benefit, mengerti alasan di balik sebuah keputusan, serta tidak bertindak berdasarkan impuls semata akan memperkuat rasionalitas. Orang yang rasional akan jauh lebih sulit tertipu,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu Ferry menyoroti persoalan mismatch skill antara lulusan pendidikan tinggi dan kebutuhan industri. Menanggapi hal ini, Ferry pun berpesan kepada mahasiswa agar fokus membekali diri dengan pengembangan skill set sesuai kebutuhan industri, memperkuat mentalitas, empati, dan kemampuan menerima kegagalan.
“Anak muda memiliki jatah gagal yang besar. Semakin tua seseorang, jatah gagal itu semakin kecil karena tanggung jawab hidup semakin besar. Jadi, belajarlah, bekerjalah, dan bersenang-senanglah,” pesannya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals







