Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menorehkan prestasi cemerlang di kancah internasional. Tim Tycoon berhasil meraih First Prize dalam ajang Global Sustainability Challenge (GSC) tahap Regional Final yang diselenggarakan pada 17–18 Januari di Zhejiang University, Hangzhou, Zhejiang, China.
Global Sustainability Challenge (GSC) merupakan kompetisi tahunan berskala internasional yang mempertemukan mahasiswa di seluruh dunia untuk merancang, menerapkan, dan memamerkan solusi keberlanjutan. Pada tahap regional final, kompetisi ini diikuti oleh 66 tim yang berasal dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.
Tim Tycoon merupakan tim kolaboratif internasional yang terdiri atas Najwa Waqiah Saleh (Manajemen, 2022), Nikita Dinda Azizah (Manajemen, 2022), Gustav Susanto (Manajemen, 2022), dan Satwika Nino Wandhana (Ilmu Komputer, 2023). Kolaborasi ini turut melibatkan dua mahasiswa dari The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), yakni Pranavi Kuntrapakam (Computer Engineering + AI) dan Anuk Ranaweera (Mechanical Engineering).
Dalam kompetisi tersebut, Tim Tycoon menghadirkan inovasi untuk mendukung upaya mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana, khususnya di negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi seperti Indonesia. Gagasan yang ditawarkan berupa aplikasi berbasis mobile yang dikombinasikan dengan pemanfaatan teknologi drone.
Melalui pendekatan tersebut, drone digunakan untuk memetakan kondisi wilayah yang terdampak bencana serta membantu penyaluran kebutuhan darurat seperti makanan, minuman, dan perlengkapan pertolongan pertama. Sementara itu, aplikasi mobile berfungsi sebagai sarana koordinasi dan penyebaran informasi sehingga masyarakat dan relawan dapat terhubung merespons bencana lebih efektif.
Najwa mengungkapkan inovasi tersebut mereka hadirkan melihat tingginya kerentanan Indonesia terhadap bencana alam. Di sisi lain kerentanan akan bencana alam ini belum diimbangi dengan sistem kesiapsiagaan yang memadai.
“Indonesia merupakan salah satu negara yang paling terdampak bencana alam, tetapi kalau kita lihat dari tahun 2004 sampai 2018, bahkan sampai kejadian di Sumatera kemarin, belum terlihat adanya perubahan yang signifikan, baik dari sisi rapid response maupun proactive prevention,” ujar Najwa.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rendahnya kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi perhatian utama tim. Menurutnya, banyak masyarakat yang masih belum memiliki pemahaman dasar mengenai langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi
Rangkaian seleksi kompetisi ini dimulai sejak tahap preliminary pada Oktober, dilanjutkan dengan pengumuman tim yang lolos pada November hingga Desember, serta pengembangan prototipe selama kurang lebih satu bulan. Najwa mengungkapkan bahwa tantangan utama bukan terletak pada pematangan ide, melainkan pada keterbatasan waktu dan sumber daya, mengingat solusi yang dikembangkan mengintegrasikan aplikasi mobile dengan teknologi drone.
Selain tantangan teknis, dinamika kerja tim lintas negara juga menjadi tantangan tersendiri. Seluruh anggota tim harus berkoordinasi secara daring dari berbagai zona waktu tanpa pernah bertemu secara langsung. Kondisi tersebut menuntut komunikasi yang intens serta pembagian peran yang jelas di antara anggota tim.

Meski demikian, kolaborasi internasional tersebut justru memberikan pengalaman berharga bagi tim. Najwa menekankan bahwa pemberian ruang bagi setiap anggota untuk berkontribusi sesuai dengan keahlian masing-masing menjadi kunci keberhasilan kerja tim.
“Kami berusaha memberi space kepada setiap anggota untuk berkarya sesuai dengan expertise mereka, supaya muncul rasa tanggung jawab dan ownership terhadap ide yang kami bawa,” tutur Najwa.
Bagi Najwa, capaian First Prize ini tidak hanya merepresentasikan kemenangan dalam sebuah kompetisi. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi sarana untuk memvalidasi gagasan yang dirancang dari kepedulian pribadi terhadap kondisi dan tantangan yang dihadapi negaranya.
Ia juga mengaku bahwa keikutsertaannya dalam kompetisi internasional ini memberikan pembelajaran penting terkait pengambilan risiko dan pengembangan diri.
“Personal development nya sangat terasa. You have to take the risk if you want to go to places. Alhamdulillah prosesnya dilancarkan dengan dukungan orang tua, keluarga, dan tim,” tuturnya.
Keberhasilan Tim Tycoon tidak lepas dari bimbingan dosen pendamping yaitu Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, FEB UGM, Prof. Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., M.P.U., Ph.D. Ia menilai bahwa solusi yang dipresentasikan tim telah menunjukkan kedalaman analisis dan relevansinya dengan kondisi sekarang.
“Kasus yang diangkat Tim Tycoon merupakan kasus negara berkembang yang memiliki potensi menuju negara maju. Solusi yang disampaikan pun sudah mengaitkan isu keberlanjutan termasuk aspek lingkungan sehingga penyampaian solusi bisnisnya sudah komprehensif,” ujar Prof. Wakhid.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gagasan yang ditawarkan telah berorientasi pada dampak dan manfaat yang luas, meskipun masih memerlukan penguatan pada implementasinya.
“Solusi yang dibangun Tim Tycoon sudah mengacu pada pemberian dampak dan manfaat. Meskipun pada tahap selanjutnya masih memerlukan penguatan pada aspek implementasi atau best practice. Capaian first prize ini menunjukkan kesiapan mahasiswa UGM untuk bersaing di tingkat internasional,” jelasnya.
Reporter: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
