Kemudahan akses layanan keuangan di era digital membuat transaksi kian praktis mulai dari belanja online hingga fitur Paylater yang bisa digunakan hanya dalam hitungan klik. Namun, di balik kenyamanan tersebut, tersembunyi risiko yang dapat menjerat pengguna, terutama generasi muda, jika tidak diimbangi dengan pemahaman dan pengelolaan keuangan yang bijak.
Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi sekaligus Dosen Program Studi Manajemen FEB UGM, I Wayan Nuka Lantara, Ph.D., menyampaikan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 40 persen pengguna Paylater adalah Gen Z. Sementara itu, 56 persen Gen Z menggunakan Paylater untuk kebutuhan konsumsi.
Kondisi ini menunjukan bahwa Gen Z memiliki kecenderungan untuk berbelanja secara impulsif dengan adanya Paylater. Perilaku impulsif ini merujuk pada perilaku konsumsi yang lebih memfokuskan pada kepuasan masa kini dan mengabaikan konsekuensi masa depan.
“Jika dilihat dari sisi behavioral finance, adanya Paylater membuat orang jadi mengambil keputusan yang kurang rasional. Lalu hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh para penyedia Paylater untuk menarik perhatian penggunanya,” paparnya dalam FEB UGM Podcast berjudul “Paylater & Skor Kredit: Kemudahan atau Jebakan Finansial untuk Gen Z?”.
Wayan menjelaskan Paylater menjadi salah satu pilihan yang paling menarik di antara layanan keuangan lainnya. Selain praktis, Paylater juga memberikan syarat yang lebih mudah dan seringkali menawarkan promo yang lebih menggiurkan. Biasanya, Paylater akan memberikan bunga nol persen di bulan pertama dan dapat dicairkan dengan nominal yang kecil. Hal tersebut yang kemudian menciptakan ilusi bagi penggunanya.
“Terkadang, nominal yang terlihat kecil dianggap lebih aman. Padahal, angka tersebut bersifat akumulatif serta bunga yang semakin membengkak di setiap bulannya. Tidak lupa, dengan tenor yang biasanya kurang dari 12 bulan tersebut seringkali menjebak para penggunannya” urainya.
Wayan juga menyinggung dampak serius dari Paylater bagi masa depan seseorang. Ketika seseorang sudah pernah mengajukan Paylater, namanya akan tercantum dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Sama seperti kartu kredit, semua riwayat hutangnya akan tercatat dalam sistem tersebut. Jika terdapat kredit macet dalam pelunasan utang, akan ada konsekuensi jangka panjang yang harus dihadapi.
Konsekuensi pertama adalah akan sulit untuk mengajukan pinjaman di masa depan. Ketika namanya terlanjur tercatat pernah gagal bayar, bank atau lembaga keuangan lainnya akan sulit untuk memberikan kredit karena dinilai tidak kredibel secara finansial. Selain itu, gagal bayar di Paylater juga berdampak pada aspek karier.
“Banyak HR yang melihat credit score sebelum merekrut karyawan. Jika ada catatan buruk, itu akan menjadi pertimbangan bagi rekruiter,” terangnya.

Lebih lanjut, Paylater sejatinya bukanlah sesuatu hal yang sepenuhnya salah. Dalam kondisi tertentu, layanan ini dapat menjadi alternatif yang menjanjikan yang menawarkan likuiditas. Artinya, Paylater dapat menjadi pilihan ketika seseorang memiliki kemampuan membayar tetapi tidak memiliki dana pada saat itu.
“Esensi paylater bukan hal yang tidak wajar karena memaksa membeli sesuatu yang tidak likuid,” ujarnya.
Wayan tidak lupa memberikan tips kepada generasi muda termasuk mahasiswa agar tidak terjebak oleh paylater. Menurutnya penting untuk mengalokasikan uang dengan baik.
“Ada 3 pos keuangan, konsumsi, saving, dan invest. Diatur pola konsumsinya, bedakan kebutuhan dengan keinginan,” tuturnya.
Guna menghindari perilaku pembelian impulsif, Wayan pun membagikan tips yang dapat dilakukan oleh generasi muda. Misalnya, memberi jeda waktu sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian sehingga keputusan yang dihasilkan cenderung akan lebih rasional. Kemudian, terdapat pula aturan bahwa debt to income seseorang jangan sampai melebihi 30% agar pemasukan tersebut dapat terpenuhi untuk kebutuhan pokok.
“Yang paling utama, jangan membayar Paylater denganPaylater supaya tidak terjebak dalam jebakannya,” imbuhnya.
Video program FEB UGM Podcast “Paylater & Skor Kredit: Kemudahan atau Jebakan Finansial untuk Gen Z?”selengkapnya dapat diakses melalui: http://ugm.id/HindariJebakanPaylater
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
