Literasi keuangan menjadi fondasi penting bagi generasi muda dalam menghadapi kompleksitas pasar keuangan global. Hal inilah menjadi topik utama dalam acara yang diselenggarakan oleh Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM bersama dengan Phillip Futures, Kamis (23/4/2026) di Pertamina Tower FEB UGM lantai 6.
Asset allocation & Portfolio Income Strategis Phillip Futures, Andhika Widjojo, S.E., M.SE., CFP., QWP., mengulas keunggulan pasar saham Amerika Serikat dibandingkan pasar global lainnya. Ia menyampaikan bahwa pasar saham AS mencatat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 12,2 persen dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan tersebut melampaui pasar negara maju secara keseluruhan di angka 9,9 persen maupun pasar negara berkembang yang hanya tumbuh 5,26 persen dalam periode yang sama.
Andhika menambahkan bahwa delapan dari sepuluh perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia berasal dari Amerika Serikat dan hampir semuanya sudah akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia, seperti Apple, Google, dan Coca-Cola.
Salah satu poin utama yang disampaikan Andhika adalah pentingnya mengubah cara pandang mahasiswa dalam menilai sebuah instrumen investasi. Menurutnya, kebiasaan masyarakat Indonesia yang hanya melihat imbal hasil (return) tanpa mempertimbangkan risiko merupakan salah satu penyebab banyaknya korban investasi bodong.
“Tidak akan pernah ada investasi yang high return sekaligus low risk. Hal yang bisa kita lakukan adalah manajemen risiko,” tegasnya.
Ia memperkenalkan konsep diversifikasi aset sebagai strategi utama dalam manajemen risiko. Menurutnya, diversifikasi adalah satu-satunya cara untuk menekan unsystematic risk, risiko yang melekat pada perusahaan secara individual. Ia juga menjelaskan konsep empat musim ekonomi sebagai dasar dalam memilih kombinasi aset yang tepat, mulai dari saham, obligasi, hingga komoditas seperti emas.
“Beli dua hingga tiga aset saja yang berbeda jenisnya sudah lebih dari cukup untuk menopang investasi kalian dalam jangka panjang,” kata Andhika.
Strategi dollar cost averaging, membeli saham secara rutin dengan nominal tetap setiap bulan juga direkomendasikan sebagai pendekatan investasi yang terukur bagi investor pemula.
Strategi yang matang tentu perlu ditopang oleh platform yang terpercaya. Fanti Apriliana selaku COO Phillip Futures menjelaskan bagaimana Phillip Futures memastikan investasi di pasar global tetap berpijak pada regulasi yang berlaku di Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa Phillip Futures Indonesia berada di bawah pengawasan tiga regulator sekaligus, yaitu Bappebti, OJK, dan Bank Indonesia, yang masing-masing mengawasi produk berdasarkan aset dasarnya yakni komoditas, efek, dan mata uang.
“Semua order yang datang dari klien harus bisa kami buktikan sampai ke bursa asalnya. Itulah komitmen kami terhadap transparansi,” ujar Fanti.
Ia juga memperkenalkan platform Nova sebagai sarana trading dan investasi yang telah terintegrasi dengan TradingView, menjadikan Philip Futures sebagai broker pertama di Indonesia yang memungkinkan transaksi langsung dari platform tersebut. Selain itu, platform ini dilengkapi fitur Nova AI, sebuah chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dapat membantu pengguna memahami kondisi pasar secara real time.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa sangat antusias mengajukan pertanyaan seputar mekanisme hedging, struktur regulasi lintas negara, hingga strategi Phillip Futures dalam mendorong literasi keuangan di tengah minimnya pemahaman investasi masyarakat Indonesia.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
