Plagiarisme merupakan permasalahan serius yang kerap terjadi dalam dunia akademik, bahkan seringkali tanpa disadari dilakukan oleh penulisnya. Menyadari pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap isu ini, Career and Student Development Unit (CSDU) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menyelenggarakan sesi Mandatory Soft Skills: Antiplagiarism pada Jumat, 24 April 2026 di FEB UGM.
Dosen Prodi Manajemen, Naya Hapsari, S.E., M.Sc., Ph.D., menguraikan sejumlah faktor yang kerap menjadi penyebab plagiarisme. Faktor-faktor tersebut meliputi keterbatasan kemampuan menulis, kesulitan mengevaluasi sumber dari internet, serta kebingungan dalam melakukan sitasi dan referensi. Selain itu, tekanan waktu dan budaya lingkungan yang tidak aware terhadap isu plagiarisme turut menjadi pemicu dan penting untuk diwaspadai.
Naya menekankan pentingnya memandang penulisan sebagai sebuah proses, bukan tugas yang bisa diselesaikan dalam satu langkah. Proses tersebut terdiri dari tiga tahapan, yakni plan dengan merencanakan dan mengorganisasi ide, draft yaitu menuangkan ide secara bertahap, dan revise yakni memperbaiki tulisan secara berkelanjutan. Dengan melakukan tiga tahapan ini, mahasiswa dinilai mampu menghasilkan tulisan yang baik dan mengurangi risiko plagiarisme.
Terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI), Naya tidak melarang mahasiswa untuk memanfaatkannya, namun dengan catatan penting.
“AI itu adalah alat, bukan penulis. Manfaatkanlah untuk brainstorming dan mengorganisasi ide, bukan untuk menyalin hasilnya secara langsung,” tegasnya.
Untuk menghindari plagiarisme, Naya memperkenalkan tiga strategi utama, yaitu kutipan langsung, parafrase, dan sintesis. Penguasaan ketiga strategi ini dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya terhindar dari plagiarisme, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan ilmiah yang mencerminkan pemahaman dan pemikiran mereka sendiri.
“Semakin Anda bisa menggunakan parafrase dan sintesis dengan baik, semakin terlihat bahwa Anda benar-benar memahami topik yang diteliti dan mampu mengolah ide orang lain menjadi kontribusi pemikiran Anda sendiri,” ungkap Naya.
Naya turut mengingatkan bahwa konsekuensi plagiarisme sangat fatal dan berdampak jangka panjang. Dalam lingkup akademik, sanksi yang dapat dijatuhkan mulai dari kegagalan mata kuliah, pembatalan nilai, hingga pemberhentian tidak hormat. Bahkan, gelar akademik pun dapat dibatalkan apabila kemudian hari ditemukan unsur plagiarisme dalam karya ilmiah yang pernah diterbitkan meskipun kejadiannya sudah bertahun-tahun.
“Integritas adalah fondasi utama. Jangan sampai integritas terganggu karena kesalahan yang bahkan tidak disengaja,” pesannya.
Hal ini sejalan dengan nilai-nilai FEB UGM yang menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme dalam setiap aktivitas akademik. Naya berharap mahasiswa FEB UGM semakin sadar dan mampu menerapkan prinsip penulisan akademik yang berintegritas, baik dalam tugas perkuliahan sehari-hari maupun dalam pengerjaan skripsi dan karya ilmiah lainnya di masa mendatang.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
