Merchandise kampus sering kali identik dengan desain formal dan hanya digunakan pada acara tertentu. Berangkat dari keresahan tersebut, TUKU TUKU lahir sebagai creative brand di bawah naungan Departemen Ekonomi Kreatif BEM FEB UGM. Tidak hanya sekadar menjadi merchandise kampus, TUKU TUKU hadir sebagai clothing brand yang menggabungkan identitas FEB UGM desan desain yang modern, estetik, dan sesuai dengan gaya hidup mahasiswa.
M. Dhafa Zhivandra, Wakil Ketua Departemen Ekonomi Kreatif BEM FEB UGM mengungkapkan bahwa ide TUKU TUKU muncul dari kebutuhan mahasiswa akan produk yang lebih fungsional. Dengan kondisi tersebut, lahirkan TUKU TUKU yang mampu memberikan nilai lebih melalui konsep dan cerita di balik setiap produknya.
“Mahasiswa itu butuhnya sebenarnya pakaian yang memang bisa dipakai sehari-hari dan fungsional,” terangnya dalam program FEB Berkarya: Dari Proker Jadi Creative Brand.
Dalam proses pengembangannya, TUKU TUKU menerapkan pendekatan praktis bisnis secara profesional. Sebelum meluncurkan koleksi terbaru, tim melakukan riset kepada target pasar yakni mahasiswa FEB UGM melalui survei untuk mengetahui tren, preferensi warna, hingga jenis produk yang sedang diminati.
Sementara untuk proses pemasarannya, TUKU TUKU mengandalkan kombinasi antara strategi promosi online dan offline. TUKU TUKU memanfaatkan sosial media seperti Instagram sebagai katalog untuk menampilkan konsep visual setiap koleksi. Lalu menggunakan platform, TikTok sebagai sarana promosi dengan menampilkan produk dalam bentuk konten yang lebih dekat dengan keseharian mahasiswa. Selain itu, secara offline, TUKU TUKU juga rutin mengadakan showcase produk di area kampus agar mahasiswa dapat melihat dan merasakan langsung kualitas produknya.
Meski demikian, Dhafa mengaku bahwa menjalankan brand di bawah organisasi mahasiswa tentu bukan tanpa tantangan. Dari sisi internal, tim harus menyesuaikan pekerjaan dengan kesibukan akademik masing-masing. Sementara, di sisi elternal, menjaga kualitas produk dan melakukan koordinasi dengan vendor menjadi perhatian utama agar hasil akhir tetap seusai dengan konsep yang telah dirancang.
“Semua produk yang dihasilkan oleh TUKU TUKU harus melalui quality check dulu sehingga kualitasnya dapat terjamin untuk mahasiswa,” jelasnya.
Lebih dari sekadar berjualan merchandise kampus, TUKU TUKU memiliki tujuan yang lebih besar, yakni membangun identitas FEB UGM sekaligus menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa yang tertarik di bidang bisnis kreatif. Melalui keterlibatan langsung dalam proses desain, pemasaran, produksi, hingga pengelolaan keuangan, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman secara praktis tidak hanya melalui pembelajaran di kelas.
“Kita memberikan kesempatan untuk teman-teman mengelola dan membangun brand-nya sendiri melalui TUKU TUKU ini,” tambahnya.
Bagi Dhafa, perjalanan TUKU TUKU sebagai brand eksis di kalangan mahasiswa FEB UGM ini memberikan pelajaran terkait keberanian untuk memulai dan mencoba. Adanya TUKU TUKU membuktikan bahwa karya mahasiswa dapat berkembang menjadi brand yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan pasar, tetapi juga mampu merepresentasikan identitas komunitasnya sendiri.
Video selengkapnya FEB Berkarya: Dari Proker Jadi Creative Brand dapat diakses melalui: http://ugm.id/TukuTuku
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
