Aroma masakan yang mulai mengepul sejak pukul dua dini hari menjadi penanda dimulainya hari bagi keluarga Muhammad Fathan Khairul Muna R (17). Saat sebagian besar orang masih terlelap, ibunya sudah sibuk menyiapkan berbagai menu dagangan. Menjelang matahari terbit, Fathan menjalankan perannya. Ia membantu mengantarkan sang ibu beserta dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru, tempat ibunya mencari nafkah sekaligus sekolahnya, sebelum kemudian mengenakan seragam dan menjalani hari sebagai siswa seperti remaja lainnya.
Rutinitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan Fathan sejak ayahnya meninggal dunia pada November 2024. Kepergian sang ayah meninggalkan duka mendalam sekaligus mengubah banyak hal dalam keluarga kecil mereka. Sang ibu, Rida Rahayu, kini menjadi tulang punggung keluarga, melanjutkan perjuangan melalui usaha kuliner yang telah lama dirintis.
Bersama ibu dan kakaknya, Fathan menapaki hari demi hari sambil terus memperjuangkan mimpinya untuk berkuliah di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Momen yang paling dinantikannya tiba ketika hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 diumumkan. Namun, alih-alih langsung membuka hasilnya, Fathan memilih untuk menunggu bersama ibu dan kakak perempuannya. Ketiganya diliputi rasa cemas sekaligus harapan. Belum sempat membuka laman pengumuman, ucapan selamat dari guru dan teman-temannya sudah membanjiri notifikasi di ponselnya.
Tangis haru pun pecah dari wajahnya sesaat ketika melihat tanda biru di laman web. Ia pun langsung memeluk ibunya dan kakaknya. Kebahagiaan semakin terasa lengkap ketika beberapa hari kemudian ia dinyatakan memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen dari UGM
“Dengan diberi kemudahan seperti ini, berarti Allah sudah mengizinkan dan menyetujui saya untuk bertanggung jawab atas pilihan saya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” ungkapnya penuh tekad.
Prioritaskan Pendidikan
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita perjuangan panjang sang ibu, Rida Rahyau, lulusan Sarjana Pendidikan Tata Boga, yang telah lama menghidupi keluarga melalui berbagai usaha kuliner. Mulai dari menerima pesanan katering mahasiswa, membuka usaha rumahan, hingga berjualan di kantin sekolah.

Kepergian sang ayah yang cukup mendadak setelah berjuang melawan stroke ringan dan diabetes menjadi pukulan berat bagi keluarganya. Sejak saat itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin sekolah dan pensiun setelah suaminya meninggal. Namun di tengah keterbatasan tersebut, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga mereka.
“Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan.
Ketertarikan Fathan terhadap bidang ekonomi, khususnya keuangan, telah tumbuh sejak lama. Semasa SMP, ia aktif mengikuti kompetisi akademik seperti olimpiade ekonomi yang membuatnya mulai menyukai bidang ekonomi dan berkembang ketika mempelajarinya di SMA.
“Saya menyadari bahwa bidang ekonomi, terutama akuntansi, berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, saya menyukai hal-hal yang bersifat terstruktur dan pasti sehingga terbersit di benak saya untuk memilih program studi akuntansi,” jawabnya.
Belajar dari Kegagalan
Persiapannya menuju kampus impian dimulai sejak Fathan masuk SMA. Ia menjaga konsistensi nilai akademik karena sekolah menerapkan penilaian prestasi akademik sejak semester awal hingga semester kelima. Ia memberikan perhatian khusus pada mata pelajaran ekonomi saat memasuki peminatan untuk mendukung impiannya masuk ke Program Studi Akuntansi.
Di balik prestasinya, Fathan didukung oleh lingkungan yang aktif mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling berkesan baginya adalah Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia, dan ia berhasil meraih Juara II tingkat Sumatera. Bahkan di kelas XII, Fathan juga menerima Beasiswa 4698 yang diberikan oleh para alumni sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa pendidikan di SMA.
Ia mengaku sempat kecewa saat mengalami berbagai kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk terus berani mengikuti berbagai perlombaan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Baginya, setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses yang diyakininya sebagai cara Tuhan mempersiapkan kesempatan yang lebih baik di masa depan.

“Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya.
Fathan mengaku pernah merasa minder dan tertinggal dibandingkan teman-temannya yang terlihat lebih unggul. Kutipan dari Pangeran Diponegoro yang tiba-tiba muncul saat dirinya sedang bermain media sosial sangat membekas dalam hidupnya.
“Kita tidak boleh puas dengan apa yang sudah kita pelajari. Semakin semangat kita belajar, semakin terbuka pikiran kita, dan semkain jernih pula hari kita. Jadi sampai sekarang pun saya selalu belajar, belajar, belajar dengan kita ketemu hal yang baru, dan itu suatu hal yang menyenangkan,” ungkapnya.
Membawa Mimpi Menuju Yogyakarta
Memulai kehidupan baru di Yogyakarta tentu membuat Fathan merasa gugup. Untuk pertama kalinya ia harus tinggal jauh dari keluarga. Meski demikian, pengalaman mengikuti berbagai kompetisi di luar daerah membuatnya lebih siap beradaptasi sebagai perantau. Keluarga juga telah membekalinya dengan berbagai keterampilan untuk hidup mandiri.
Dua orang yang paling berperan dalam perjalanan Fathan adalah ibunya dan kakak perempuannya. Ibunya selalu meyakinkannya bahwa tidak ada mimpi yang mustahil dicapai selama ia mau berusaha. Sementara itu, kakaknya menjadi sosok yang selalu memberikan dukungan moral maupun finansial selama Fathan menjalani studinya.
Kini, Fathan bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama seseorang mau terus berusaha.
“Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya.
Menjelang kehidupan baru sebagai mahasiswa perantauan, sang ibu berpesan agar anaknya bisa menjadi pribadi yang sukses dan menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
“Kalau umur saya panjang, saya ingin melihat Fathan menjadi anak yang berhasil dan tetap perhatian kepada bundanya. Saya tidak mengharapkan apa-apa, cukup melihat anak saya menjadi orang baik dan bahagia,” harapnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
