Akuntansi tidak lagi cukup dipahami sebagai sistem pencatatan keuangan atau sekadar disiplin ilmu sosial. Di era digital, akuntansi perlu dipandang sebagai teknologi informasi keuangan yang terus berevolusi untuk menjawab tantangan zaman sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih cerdas, transparan, dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Sony Warsono, MAFIS, Ph.D., CA., Ak., saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) di Balai Senat UGM, Kamis (6/8/2026). Dalam pidato berjudul Pengembangan Akuntansi sebagai Ilmu Transdisiplin di Era Digital: Prinsip Dualitas, Sony menjelaskan bahwa perjalanan panjang ilmu akuntansi sejak era Renaisans menunjukkan bahwa disiplin akuntansi dapat dimaknai sebagai teknologi intelektual yang terus berevolusi namun tetap berpijak pada akar yang sama.
Melalui pendekatan interdisipliner, kita menyadari bahwa penguasaan pengetahuan debit dan kredit bukanlah beban teknis yang kaku, melainkan kompetensi inti yang memungkinkan prinsip dualitas bekerja secara sistematis dalam menjaga keseimbangan informasi keuangan,” paparnya, Kamis (6/8).

Ia menuturkan bahwa pengakuan akuntansi sebagai bagian dari bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) semakin menegaskan bahwa di balik setiap angka dalam laporan keuangan terdapat logika matematika, struktur data, dan proses berpikir yang presisi. Oleh karena itu, pembelajaran akuntansi perlu melampaui pendekatan konvensional dengan mengintegrasikan perspektif teknologi, ilmu sosial, dan kemanusiaan.
“Pengintegrasian ini membawa pada sebuah perspektif baru, yakni perlunya mulai memandang akuntansi itu sendiri sebagai sebuah teknologi informasi keuangan,” ucapnya.
Sony menjelaskan sejarah perkembangan pencatatan akuntansi memperlihatkan bagaimana ilmu ini selalu beradaptasi terhadap perubahan. Sistem pencatatan tunggal (single-entry bookkeeping) berkembang menjadi sistem pencatatan berpasangan (double-entry bookkeeping) yang menjadi fondasi akuntansi modern. Kini, perkembangan teknologi digital mendorong lahirnya konsep triple-entry accounting, yaitu sistem pencatatan yang memanfaatkan teknologi blockchain sehingga transaksi tidak hanya tercatat pada dua pihak yang bertransaksi, tetapi juga tersimpan secara permanen dalam jaringan digital yang aman, transparan, dan mustahil dimanipulasi.

Transformasi tersebut, lanjutnya, membuka perspektif baru bahwa akuntansi tidak lagi terjebak dalam perdebatan apakah termasuk ilmu sosial atau ilmu sains. Sebaliknya, akuntansi perlu diposisikan sebagai teknologi informasi keuangan yang mengintegrasikan ketepatan ilmiah dengan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan akuntansi diarahkan untuk menghasilkan keputusan bisnis yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dengan memperlakukan akuntansi sebagai teknologi, pembelajar akuntansi tidak lagi terjebak dalam ego polarisasi “ilmu sosial vs ilmu sains,” melainkan fokus pada bagaimana mengembangkan akuntansi demi menciptakan keputusan bisnis yang cerdas, ilmiah, sekaligus transparan secara sosial,” urainya.

Sony juga menekankan bahwa pengakuan akuntansi sebagai ilmu sosial tidak boleh menghilangkan esensinya sebagai sistem pengukuran yang presisi. Pendekatan yang memperhatikan aspek kemanusiaan dan sosial justru perlu diperkuat melalui penguasaan konsep-konsep fundamental, terutama pengetahuan mengenai debit dan kredit.
Ia menjelaskan bahwa sebagaimana teknologi digital dibangun di atas sistem biner yang kemudian diperkaya dengan seni dan ilmu sosial untuk menghasilkan berbagai inovasi, akuntansi pun harus berkembang dengan prinsip yang sama. Ketepatan teknis perlu dipadukan dengan perspektif lintas disiplin agar mampu melahirkan sistem informasi keuangan yang tidak hanya akurat secara matematis, tetapi juga relevan bagi kemajuan peradaban manusia.
Menutup pidatonya, Sony mengingatkan bahwa masa depan pendidikan akuntansi akan menghadapi tantangan besar apabila masih mempertahankan cara pandang konvensional. Menurutnya, akademisi perlu menempatkan kembali kompetensi teknis sebagai motor inovasi. Selain itu, akademisi perlu mengembangkan konsep debit dan kredit bukan sekadar sebagai warisan intelektual, melainkan sebagai algoritma dinamis yang menjadi fondasi teknologi informasi keuangan masa depan melalui riset dan pembelajaran yang progresif.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
