Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama Hiroshima University of Economics (HUE) kembali memperkuat hubungan antara mahasiswa Indonesia dan Jepang melalui pelaksanaan Indonesia International Contribution Project (IICP) 2026. Program ini menjadi wadah mahasiswa untuk belajar secara langsung sekaligus mengembangkan kolaborasi yang berfokus pada kontribusi bagi masyarakat.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menyampaikan harapan kolaborasi yang sudah terbangun dapat menjadi pengalaman untuk mempererat kerja sama. Ia berharap para mahasiswa selama mengikuti program ini bisa memperoleh pengalaman baru.
Sementara itu, Dr. Takahiro Yamate selaku dosen pembimbing mahasiswa HUE menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan akan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berpikir secara mandiri, bertindak secara bertanggung jawab, serta memahami persoalan masyarakat. Melalui program ini mahasiswa dari HUE diharapkan dapat mengenal dan belajar budaya Indonesia sekaligus membangun kolaborasi dengan mahasiswa FEB UGM.
Pada pelaksanaan IICP 2026 yang berlangsung pada 4-15 September 2026 mahasiswa HUE terlibat dalam sejumlah kegiatan dan salah satu fokus kegiatan adalah pelestarian tenun lurik. Mahasiswa tidak hanya mempelajari proses dan nilai budaya di balik tenun lurik, tetapi juga berupaya mengenalkan pentingnya pelestarian tradisi tersebut kepada generasi muda melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk LAWE, yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan perempuan dan pengembangan produk tekstil. Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa belajar bagaimana tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap mempertahankan identitas budaya.
Dalam acara pembukaan IICP, para mahasiswa juga mengikuti berbagai aktivitas pertukaran budaya. Mahasiswa HUE memperkenalkan budaya Jepang melalui permainan kendama dan origami kepada mahasiswa FEB UGM. Sebaliknya, mereka juga berkesempatan mengenal makanan Indonesia yaitu ikan asap dan mencoba membuat onigiri bersama.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian yang berkesan bagi mahasiswa HUE. Salah satu mahasiswa HUE, Harry William Winfield Fifth, menyampaikan bahwa interaksi langsung antara mahasiswa Jepang dan Indonesia memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus penting untuk memahami budaya satu sama lain.
“Bagian yang menarik dari pengalaman ini adalah mengamati adanya perbedaan budaya dan cara berinteraksi dari dua negara. Saya melihat hal ini sebagai kesempatan untuk terlibat lebih dekat dalam kehidupan masyarakat dan memahami bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi secara langsung,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan IICP 2026 juga menghasilkan sejumlah tindak lanjut yang diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kontribusi mahasiswa setelah program berakhir. Dalam presentasi penutupan, mahasiswa HUE memaparkan kegiatan yang telah dilakukan, mulai dari pengembangan dan penjualan produk, negosiasi dengan perusahaan, kegiatan pembelajaran di sekolah dasar, hingga penelitian mengenai kondisi desa.
William mengatakan bahwa keterlibatan dalam proses produksi membuatnya menyadari bahwa kain yang ditemui sehari-hari tidak hanya bernilai sebagai produk, tetapi juga memuat keterampilan pengrajin yang telah diwariskan selama beberapa generasi. Ia memandang interaksi langsung dengan masyarakat setempat saat mempelajari tenun lurik mengajarkan pentingnya menghubungkan tradisi dengan kehidupan modern dan generasi muda.
“Melalui pengalaman saya sebagai pemimpin IICP, saya belajar bahwa tidak hanya penting untuk mempelajari tenun lurik, tetapi juga memberikan nilai dan daya tariknya kepada orang lain serta memikirkan cara agar tradisi tersebut terus berlanjut di masa depan,” tuturnya.
Salah satu hasil yang dicapai terlihat dari kegiatan penjualan produk. Selama dua hari, mahasiswa berhasil menjual produk hingga 3,5 kali lipat dari target awal. Hasil tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menghubungkan produk kerajinan dengan pasar yang lebih luas.
Selain kegiatan penjualan, mahasiswa juga menyusun katalog produk yang memuat informasi mengenai produk, ukuran, harga, dan lainnya. Katalog tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan mengenali produk dengan lebih baik sekaligus menjadi dasar untuk mengembangkan peluang kerja sama dan pemesanan pada kegiatan berikutnya.
Di tingkat masyarakat, mahasiswa memperoleh kesepakatan bahwa pemberian produk tenun kepada siswa dapat dilanjutkan sebagai salah satu kegiatan desa. Mulai tahun berikutnya, kegiatan tersebut direncanakan untuk dilaksanakan secara rutin di delapan sekolah dasar yang berada di Desa Sumberarum.
Keberlanjutan kegiatan tersebut menjadi salah satu hasil penting dalam upaya mengenalkan tenun kepada generasi muda. Dengan adanya tindak lanjut dari masyarakat, kegiatan yang telah dirintis melalui IICP diharapkan dapat terus berjalan setelah mahasiswa HUE menyelesaikan program di Indonesia.
William turut menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa dan dosen UGM serta berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan program. Ia menilai pengalaman selama berada di Yogyakarta memperkuat hubungan antara mahasiswa Jepang dan Indonesia. Harapannya, antara mahasiswa HUE dan mahasiswa UGM dapat terus berdiskusi dalam upaya promosi dan pelestarian tenun lurik.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, IICP 2026 tidak hanya menjadi program pertukaran budaya, tetapi juga ruang pembelajaran kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. Pengalaman bekerja bersama masyarakat diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan antara UGM dan HUE.
Reportase: Shofi Hawa Anjani dan Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
