Nilai diri menjadi bekal utama yang harus dimiliki mahasiswa sebelum mengejar prestasi akademik maupun jejaring sosial. Hal ini disampaikan Vice President Corporate Banking Solution PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Irma Shantia Dewi, dalam sesi Inspiring Person yang merupakan rangkaian Pionir Simfoni 2026 pada Rabu (5/8/2026) di Plaza FEB UGM.
Irma merupakan alumni manajemen FEB UGM angkatan 1997. Selama berkarier di Bank Mandiri, ia telah memimpin sejumlah proyek, antara lain Mandiri Tax Amnesty program, ditunjuk sebagai tim Qualified ASEAN Bank, serta memimpin inisiasi dan kolaborasi lintas anak perusahaan. Selain berkarier di Bank Mandiri, dirinya tercatat sebagai mentor yang membimbing lulusan muda FEB UGM untuk berkarier di dunia kerja.
Dalam sesi tersebut, Irma mengawali dengan mengenang perjalanannya memilih FEB UGM sekitar tiga puluh tahun lalu. Ia bercerita bahwa cita-citanya semula adalah menjadi diplomat, namun sang ayah menyarankan agar ia terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu ekonomi dan hukum sebagai dasar memahami suatu negara.
“Sebagai diplomat, kita perlu memahami kondisi suatu negara, termasuk sisi ekonomi dan hukumnya. Itu sebabnya saya diarahkan untuk mengambil ekonomi terlebih dahulu,” kenangnya.
Ia juga membagikan pengalaman mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi hanya dalam waktu tiga hari tanpa tidur. Baginya, perjuangan tersebut mengajarkan pentingnya disiplin dan manajemen waktu, terutama saat memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian penuh, berbeda dengan masa sekolah menengah yang jadwalnya sudah terstruktur.
“Ketika masuk kuliah, semua harus diatur sendiri. Jika tidak disiplin menjaga waktu, kita akan kehilangan momen yang seharusnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Masa awal perkuliahan juga menjadi momen yang membekas bagi Irma, ketika ia sempat merasa minder karena melihat lingkungan sekitarnya dipenuhi mahasiswa yang dinilai lebih menonjol. Namun, ia menekankan bahwa perasaan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang, karena setiap individu memiliki kelebihan masing-masing yang belum tentu dimiliki orang lain.
“Jangan pernah merasa diri kita kurang dibandingkan orang lain. Bersikaplah adaptif, buka pikiran, dan mulai perhatikan lingkungan sekitar,” pesannya.
Menyinggung kebutuhan keterampilan di dunia kerja saat ini, Irma menyebutkan sejumlah kemampuan yang menjadi perhatian utama, yaitu berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kepemimpinan. Menurutnya, keterampilan tersebut perlu diasah sejak masa perkuliahan melalui keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan tanpa mengabaikan capaian akademik.
Lebih lanjut, integritas, disiplin, kapasitas diri, serta konsistensi dalam beradaptasi disebutnya sebagai fondasi utama yang menentukan kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja. Lingkungan yang positif juga disebutnya sebagai faktor penting yang memengaruhi perkembangan diri seseorang.
“Lingkungan yang baik akan membuat kita ingin terus menjadi lebih baik. Itulah lingkungan yang perlu kita jaga,” katanya.
Hal tersebut, menurut Irma juga berkaitan erat dengan jejaring yang dibangun seseorang. Soal jejaring dan kompetensi, ia menyampaikan bahwa keduanya sama pentingnya, tetapi nilai diri tetap menjadi hal yang paling utama.
“Perbanyak jejaring itu penting, tetapi perkuat terlebih dahulu nilai yang ada pada diri kita. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penonton dan tidak akan menjadi bagian dari koneksi tersebut,” jelasnya.
Di akhir sesi, Irma mengajak para mahasiswa baru untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di FEB UGM, baik melalui organisasi maupun kegiatan lainnya, guna memberikan dampak positif dan menunjukkan nilai diri masing-masing.
“Keberadaan kalian di mana pun kalian berada kelak akan menjadi warisan bagi tempat yang kalian tinggalkan,” pungkasnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
