Apa yang membuat seseorang lebih mudah diingat dibandingkan kandidat lain dengan kualifikasi serupa? Salah satunya adalah personal branding, yakni cara seseorang menunjukkan keunikan, kompetensi, dan nilai dirinya kepada orang lain. Bagi mahasiswa, membangun personal branding sejak kuliah dapat menjadi langkah awal untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Hal tersebut disampaikan oleh Maya Septriana, Career Consultant sekaligus Chief Program Officer, GIK UGM dalam sesi Mandatory Softskill: Personal Branding pada Jumat (23/10). Melalui sesi ini, Maya mengajak para mahasiswa untuk memahami personal branding sekaligus mengenali keunikan serta potensi diri.
“Personal branding adalah bagaimana orang lain mengalami dan mengenali diri seseorang, bagaimana ia menunjukkan nilai unik yang dimiliki kepada dunia melalui cara berkomunikasi, bertindak, dan menampilkan diri,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa personal branding bukanlah sekadar membangun citra atau menampilkan sosok yang berbeda dari diri sebenarnya. Personal branding dibangun dengan konsistensi melalui bagaimana seseorang berinteraksi dan menunjukkan nilai yang dimiliki.
“Kalian sendiri sudah menjadi sebuah brand. Tinggal bagaimana kalian membentuknya secara sadar atau membiarkannya terbentuk begitu saja,” tambahnya.
Menurut Maya, kesan terhadap seseorang dapat terbentuk dari berbagai hal sederhana, mulai dari hasil pencarian nama di Google, profil LinkedIn, hingga cara menulis surel. Hal-hal tersebut dapat memengaruhi bagaimana orang lain menilai profesionalisme, kompetensi, dan karakter seseorang.
Karena itu, Maya menekanakan mahasiswa perlu mengambil peran aktif dalam membangun reputasi diri. Personal branding yang kuat dapat membantu seseorang menonjol di antara kandidat lain, meningkatkan kepercayaan terhadap kompetensinya, serta membuka peluang yang lebih luas dalam perjalanan karier.
Sebelum menentukan ingin dikenal seperti apa oleh orang lain, Maya menekankan untuk mengenali diri sendiri dengan mengenalkan konsep Ikigai. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak untuk mengidentifikasi apa yang mereka cintai (what do you love?), apa yang mereka kuasai (what are you good at?), apa yang dibutuhkan dunia (what does the world need?), dan kemampuan apa yang dapat memberikan nilai ekonomi (what can you be paid for?).
“Keempat aspek tersebut dapat membantu seseorang menemukan tujuan yang jelas di balik apa yang ia lakukan. Tujuan tersebut memberikan arah dalam membangun personal brand termasuk menentukan pilihan dan perjalanan karier,” ujarnya.
Maya juga mengingatkan bahwa perjalanan karier setiap orang tidak selalu berjalan dengan cara yang sama. Perbedaan pengalaman, titik awal, hingga tantangan yang dihadapi merupakan bagian dari proses bertumbuh.
“Hal yang paling penting adalah memiliki growth mindset dan resiliensi untuk terus belajar dari pengalaman. Alih-alih berhenti ketika menghadapi penolakan, kalian perlu mengevaluasi apa yang dapat dipelajari dan diperbaiki untuk kesempatan berikutnya,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
