Pendidikan akuntansi tidak hanya berperan memberikan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan praktis untuk kebutuhan dunia industri. Namun, kesenjangan antara pembelajaran di institusi pendidikan dan praktik akuntansi di dunia kerja masih menjadi tantangan. Di tengah perkembangan digitalisasi akuntansi, inovasi pembelajaran berbasis teknologi menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan tersebut.
Dalam program FEB UGM Podcast bertajuk AI untuk Keberlanjutan: Dari Dampak menuju Transformasi Institusional, dosen Departemen Akuntansi FEB UGM, Arika Artiningsih, S.E., M.Acc., M.Com., M.Res., Ph.D., CFE., CFrA., CPA (Aust.), menjelaskan pengembangan SIDEK Edu sebagai platform pembelajaran akuntansi digital. Inovasi ini dikembangkan untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan akuntansi dan kebutuhan industri.
Menurut Arika, pengembangan SIDEK Edu berawal dari keprihatinan terhadap kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan akuntansi dan kebutuhan dunia kerja. Inisiatif yang digagas oleh Prof. Sony Warsono dari Departemen Akuntansi FEB UGM telah dikembangkan selama kurang lebih delapan tahun.
“Ini diawali oleh sebuah bentuk keprihatinan terhadap pendidikan akuntansi, terutama karena adanya gap antara apa yang dibutuhkan oleh industri dan luaran dari pendidikan akuntansi,” jelasnya.
Kesenjangan tersebut tidak hanya menjadi tantangan bagi pendidikan vokasi, tetapi juga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sementara itu, dunia industri semakin mengandalkan sistem digital, termasuk Enterprise Resource Planning (ERP) dalam pengelolaan proses bisnis dan akuntansi. Kondisi ini mendorong metode pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga memberikan pengalaman praktik dalam kebutuhan dunia kerja.
Berdasarkan tantangan tersebut, SIDEK Edu dirancang dengan mengintegrasikan dua ruang pembelajaran, yaitu ruang teori dan ruang praktik. Ruang teori membantu siswa memahami konsep akuntansi, sedangkan ruang praktik memfasilitasi proses pembelajaran melalui satu siklus akuntansi secara terintegrasi.
Dalam pengembangannya, terdapat tantangan besar yang terletak pada keberlanjutan inovasi. Perubahan kebutuhan pengguna, perkembangan kasus akuntansi, serta dinamika dunia pendidikan menuntut SIDEK Edu untuk terus diperbarui agar tetap relevan.
“Pengembangan teknologi itu sendiri akan butuh waktu sekitar satu atau dua tahun, tetapi yang lebih sulit itu adalah bagaimana mempertahankan teknologi ini terus relevan, terus digunakan oleh pengguna secara kontinu, dan bisa menjawab kebutuhan dari pengguna tersebut,” tuturnya.
Dalam konteks ini, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Harapannya universitas atau dosen, saat dia melakukan research, itu tidak hanya berhenti pada sebuah publikasi ilmiah, tapi bisa dibawa lebih lanjut lagi untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Saya kira inilah bagaimana sebuah inovasi kemudian dapat menciptakan dampak sosial,” jelasnya.

Hingga saat ini, SIDEK Edu telah memiliki sekitar 10.000 pengguna, dengan kurang lebih 3.000 pengguna aktif dalam tiga tahun terakhir. Pemanfaatannya tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, Sumatera, dan Papua. Salah satu contohnya adalah kolaborasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, yang memperoleh dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan pendidikan.
Seiring perkembangan teknologi, integrasi kecerdasan buatan menjadi salah satu peluang pengembangan SIDEK Edu. Arika menjelaskan bahwa SIDEK Edu saat ini belum menggunakan AI dalam sistemnya. Namun, pengembangan fitur analisis laporan keuangan tengah dilakukan dan membuka peluang untuk mengintegrasikan teknologi tersebut di masa depan.
AI berpotensi membantu pengguna menginterpretasikan laporan keuangan dan rasio keuangan, sekaligus mempermudah guru dalam menyusun soal dan studi kasus pembelajaran. Bagi siswa, teknologi ini juga dapat berfungsi sebagai pendamping dalam memahami hasil analisis keuangan.
Keseimbangan antara bantuan teknologi dan pembelajaran mandiri juga menjadi perhatian penting. Pengembangan platform pembelajaran berbasis AI perlu memastikan bahwa kemudahan yang ditawarkan tidak mengurangi kesempatan siswa untuk membangun pemahaman dan kemampuan analitis secara mandiri.
Berdasarkan pengalamannya mengembangkan SIDEK Edu, Arika menekankan bahwa inovasi yang berdampak sosial tidak harus dimulai dari keinginan menciptakan teknologi tertentu. Sebaliknya, proses inovasi perlu berangkat dari identifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat yang kemudian memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menghasilkan solusi.
“Pertanyaannya bukan teknologi AI apa yang sedang populer, tapi lebih ke masalah apa yang benar-benar dihadapi oleh pengguna dan kemudian bagaimana AI dapat membantu menyelesaikannya,” ungkapnya.
Pengalaman pengembangan SIDEK Edu menunjukkan bahwa inovasi pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Keberlanjutan penggunaan, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, evaluasi dampak, serta perhatian terhadap kebutuhan pengguna merupakan bagian penting untuk memastikan inovasi memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Saksikan selengkapnya dalam program Podcast AI for Sustainability bertajuk Podcast AI for Sustainability “Transformasi Digital Akuntansi: Tantangan dan Peluang AI di Dunia Pendidikan” .
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
