Lucia Karina, salah satu anggota Faculty Advisory Board (FAB) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), meraih penghargaan SDG Pioneer 2024 dari United Nations (UN) Global Impact. Ia menjadi satu-satunya penerima penghargaan dari Indonesia dan salah satu dari dua perwakilan Asia Pasifik.
Dorong Ekonomi Sirkular
Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan kontribusi Karina dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Direktur Public Affairs, Communication, and Sustainability di Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui inisiatif ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah.
Karina, begitu biasa dia disapa, bersama komunitas yang melibatkan ribuan waste worker atau disebut sebagai Punaryoddha, menginisiasi program WASH+ untuk penyediaan air bersih dan kelestarian air, hingga memberdayakan UMKM di sepanjang rantai pasok. Upaya tersebut dilakukan sembari memastikan kegiatan operasional bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Penghargaan ini adalah buah dari kerja keras, dedikasi, dan semangat kolaborasi seluruh insan CCEP Indonesia serta para mitra kami dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam bisnis kami. Ini adalah validasi bahwa upaya konsisten kami untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” paparnya melalui wawancara secara daring.
Bisnis Sebagai Kekuatan untuk Kebaikan
Karina menyampaikan bahwa penghargaan ini memperkuat keyakinannya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Dengan mengintegrasikan tujuan prosperity, people, dan planet secara seimbang, berlandaskan partnership dan peace, masyarakat dapat menciptakan nilai luar biasa bagi seluruh pemangku kepentingan.
Kendati begitu, ia menyadari mimpi besar tersebut hanya bisa diwujudkan melalui sinergi lintas pihak.
“Mimpi besar ini hanya bisa diwujudkan dengan bersinergi dengan pemerintah yang visioner, akademisi yang inovatif, masyarakat sipil yang kritis, serta komunitas yang kami layani. Inilah kunci dari keberlanjutan yang sesungguhnya, sebuah simbiosis yang saling memperkuat,” urainya.
Karina juga membuka peluang kolaborasi dengan FEB UGM untuk memperkuat dampak dari inisiatif yang telah dijalankan. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui riset perilaku konsumen, kajian model bisnis sirkular, kampanye perubahan perilaku, maupun pendampingan kewirausahaan bagi mitra UMKM kami. Sementara itu, dosen dapat memberikan sudut pandang kritis dan masukan strategis untuk mempertajam desain serta implementasi program.
“Kami sangat terbuka dan antusias untuk berkolaborasi dengan FEB UGM dalam memperkuat dampak inisiatif-inisiatif tersebut,” jelasnya.
FAB Sebagai Think Tank
Karina menekankan pentingnya peran FAB FEB UGM sebagai mitra strategis dalam mengembangkan ekonomi hijau di Indonesia. Menurutnya, FAB dapat menjadi think tank yang menyusun kurikulum berbasis keberlanjutan, serta mengembangkan program penelitian dan inkubasi bisnis sosial yang mendukung penerapan aspek ESG (Environment, Social, Governance) dalam praktik bisnis di Indonesia.
“Kita juga dapat berkolaborasi dalam pengembangan kurikulum dan program pelatihan untuk melengkapi para mahasiswa dengan sustainability mindset dan skill set yang relevan dengan kebutuhan industri di masa depan.
Karina berencana membawa tiga inisiatif utama ke FAB FEB UGM. Program yang dimaksud adalah kepemimpinan keberlanjutan, platform inovasi berkelanjutan, serta pengintegrasian konsep keberlanjutan ke dalam budaya kampus.
Di akhir wawancara, Karina mengajak seluruh mahasiswa dan sivitas akademika FEB UGM untuk berani mengambil peran dalam menciptakan perubahan. Menurutnya, setiap individu memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif. Oleh sebab itu, ia meyakinkan bahwa tidak perlu ragu memulai dari langkah kecil karena setiap upaya, sekecil apa pun, dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih baik bagi planet kita.
“If not you, then who? If not now, then when?,” pungkasnya.
Wakil Dekan FEB UGM Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., mewakili FEB UGM menyampaikan rasa bangga atas capaian prestasi yang diraih oleh Lucia Karina, yang juga merupakan salah satu anggota Faculty Advisory Board (FAB) FEB UGM, sebagai SDG Pioneer 2024 dari UN Global Compact. Prestasi tersebut semakin meneguhkan peran FEB UGM, tidak hanya civitas akademika dan alumninya namun termasuk didalamnya FAB yang memberikan kontribusi positif khususnya dalam bidang sustainability sesuai dengan Misi FEB UGM.
“FEB UGM turut berbangga dan bergembira atas capaian prestasi yang diraih. Hal ini semakin meneguhkan peran FEB UGM dalam pembangunan berkelanjutan,” ucapnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Lihat artikel terkait lainnya Lucia Karina Honored as UN Global Compact SDG Pioneers 2024
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)



