Wakaf menjadi salah satu solusi strategis untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini menjadi sorotan utama dalam workshop WAKAFPRENEUR “Goes to Campus” yang menghadirkan Direktur Eksekutif Yayasan Edukasi Wakaf Indonesia, Yusri Akhyar, S.Sos., CWP, CWS pada 22 November 2024 di FEB UGM.
Dalam sesi workshop bertajuk Dampak Sosial Berkelanjutan melalui Wakaf Uang, Yusri menyebutkan bahwa wakaf dapat berperan untuk mengentaskan kemiskinan dalam upaya mendukung pencapaian SDGs, terutama poin 1, yakni tanpa kemiskinan. Menurutnya, solusi utama untuk menekan angka kemiskinan adalah melalui wakaf uang.
Yusri menjelaskan bahwa dalam pengentasan kemiskinan dibutuhkan strategi jangka panjang yang konsisten serta penanganan yang kolaboratif. Hanya saja, yang sering terjadi saat ini di Indonesia adalah maraknya pembagian bantuan sosial dan sumbangan. Padahal langkah tersebut dinilai kurang efektif dan tidak produktif.
Ia mencontohkan pengentasan kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta hanya berputar pada pembagian Jumat berkah, bantuan sosial pemerintah, sedekah/infak masyarakat, dan zakat muzakki. Aktivitas ini tidak dapat mengentaskan kemiskinan. Sebab bantuan tersebut sifatnya hanya sesaat dan tidak berdampak berkelanjutan karena fokus bantuan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar sehari-hari.
Menurutnya, pengentasan kemiskinan semestinya dimulai dengan membangun sumber daya manusia. Pembangunan sumber daya manusia dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan dengan dukungan pendanaan dan akses modal kerja yang berkesinambungan.
“Yang menjadi tantangan selama ini adalah program pelatihan sudah berjalan, namun tidak semua orang mengetahui informasi tersebut atau mendapatkan akses untuk mengikuti pelatihan tersebut. Masalah lainnya adalah ada beberapa pihak yang sudah dibantu untuk melakukan bisnis tetapi tidak memiliki modal untuk uang sewa,” jelasnya.
Sementara itu, terkait poin SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, ia juga menekankan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya soal memberikan pendidikan gratis. Lebih dari itu, untuk mewujudkan pendidikan berkualitas perlu penyediaan infrastruktur terbaik, seperti beasiswa, fasilitas riset, kesejahteraan pengajar, serta sarana dan prasarana. Ia menyebutkan, seperti pada model pendanaan pendidikan universitas terkemuka di dunia seperti Harvard University, yang mengandalkan dana abadi untuk mendukung peningkatan intelektualitas mahasiswa dan kualitas pengajaran.
“Wakaf uang dapat menjadi fondasi pendanaan berkelanjutan yang mendukung pengembangan pendidikan di Indonesia,” ujarnya.
Ia pun menjelaskan bahwa wakaf uang memiliki potensi besar untuk menjadi solusi pendanaan jangka panjang. Wakaf uang dapat digunakan untuk membangun modal abadi yang nantinya disalurkan melalui lembaga amil zakat.
Di akhir paparannya, Yusri menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk mewujudkan 17 program SDGs, termasuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas pendidikan. Sinergi dan kerja sama yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga pengelola wakaf, diharapkan dapat mendukung percepatan pencapaian tujuan SDGs di Tanah Air.
“Melalui wakaf uang, kita bisa menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan dan mewujudkan dunia tanpa kemiskinan serta pendidikan berkualitas,” pungkasnya.
Reporter: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)





