Upaya pemerintah mengembangkan Bank Bullion sebagai terobosan kebijakan ekonomi nasional dinilai memiliki potensi memperkuat stabilitas makroekonomi Indonesia. Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa keberadaan Bank Bullion lebih berperan dalam memperdalam pasar keuangan daripada mendorong pertumbuhan ekonomi riil secara langsung. Bank Bullion berperan menciptakan instrumen likuid berbasis emas, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperkuat sistem keuangan.
“Dampak ke pertumbuhan ekonomi terjadi secara tidak langsung, terutama melalui stabilitas makroekonomi dan peningkatan kepercayaan investor,” paparnya, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan cadangan emas yang kuat dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar. Sementara itu, instrumen emas berpotensi meningkatkan daya tarik pasar modal. Hanya saja, tanpa integrasi yang kuat dengan sektor riil, misalnya melalui pembiayaan industri atau UMKM, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan relatif terbatas.
“Selain itu juga ada risiko Bank Bullion akan hanya menguntungkan pelaku pasar besar, tidak ke UMKM misalnya,” tuturnya.
Lalu apakah Bank Bullion dapat meniru kesuksesan hilirisasi nikel? Wisnu menyampaikan bahwa Bank Bullom tidak dapat disamakan dengan keberhasilan hilirisasi nikel. Hilirisasi nikel, meskipun masih diperdebatkan dampaknya, didukung oleh rantai nilai industri yang jelas mulai dari biji hingga produk antara seperti baterai kendaraan listrik. Sementara emas memiliki karakter yang berbeda dari nikel.
“Emas agak berbeda karena karakternya lebih banyak digunakan sebagai store of value dan instrumen keuangan, bukan bahan baku industri massal,” terang Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM ini.
Menurutnya Bank Bullion tidak bisa meniru hilirisasi nikel secara penuh. Bank Bullion fokusnya bukan manufaktur, melainkan monetisasi cadangan emas dan menciptakan instrumen keuangan berbasis emas.
Sementara itu Dini Ghuzini, S.E., M.Sc., Ph.D., Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM menyoroti soal tengah tren harga emas global yang tinggi. Menurutnya, pemerintah perlu memprioritaskan upaya menjaga kestabilan ekonomi dan cadangan emas. Meskipun perdagangan aktif dapat memberikan keuntungan bagi investor, pemerintah perlu menempatkan stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama.
“Secara historis, meskipun perekonomian negara-negara emerging markets cenderung membaik setelah beralih dari fixed exchange rate regime ke floating exchange rate, cadangan di negara-negara tersebut tidak menunjukkan penurunan. Salah satu alasannya adalah karena motivasi untuk berjaga-jaga terhadap kondisi perekonomian, hal ini juga dapat berlaku untuk cadangan emas,” paparnya
Ia juga menyampaikan tren global adanya peningkatan cadangan emas di negara-negara berkembang. Data International Financial Statistics (IFS) 2025 menunjukkan adanya peningkatan cadangan emas yang positif di negara berkkembang dan tidak ada perubahan atau penurunan cadangan emas bagi negara maju.
“Motivasi peningkatan cadangan tersebut karena emas merupakan alternatif instrumen yang aman serta memberikan return yang tinggi dibandingkan dengan instrumen lain, misal US Treasury Securities. Ketidakpastian situasi global dan risiko geopolitik juga menuntut negara-negara untuk mencari instrumen alternatif,” urainya
Lebih lanjut, Dini menilai pengembangan Bank Bullion tidak otomatis menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara pemilik cadangan emas besar seperti Amerika Serikat, Jerman., Italia, Cina, dan Australia. Secara absolut, cadangan emas Indonesia masih relatif terbatas, meskipun Indonesia termasuk produsen emas dunia.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
