Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Ni Wayan Anggita Mayolly (Akuntansi 2024) dan Rahel Regina Nataline Sidabutar (Akuntansi 2024) berhasil meraih Juara 1 dalam National Essay Competition 2026.
Kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Clash of University 2026 yang diselenggarakan oleh BEM FEB UPN Veteran Yogyakarta pada 28 Juni 2026 dengan mengusung tema “Empowering Youth for Indonesia’s Sustainable Future.” Tema tersebut menekankan pentingnya pemberdayaan generasi muda dalam mengembangkan pemikiran kritis, kreatif, dan solutif terhadap berbagai persoalan bangsa.
Dalam kompetisi tersebut, May dan Rahel mengangkat isu kesenjangan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) antara korporasi besar dan UMKM di Indonesia. Keduanya menyoroti banyak UMKM yang sebenarnya sudah menjalankan praktik keberlanjutan, namun belum mampu membuktikannya kepada investor maupun mitra usaha.
“Kami tergerak melihat paradoks ekosistem ESG Indonesia tumbuh pesat, bahwa ratusan perusahaan menerbitkan sustainability report, sementara 56,14 juta UMKM yang menopang hampir 60% PDB nasional justru nyaris tidak terjangkau,” ujar May.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menawarkan gagasan ESGenpact, sebuah ekosistem pendampingan ESG berbasis digital yang digerakkan mahasiswa melalui platform e-ESGenpact. Platform ini mengintegrasikan ESG Assessment and Scoring, Benchmarking Dashboard, Progress Report, dan Sustainable UMKM Directory.
Gagasan ini disusun melalui riset data sekunder seperti OJK, Kementerian UMKM, KPMG, PwC, dan Deloitte. Hasil riset kemudian dikembangkan secara bertahap lewat diskusi, dilengkapi flow diagram, mockup platform, analisis SWOT-TOWS, mitigasi risiko, dan indikator kinerja agar gagasan lebih aplikatif.
Dalam platform tersebut, mahasiswa berperan sebagai ESG companion, analyst, dan reviewer melalui tahapan talent sourcing, ESG bootcamp, field project, hingga ESG certification untuk mendampingi UMKM secara langsung.

“Mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang menjembatani tuntutan keberlanjutan global dengan keterbatasan kapasitas UMKM,” ujar May.
Sementara Rahel menambahkan dalam kompetisi tersebut mereka menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menyatukan data dari banyak sumber menjadi satu narasi yang koheren dan meyakinkan. Namun, tantangan ini dapat mereka atasi melalui diskusi berkelanjutan dan revisi bertahap hingga gagasan benar-benar matang.
“Kami juga perlu memastikan gagasan ESGenpact benar-benar aplikatif, bukan sekadar konsep digital biasa seperti platform yang sudah ada,” kata Rahel.
Kompetisi ini turut memberi pelajaran berharga bagi keduanya, mulai dari pentingnya kolaborasi tim hingga kepekaan berpikir solutif terhadap masalah sosial-ekonomi yang nyata di sekitar mereka. Selain itu, kemampuan menyusun gagasan secara terstruktur dan analisis manajemen risiko juga terasah.
Ke depannya, mereka berharap dapat mengembangkan ESGenpact lebih lanjut, baik melalui program pengabdian masyarakat saat Kuliah Kerja Nyata (KKN), proyek percontohan bersama UMKM, maupun riset akademis bersama pihak kampus dan komunitas ESG.
“Mulailah dari masalah nyata yang benar-benar kamu pahami dan pedulikan, lalu perkuat dengan data yang kredibel,” pesan Rahel.
Reportase: Dwi Zhafirah Meilian
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
