Inklusivitas semakin dipandang sebagai strategi bisnis, bukan sekadar tanggung jawab sosial. Ketika keberagaman dijadikan bagian dari strategi bisnis, inklusivitas dapat menjadi sumber inovasi, memperluas jangkauan pasar, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
Perspektif tersebut menjadi pembelajaran utama dalam sesi “Building Inclusive Business: Creating Value Through Disability Inclusion” dalam rangkaian Global Summer Week 2026 pada Rabu (15/07/2026). Dosen Departemen Akuntansi FEB UGM sekaligus Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa bisnis inklusif menempatkan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, sebagai bagian penting dari aktivitas ekonomi. Menurutnya, inklusi bukan sekadar memastikan semua orang dapat mengakses layanan, tetapi juga menghilangkan berbagai hambatan sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkontribusi.
“Inklusi adalah proses bagaimana orang-orang, tidak memandang latar belakangnya, gender, umur, agama, pendidikan, dan bahkan disabilitas, memiliki kesempatan yang sama di setiap aspek kehidupan. Inclusive bisnis berarti menaruh orang-orang rentan ini di aktivitas ekonomi yang vital dengan menghapus batasan yang ada,” jelasnya.
Wuri juga menyampaikan alasan mengapa bisnis saat ini perlu memperhatikan terhadap penyandang disabilitas. Sebab, 16% populasi dunia merupakan penyandang disabilitas. Sementara itu, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 43,2 juta penyandang disabilitas. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar kelompok yang membutuhkan aksesibilitas, tetapi juga merupakan bagian dari pasar yang memiliki kebutuhan dan potensi ekonomi yang signifikan.
Wuri kemudian memperkenalkan konsep Purple Economy, yaitu pendekatan yang memandang inklusivitas sebagai strategi untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Perusahaan yang mampu merancang produk, layanan, maupun lingkungan kerja yang inklusif dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat yang beragam serta memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan inovasi.
“Manfaat yang diperoleh ketika perusahaan menerapkan nilai inklusivitas tidak hanya dirasakan oleh para penyandang disabilitas, tetapi juga oleh perusahaan itu sendiri secara keseluruhan. Inovasi dapat dilahirkan dan jangkauan dapat dapat diperluas melalui penguatan nilai inklusivitas,” paparnya.
Alih-alih berhenti pada pembahasan konseptual, peserta GSW 2026 diajak untuk bermain peran untuk meningkatkan pemahaman tersebut melalui pengalaman langsung. Delapan perwakilan dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM hadir sebagai narasumber dalam sesi simulasi dan ditempatkan di setiap kelompok diskusi. Peserta melakukan wawancara untuk memahami pengalaman, hambatan, dan kebutuhan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.
Proses tersebut mendorong peserta melihat bahwa solusi yang baik tidak lahir dari asumsi, melainkan dari pemahaman terhadap pengalaman pengguna. Berbagai informasi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengevaluasi sekaligus menyempurnakan ide bisnis yang telah mereka rancang pada sesi sebelumnya agar benar-benar menjawab kebutuhan calon pengguna penyandang disabilitas.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
