Prof. Dr. Reni Rosari, M.B.A., dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Perilaku Organisasional pada Kamis, 19 Februari 2026 di Balai Senat UGM. Dalam pidato pengukuhannya berjudul “Rumongso Melu Handarbeni: Rasa Memiliki sebagai Fondasi Organisasi Berbasis Kebahagiaan dan Kolaborasi”, ia menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi modern tidak hanya ditentukan oleh sistem dan struktur, tetapi juga oleh kedalaman rasa memiliki manusia di dalamnya.
Menurut Prof. Reni, organisasi saat ini bergerak dengan kecepatan dan kompleksitas yang semakin tinggi, dengan tekanan pengukuran kinerja yang semakin intens. Namun, di balik capaian dan efisiensi, banyak individu mengalami burnout, disengagement, hingga quiet quitting. Fenomena tersebut menunjukkan adanya krisis makna dan keterhubungan di dunia kerja. Organisasi menjadi sibuk secara administratif, tetapi kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Ia menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar entitas formal, melainkan living system yang hidup ketika manusia di dalamnya merasa terhubung secara emosional dan moral. Dalam konteks ini, ia mengangkat falsafah Jawa rumongso melu handarbeni sebagai kontribusi konseptual yang memperkaya teori psychological ownership dalam Ilmu Perilaku Organisasional.
Rumongso melu handarbeni tidak dimaknai sebagai kepemilikan dalam arti menguasai, melainkan sebagai kesadaran untuk ikut menjaga. Rasa memiliki bukan soal hak, tetapi tanggung jawab; bukan soal dominasi, tetapi kepedulian; bukan soal “aku”, melainkan soal “kita”. Nilai ini menjembatani dimensi rasional dan moral dalam manajemen, sekaligus menghadirkan kedalaman budaya lokal dalam diskursus global.

Ketika organisasi dibangun di atas rasa memiliki, relasi kerja tidak lagi bersifat transaksional, melainkan transformasional. Individu tidak hanya bekerja karena kewajiban, tetapi juga karena kepercayaan dan keterikatan pada tujuan bersama. Dari kolaborasi lahir sinergi, dari kepercayaan tumbuh kekuatan kolektif, dan dari keterhubungan muncul kebahagiaan kerja yang berkelanjutan.
Prof. Reni juga menegaskan bahwa kebahagiaan dan kinerja bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Produktivitas sejati justru lahir dari individu yang merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan. Organisasi yang menumbuhkan rasa memiliki akan menjadi organisasi yang berjiwa—menumbuhkan, bukan menguras; memerdekakan, bukan menekan.
Menutup pidatonya, ia mengingatkan bahwa organisasi yang mampu menyalakan makna akan lebih bertahan dalam jangka panjang. Mengutip ungkapan Jawa “Urip iku urup,” ia menegaskan bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang mampu menyalakan kehidupan orang lain. Demikian pula, organisasi sejati hidup ketika mampu menyalakan semangat dan makna bagi manusia di dalamnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
