Sistem akuntansi keuangan saat ini masih bertumpu pada sistem pembukuan berpasangan atau double entry bookkeeping (DEB) dan berpedoman pada aturan debit kredit. DEB telah menjadi sistem yang kuat dan digunakan selama lebih dari lima abad.
Namun seiring berjalannya waktu, muncul isu terkait kepercayaan dan transparansi terhadap sistem DEB. Situasi tersebut memunculkan gagasan Triple Entry Accounting (TEA) sebagai alternatif atau pengembangan dari sistem akuntansi yang ada.
Rizki Oktavianto, alumni Magister Sains Akuntansi FEB UGM konsentrasi Sistem Informasi angkatan 2023 menelaah bagaimana akademisi memandang perkembangan konsep TEA. Konsep TEA pertama kali diperkenalkan oleh profesor akuntansi, Yuji Ijiri, pada tahun 1982. Ijiri mengusulkan sistem pencatatan yang tidak hanya merekam posisi keuangan, tetapi juga perubahan kekayaan melalui akun yang disebut Trebit.
Beberapa dekade kemudian, pada tahun 2005, Ian Grigg, seorang ahli kriptografi keuangan, mengembangkan konsep TEA dalam format berbeda dengan memanfaatkan teknologi distributed ledger, yang memiliki kemiripan dengan teknologi blockchain. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan transparansi dan keandalan pencatatan transaksi.
Dalam penelitiannya yang bertema Perspektif Akademisi Akuntansi dan Nonakuntansi terhadap Triple Entry Accounting, Rizki melakukan tinjauan sistematis dan analisis konten terhadap 60 artikel ilmiah tentang TEA yang terbit pada periode 2005 hingga 2024. Penelitian tersebut juga menggunakan teori q-r dari Ellison (2002) untuk menganalisis kecenderungan sikap akademisi terhadap gagasan TEA.
Hasil penelitian Rizki menunjukkan bahwa isu TEA tidak hanya menarik perhatian akademisi di bidang akuntansi, tetapi juga dari disiplin ilmu lain. Dari 159 akademisi yang menulis penelitian tentang TEA dalam 60 artikel yang dianalisis, sekitar 47 persen di antaranya berasal dari latar belakang non-akuntansi, seperti teknologi informasi, kriptografi, dan ilmu komputer.

“Dari semua artikel ini, 87% akademisi lebih memilih TEA versi Grigg yang berbasis teknologi, sementara TEA versi Ijiri kurang dapat perhatian,” ungkapnya dalam program 3 Minute Thesis: Triple Entry Accounting versi Ijiri dan Grigg yang ditayangkan di kanal YouTube FEB UGM.
Nah, penelitian TEA dari akademisi akuntansi cenderung lebih fokus ke r, alias pengembangan ide yang sudah ada, daripada q, alias penemuan konsep baru. Demski di tahun 2002 bahkan pernah menyebut fenomena seperti ini sebagai “malaise riset”, yaitu kita lebih sering mengikuti tren daripada menggali konsep lebih dalam.
Menurut Rizki, kecenderungan tersebut dapat dijelaskan melalui teori q-r dari Ellison (2002) yang membagi penelitian ke dalam dua aspek utama. Aspek q merujuk pada pengembangan konsep atau ide baru yang mendobrak teori sebelumnya, sedangkan r berkaitan dengan pengembangan teknis dari ide yang sudah ada.
“Penelitian TEA dari akademisi akuntansi cenderung lebih banyak fokus pada pengembangan teknis dari ide yang sudah ada, dibandingkan menggali konsep baru,” ujarnya.
Fenomena ini juga pernah disinggung oleh Demski (2002) yang menyebutnya sebagai malaise riset, yaitu kecenderungan peneliti mengikuti tren yang berkembang daripada menggali konsep teoritis secara lebih mendalam.
Rizki menilai perbedaan pendekatan antara konsep TEA dari Ijiri dan Grigg justru membuka peluang penelitian baru di masa depan. Riset di masa depan dapat diarahkan untuk mengintegrasikan antara gagasan konseptual dari bidang akuntansi dan pendekatan teknologi dari bidang kriptografi dapat menjadi arah pengembangan sistem akuntansi yang lebih transparan dan adaptif terhadap era digital.
Video program program 3 Minute Thesis: Triple Entry Accounting versi Ijiri dan Grigg selengkapnya dapat diakses melalui: TripleEntryAccountingVersiIjiriGrigg



