Cokelat selalu punya tempatnya sendiri di hati banyak orang. Tetapi di balik kelezatannya, minuman cokelat kerap dianggap lebih eksklusif dibanding kopi yang sudah menjadi keseharian bagi sebagian orang. Peluang itulah yang justru ditangkap oleh lima mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Berangkat dari ketertarikan terhadap dunia kewirausahaan dan potensi kakao lokal yang belum digarap optimal, mereka mendirikan .Cho, kedai minuman cokelat yang kini hadir di sisi utara Kantin Biru FEB UGM. Usaha ini dikembangkan oleh Nirwan Sulaiman Fariz (Manajemen 2023), Santa Lusia Rosa Caeli (Akuntansi 2023), Muhammad Vicko Alghozali Syahrial (Manajemen 2023), Devinta Sekar Kinasih (Manajemen 2023), dan Ivan Alfredo Hutagalung (Manajemen 2023).
Di balik kesederhanaan nama .Cho, tersimpan proses panjang yang tidak instan. Sebelum resmi berdiri, tim sebenarnya sempat melirik kopi sebagai produk utama, namun persaingan yang ketat dan keterbatasan peralatan mendorong mereka berpikir ulang. Cokelat pun muncul sebagai alternatif yang menarik bukan karena tren, melainkan karena satu fakta yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak.
“Salah satu highlight-nya itu adalah ketika kami mengerti kalau cokelat lokal itu sangat melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal,” ungkap Biru, Chief Financial Officer .Cho.
Dari titik tersebut, tim memulai proses riset dan pengembangan yang cukup intensif. Hampir semua varian cocoa powder yang tersedia di retail mereka beli, dicoba satu per satu, dan terus dievaluasi. Butuh sekitar dua bulan hingga mereka menemukan kombinasi rasa dan harga yang benar-benar pas.
Dukung Kakao Lokal
.Cho hadir tidak hanya menawarkan variasi minuman cokelat, namun terdapat nilai yang ingin mereka bawa ke setiap gelasnya. Seluruh bahan baku cokelat yang digunakan berasal dari petani lokal tanpa impor sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap ekosistem pertanian kakao dalam negeri. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari identitas .Cho sejak awal berdiri.
“Kami memanfaatkan bahan dari petani lokal, itu sustainable karena kami memberdayakan mereka. Kami tidak impor, semua cokelat yang kami gunakan adalah lokal,” tegas Biru.
Komitmen ini juga tercermin dalam setiap detail operasional. Cup yang digunakan seluruhnya berbahan kertas, sedotan diganti dengan alternatif ramah lingkungan, dan peralatan makan berbahan kayu menjadi pilihan sejak awal. Bagi tim, keberlanjutan bukan nilai tambah yang ditempelkan belakangan, melainkan prinsip yang sudah tertanam sejak kedai ini dirancang.
Dari sisi produk, .Cho menawarkan beragam varian mulai dari seri classic hingga signature chocolate series dengan topping pilihan seperti salted caramel, meringue, dan sea salt cream. Karakter rasa yang dibangun pun khas, creamy dan pekat di mulut membiarkan cita rasa kakao asli berbicara.
Ruang Belajar Berbisnis
Bagi Biru dan tim, menjalankan .Cho bukan hanya soal berbisnis, melainkan ruang belajar yang sesungguhnya. Di sinilah teori bertemu realita, keputusan harus diambil cepat dan setiap hari selalu ada hal baru untuk dipahami. Tantangan terbesar yang mereka hadapi pun bukan pada produk atau pasar, melainkan pada pengelolaan sumber daya manusia, menyatukan cara kerja lima founder, empat chocorista, dan satu spesialis media sosial dalam arah yang sama.
Dalam menjawab tantangan tersebut, ilmu yang dipelajari di bangku kuliah terbukti relevan. Biru secara khusus menyebut manajerial akuntansi mulai dari product costing, perhitungan overhead cost, hingga product mix analysis menjadi landasan pengambilan keputusan strategis .Cho. Di sisi lain, pengetahuan operasional dan marketing yang dimiliki rekan-rekannya melengkapi jalannya bisnis secara menyeluruh.
“Kalau aku sendiri, ilmu yang kepake itu manajerial akuntansi untuk mencari tahu produk yang paling profitable, yang paling laku, dan nanti derivatives strateginya agar dapat boost produk tertentu,” jelasnya.
Bagi Biru, .Cho adalah bukti bahwa tidak ada waktu yang benar-benar “tepat” untuk memulai. Perjalanan ini masih berlanjut dan justru di sanalah pelajaran terbesar ditemukan, bukan di dalam kelas, bukan di atas kertas perencanaan, tetapi di tengah prosesnya sendiri.
“Eksekusi itu lebih penting daripada planning. Banyak orang memaksimalkan planning dulu, tapi planning bakal stuck di situ kalau nggak ada eksekusinya. Jadi, do it even when you’re not ready, then be ready on the way there,” pungkas Biru.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
