Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) terus berupaya meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan kampus sebagai upaya mewujudkan kampus sehat. Hal tersebut diwujudkan melalui pelatihan keterampilan dasar Psychological First Aid (PFA) bertajuk “Langkah Awal Dukungan Psikologis: Peran Dosen dan Tendik dalam PFA” yang diselenggarakan pada Kamis, 9 April 2026 di Ruang Multimedia FEB UGM.
Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran dosen dan staf profesional sebagai first responder dalam situasi krisis psikologis di kampus. Pelatihan menghadirkan Kepala Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D.
Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada konsep dasar Psychological First Aid atau Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), yaitu bantuan psikologis paling dasar dan sederhana untuk orang-orang yang sedang mengalami kejadian yang dianggap berat dan menyebabkan luka psikologis.
Diana menyampaikan bahwa aktivitas yang dilakukan dalam P3LP secara umum merupakan rangkaian perlakuan yang ditujukan untuk mengurangi tingkat stres negatif (distres) yang dialami seseorang. Berkurangnya stres negatif dapat mengurangi risiko munculnya dampak-dampak negatif di kemudian hari.
Lalu siapa yang dapat melakukan PFA? Diana menjelaskan bahwa PFA dapat dilakukan siapa saja yang bersedia melakukan P3LP sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. P3LP dilakukan ketika dibutuhkan, misalnya saat seseorang mengalami krisis atau bencana. Dapat dilakukan beberapa hari atau beberapa minggu setelah kejadian. P3LP juga bisa diberikan kepada orang yang terpapar kejadian krisis atau peristiwa yang serius. Berikutnya, ODGJ yang merasa kondisinya sedang tidak baik-baik saja atau gejalanya kambuh, dan orang yang mendapatkan tekanan psikologis dan tidak berdaya menghadapinya.
“P3LP bisa diberikan kepada siapa saja yang merasa atau dirasa memerlukan, bisa terjadi pada individu maupun kelompok, dan dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak,” tuturnya.
Sebelum melakukan PFA, Diana mengimbau agar first aider dapat mempelajari kejadian atau kondisi krisis yang terjadi. Selain itu, juga memetakan secara umum tingkat kondisi para individu terdampak yang mengalami kondisi krisis (eustres, distres, disfungsi). Lalu, memetakan sumber daya yang ada di sekitar kejadian yang dapat dioptimalkan untuk mendukung P3LP yang akan dilakukan, hingga memperhatikan detail keamanan dan keselamatan selama melakukan P3LP.
Ia menjelaskan bahwa prinsip utama P3LP meliputi tiga langkah sederhana, yakni melihat (look), mendengar (listen), dan menghubungkan (link). Melalui pendekatan ini, individu yang mengalami krisis dapat merasa lebih aman, didengar, dan tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa prinsip melihat dilakukan dengan memperhatikan tanda seseorang yang membutuhkan pertolongan, baik dari perasaan, pikiran, perilaku, maupun tanda fisik. Sementara, prinsip mendengar dilakukan dengan mendengarkan secara aktif, suportif, dan penuh empati. Lalu, prinsip menghubungkan dilakukan dengan menghubungkan individu yang mendapatkan P3LP dengan bantuan lanjut yang dibutuhkan seperti tenaga profesional yaitu tenaga kesehatan jiwa seperti psikolog, dokter, atau psikiater maupun dengan orang-orang terdekat individu, seperti keluarga, teman.
“Jika setelah melakukan deteksi dini ditemukan indikasi individu mengalami masalah kesehatan jiwa, terdapat sistem alur pertolongan yang bisa diikuti untuk menentukan pemberian pertolongan yang tepat sesuai dengan kondisi individu tersebut. Terapkan prinsip P3LP dalam setiap level alur pertolongan, yaitu level 1 mengumpulkan informasi lebih lanjut, level 2 memberikan bantuan, dan level 3 gerak cepat,” paparnya.
Selain itu, Diana juga menekankan pentingnya dukungan psikososial yang mencakup lima elemen utama, yaitu memastikan rasa aman, menenangkan kondisi emosional, memperkuat keterhubungan sosial, meningkatkan kepercayaan diri, serta menumbuhkan harapan. Kelima aspek ini dinilai krusial dalam membantu proses pemulihan individu setelah mengalami tekanan atau peristiwa traumatis.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
