Fenomena adanya penerapan influencer pada promosi produk eco-fashion semakin marak di media sosial. Namun, siapakah yang dapat mendorong promosi produk yang lebih efektif dan pembelian di kalangan konsumen? Apakah influencer media sosial yang interaktif dan memiliki banyak pengikut atau influencer yang memiliki keahlian?
Penelitian yang dilakukan oleh Jein Sriana Toyib, alumni Program Doktor Ilmu Manajemen FEB UGM angkatan 2019, dan tim melibatkan eksperimen laboratorium untuk memahami tren dalam pembelian produk hijau yang melibatkan influencer. Mereka menggunakan dua studi web eksperimen, yaitu desain riset 2×2 tentang eco fashion yang melibatkan 198 partisipan dan menggunakan desain riset 2x2x2 tentang produk makanan organik yang melibatkan 406 partisipan.
Jein mengungkapkan bahwa influencer yang memiliki keahlian lebih cocok untuk mempromosikan produk kompleks seperti makanan organik. Sementara influencer interaktif cenderung lebih cocok untuk mempromosikan produk emosional seperti eco fashion.
“Kombinasi kehadiran influencer yang ahli dan interaktif lebih efektif mendorong pembelian dibandingkan dengan yang tidak ahli atau tidak interaktif,” tambahnya.
Lebih lanjut, Jein mengatakan bahwa fenomena influencer dalam produk hijau bukan sekadar tren. Fenomena ini adalah bukti nyata dari teori kredibilitas sumber dan teori kehadiran sosial. Penelitian yang dilakukan juga memberikan solusi terhadap strategi pemasaran influencer yang paling efektif untuk produk hijau.

“Keahlian membangun kepercayaan dan interaktivitas menciptakan kedekatan,” ucapnya.
Menurut Jein, kombinasi ini penting untuk kedua jenis produk hijau, baik mode ramah lingkungan seperti kaus maupun produk makanan sehat seperti cokelat chip. Gabungan keahlian dan interaktivitas akan menghasilkan output yang luar biasa, yaitu strategi pemasaran yang paling kuat untuk produk hijau.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum







