Dunia kerja kerap menjadi bayangan yang menakutkan bagi mahasiswa yang belum pernah merasakannya secara langsung. Hal itu juga sempat dirasakan Fransiska Anindya Putri (Manajemen 2022) sebelum akhirnya menjalani magang di PT Bintang Toedjoe, anak perusahaan Kalbe Group.
Perempuan yang akrab disapa Anin mengaku tertarik melamar ke PT Bintang Toedjoe karena produk-produk perusahaan tersebut sudah familiar di masyarakat. Ketertarikannya pada industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) juga menjadi alasan tersendiri baginya untuk mengeksplorasi lebih jauh bagaimana perusahaan besar beroperasi.
Cerita tersebut ia bagikan dalam program Class to Career bertajuk Magang di Perusahaan FMCG Besar, Emang Seseru Itu? Proses seleksi ia lalui dengan mendaftar melalui platform Dealls, dilanjutkan dua tahap wawancara. Tahap pertama berupa wawancara umum bersama tim HR, sementara tahap kedua mempertemukannya dengan calon mentor untuk menggali kesesuaian dirinya dengan pekerjaan di divisi yang dilamar.
“Waktu itu aku sangat tertarik ketika melihat lowongan magang, specifically aku ambil compensation and benefit intern. Divisi tersebut merupakan bagian dari departemen human resource,” ujarnya.
Selama magang, Anin ditempatkan di divisi Compensation and Benefit yang menangani kompensasi dan manfaat karyawan, seperti BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, cuti, dan gaji. Ia menyebut posisi ini tergolong jarang disentuh mahasiswa karena sifatnya yang cukup teknis dan profesional.
Menjelang hari pertama magang, ia mempersiapkan diri dengan mencari gambaran pekerjaan di divisi tersebut agar tidak berangkat dengan kepala kosong. Ia juga belajar dasar-dasar Excel secara otodidak melalui internet dan YouTube.
Persiapan itu terbukti berguna meski tidak sepenuhnya cukup. Salah satu tantangan terbesar yang Anin hadapi justru muncul dari kebutuhan menguasai Excel yang lebih jauh, yakni saat diminta menyusun Excel based tool untuk mengolah data.
“Aku benar-benar cari tahu sendiri lewat internet, YouTube, dan Google, gimana caranya membuat rumus-rumus Excel yang sebelumnya aku kurang paham. Pada akhirnya aku bisa menyelesaikannya dan cukup memuaskan buat mentor aku,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa tantangan semacam itu kerap muncul karena banyak pekerjaan yang diberikan tidak pernah diajarkan secara langsung di bangku kuliah. Dalam kondisi tersebut, ia dituntut untuk memecah masalah secara mandiri, mencari solusi, hingga menghasilkan output yang bisa dipertanggungjawabkan kepada mentor.
Dari pengalaman tersebut, tiga kemampuan Anin berkembang cukup signifikan, yaitu analytical thinking, problem solving, dan kreativitas. Ia menyoroti bahwa perkuliahan hanya memberi gambaran teoritis dari kasus-kasus yang sudah terjadi, sementara dunia kerja menuntut kepekaan terhadap dampak nyata dari setiap keputusan.
“Kita di kuliah itu belajar teori, belajar gambaran dari kasus yang sudah terjadi di perusahaan lain. Tapi di perusahaan ini benar-benar kasusnya itu seserius itu, apa yang kita lakukan akan berdampak terhadap orang lain sebesar itu,” tuturnya.
Soal lingkungan kerja, Anin menilai suasana di PT Bintang Toedjoe cukup terbuka dan suportif. Ia menyebut hampir tidak ada waktu kosong bagi karyawan di lingkungan tersebut sehingga dirinya harus menyeimbangkan sisi profesional dan sisi personal dalam berinteraksi dengan rekan kerja.
Di tengah proses adaptasi tersebut, Anin mengaku masih perlu banyak belajar meski sudah berusaha memberikan kontribusi terbaik selama magang. Menurutnya, status sebagai anak magang seharusnya menjadi alasan untuk lebih berani mencoba, bertanya, dan tidak ragu mengambil kesempatan belajar sebanyak mungkin, karena periode magang berlangsung singkat dan terbatas.
“Buat teman-teman ketika ingin magang nggak perlu takut, nggak perlu ragu karena memang tempat magang itu adalah tempat belajar dan nggak ada kesempatan lain untuk belajar selain kita memberanikan diri,” pungkasnya.
Video selengkapnya program Class to Career bertajuk Magang di Perusahaan FMCG Besar, Emang Seseru Itu? dapat diakses melalui: http://ugm.id/MagangBintangToedjoe
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
