Di tengah dunia bisnis yang semakin terhubung tanpa batas negara, kemampuan seorang pemimpin tidak lagi hanya diukur dari strategi dan kemampuan mengambil keputusan. Memahami cara berpikir, nilai, hingga budaya dari berbagai negara kini menjadi keterampilan penting dalam menjalankan bisnis global.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Renato Pereira, Professor General Management dari ISCTE Business School, dalam Guest Lecture yang berjudul Managing Business across Culture: How to Communicate and Negotiate pada Rabu (6/5/2026) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Renato membuka diskusi dengan membandingkan cara Belgia dan Taiwan memandang data kasus COVID-19. Meski sama-sama menghadapi pandemi, kedua negara memiliki respons sosial yang berbeda terhadap angka kasus yang muncul.
Di Belgia, tingginya angka kasus sempat dipersepsikan secara optimistis karena dianggap menunjukkan banyaknya tes yang dilakukan. Sebaliknya, di Taiwan, angka tersebut justru dipandang sebagai kegagalan dalam mengendalikan wabah.
Dari contoh tersebut, Renato menegaskan bahwa budaya bukan sekadar tradisi, makanan, atau pakaian, melainkan cara masyarakat memandang realitas dan mengambil keputusan, termasuk dalam konteks bisnis. Menurutnya, tidak ada budaya yang lebih baik atau lebih benar dibandingkan dengan budaya lainnya karena setiap budaya terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang.
Untuk memahami bagaimana budaya mempengaruhi perilaku masyarakat, Renato memperkenalkan teori dimensi Hofstede yang dikembangkan oleh Geert Hofstede. Kerangka teori ini digunakan untuk memahami perbedaan budaya antarnegara berdasarkan nilai, pola pikir, dan perilaku masyarakat dalam bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga berinteraksi di lingkungan sosial maupun organisasi.
Dimensi pertama dalam teori ini adalah power distance yang mengukur sejauh mana ketimpangan kekuasaan diterima sebagai suatu hal yang wajar dalam masyarakat. Negara dengan power distance tinggi, masyarakatnya cenderung akan merasa segan terhadap pemimpinnya. Sebaliknya, negara dengan power distance rendah, masyarakatnya lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat dan tidak terlalu memandang perbedaan kekuasaan sebagai penghalang komunikasi.
Dimensi yang kedua adalah uncertainty avoidance yang mengukur tingkat kenyamanan masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Renato memaparkan bahwa negara dengan uncertainty avoidance tinggi cenderung akan menciptakan banyak aturan, prosedur, dan regulasi untuk menciptakan rasa aman. Namun, negara dengan uncertainty avoidance yang rendah akan merasa nyaman menghadapi ambiguitas dan lebih berani mengambil risiko. Dalam dunia bisnis, hal ini memengaruhi kecepatan inovasi dan proses pengambilan keputusan.
Dimensi ketiga adalah individualism versus collectivism. Renato menjelaskan perbedaan mendasar antara dua kutub ini. Pada masyarakat individualis, setiap orang diharapkan mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Di masyarakat kolektif, seseorang terikat kuat dengan kelompoknya dan loyalitas kepada kelompok menjadi nilai tertinggi. Dari dimensi ini ditemukan pola yang menarik, yakni secara historis, negara-negara individualis cenderung lebih makmur secara ekonomi. Namun, ia menolak menjadikan pola ini sebagai pembenaran atas sikap superior dari satu model saja.
“Kita belum memiliki sejarah yang cukup panjang karena ekonomi liberal sebagai sebuah ideologi sebenarnya masih tergolong baru dalam keseluruhan sejarah umat manusia,” ungkapnya.
Dimensi terakhir adalah masculinity versus femininity. Aspek ini mengukur nilai dominan yang dijunjung tinggi masyarakat. Budaya maskulin lebih menekankan kompetisi, pencapaian, dan kesuksesan material. Sebaliknya, budaya feminin lebih mengutamakan keseimbangan hidup, solidaritas, dan kualitas hidup. Jepang menjadi contoh negara dengan nilai maskulinitas tinggi, sedangkan negara-negara Skandinavia dikenal memiliki budaya paling feminin di dunia.
Renato kembali menekankan bahwa tidak ada formula tunggal dalam memimpin bisnis lintas budaya. Kunci utama kepemimpinan global adalah kesediaan untuk memahami dan belajar dari perbedaan budaya yang ada.
Dengan memahami budaya, seorang pemimpin dapat membangun komunikasi yang lebih efektif, menghindari kesalahpahaman, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan produktif.
“Intinya adalah memahami apa yang perlu kita pelajari dari budaya lain dan lingkungan bisnis yang berbeda agar kita dapat menjadi pemimpin yang efektif dalam situasi tersebut,” tutupnya.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum




