Enam tahun berkecimpung sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak membuat Rifathi Syadzli ragu untuk kembali duduk di bangku kuliah. Ia dinyatakan lulus dari Program Studi Magister Akuntansi (Maksi) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM pada Wisuda Program Pascasarjana Periode IV dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,97 dan masa studi 1 tahun 9 bulan 24 hari.
Capaian yang ia jalani berdampingan dengan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Baginya, hasil tersebut lahir dari proses yang panjang dan padat, bukan sesuatu yang datang instan.
“Ibaratnya selama hampir 2 tahun studi, kuliah di Magister Akuntansi dengan ritmenya cukup padat dan itu belum termasuk pekerjaan di luar kuliah. Jadi menurut saya, hasil ini sudah cukup memuaskan,” katanya.
Sebelum menekuni dunia audit, Rifathi lebih dulu meniti karier sebagai staf akuntan di sebuah perusahaan manufaktur dan sebagai supervisor accounting di perusahaan ekspedisi pada rentang 2015-2018. Sejak 2019, ia beralih menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan empat tahun terakhir ditempatkan di bagian audit investigasi, unit yang menangani perhitungan kerugian keuangan negara pada berbagai kasus.
Pengalaman itulah yang mendorongnya melamar dua program magister sekaligus melalui jalur LPDP, yakni Magister Akuntansi UGM dan program sejenis di Universitas Indonesia. Setelah menimbang perbedaan fokus keduanya, pilihannya jatuh pada FEB UGM.
“Ternyata UGM ini menurut saya itu lebih fokus kepada sektor publiknya. Sedangkan di Universitas Indonesia itu lebih fokus kepada sektor privatnya,” ujarnya. Ia menambahkan, deretan pengajar di FEB UGM yang memiliki rekam jejak kuat di ranah sektor publik turut memperkuat keputusannya memilih kampus ini.

Gagasan tesis Rifathi lahir dari pengalamannya sendiri di lapangan sebagai auditor. Ia menyaksikan langsung bagaimana orientasi audit internal pemerintah bergeser dari sekadar mengukur kepatuhan menjadi menilai kinerja, seiring banyaknya penugasan audit kinerja yang dilakukan oleh Auditor Internal Pemerintah setiap tahun.
Mengangkat kerangka teori sensemaking dari Weick, penelitian kualitatif Rifathi menelusuri persoalan ini lewat tiga pertanyaan penelitian. Temuan pertamanya menunjukkan pola yang cukup tegas, auditor umumnya berpegang pada rambu-rambu formal dan metodologi audit, sementara auditi lebih mengedepankan fleksibilitas sesuai kondisi riil di lapangan.
“Sebagai contoh indikator pembinaan, menurut auditor, pembinaan itu harus strict to the rule. Aturannya mencakup tiga hal, yaitu mengawasi, melatih, dan memonitor. Ketiganya harus ada dalam indikator kinerja,” terangnya.
Di sisi lain, auditi kerap menghadapi kenyataan bahwa ketiga unsur tersebut mustahil dijalankan bersamaan akibat berbagai keterbatasan di lapangan. Selama tujuan program tercapai, aturan tertulis pun sering kali dikesampingkan meski secara substansi pelaksanaannya tetap berjalan.
Perbedaan cara memaknai inilah yang memengaruhi pola interaksi antara auditor dan auditi di lapangan. Ia membandingkannya dengan sejumlah negara seperti Swedia, tempat komunikasi antara kedua pihak berlangsung jauh lebih intens untuk menyamakan persepsi atas suatu indikator, sebuah ruang dialog yang menurutnya belum banyak ditemukan dalam praktik audit kinerja di Indonesia.
“Auditi cenderung defensif dan memilih diam, sementara auditor cenderung ofensif, semua poin harus dipenuhi. Tapi diamnya auditi ini bukan berarti mengiyakan,” ungkapnya.
Sikap diam tersebut, menurutnya, merupakan strategi menghindar agar tidak menjadi sasaran pemeriksaan lebih lanjut oleh auditor. Pola ini akhirnya bermuara pada rekomendasi audit yang hanya ditindaklanjuti sebatas kelengkapan administratif tanpa pernah menyentuh persoalan yang sesungguhnya. Ia menyebutnya seperti memangkas dahan tanpa pernah menyentuh akarnya karena masih menjadi persoalan klasik dalam audit kinerja pemerintah di Indonesia.
Sepanjang penyusunan tesis, Rifathi dibimbing oleh Suyanto, S.E., M.B.A., Ph.D. Ia mengenang satu fase paling menantang, yaitu ketika penelitiannya sempat berhenti hampir sebulan penuh karena analisis tematik yang digunakannya tidak mampu menampung sejumlah kode data dari lapangan. Dari kebuntuan itu, Suyanto mengusulkan pendekatan Gioia Methodology, metode yang tergolong baru dan belum lazim dipakai pada jenjang magister.
Selain itu, Rifathi menyebut proses diskusi bersama teman-teman seangkatan sebagai bagian yang paling ia kenang dari bangku Maksi. Menurutnya, waktu dua jam di kelas untuk setiap mata kuliah jauh lebih sedikit dibandingkan waktu yang mereka habiskan berdiskusi sesudahnya.
Kebiasaan itu berkembang menjadi komunitas bernama Governomics, akronim dari Governance and Economics, yang digagas Rifathi bersama beberapa rekan seangkatannya yang juga berlatar belakang praktisi.

“Sampai sekarang, walaupun saya sudah lulus dan beberapa teman alumni Governomics juga sudah lulus, kami tetap melakukan diskusi. Kami berharap Governomics bisa terus bertahan sebagai wadah untuk memfasilitasi antara akademisi dan praktisi,” ungkapnya.
Di tengah rutinitas yang terbagi antara tugas-tugas kuliah dan keluarga, satu buku terus menemani perjalanan Rifathi menyelesaikan studi magisternya, yaitu Atomic Habits karya James Clear. Buku itu ia baca berulang kali setiap kali butuh pengingat tentang cara memandang sebuah pencapaian.
“Kita sering terbalik, menentukan dulu apa yang ingin dicapai, baru kemudian memikirkan caranya. Padahal menurut James Clear, hasil besar itu bukan berasal dari target yang ambisius, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijalankan konsisten setiap hari,” jelasnya.
Cara pandang itulah yang ia bawa ke keseharian selama menempuh magister. Tanpa memasang angka IPK tertentu sebagai target di awal, Rifathi lebih memilih menjaga hal-hal kecil tetap berjalan, seperti menyempatkan diri berdiskusi dengan dosen dan rekan setiap ada kesempatan, atau segera menuntaskan tugas begitu diberikan alih-alih menundanya sampai berlarut-larut.
Hasilnya, IPK 3,97 itu datang bukan sebagai tujuan yang ia kejar, melainkan konsekuensi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ia rawat sepanjang jalan.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
