Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Korwil Yogyakarta, Sandra Pracipta, M.Acc., CPA., menyebutkan Indonesia masih kekurangan tenaga akuntan publik. Jumlah akuntan publik masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.
Menurut data The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) yang dilaporkan oleh Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan pada Februari 2023, tercatat jumlah akuntan publik yang terdaftar di Indonesia sebagai anggota aktif sebanyak 1.464 orang. Jumlah tersebut masih sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 282 juta orang.
“Jumlah akuntan di Indonesia masih jauh dari kebutuhan yang ada di Indonesia,” tuturnya Jum’at (27/9) saat menyampaikan sambutan dalam wisuda Program Profesi Akuntansi Periode I Tahun 2024 di FEB UGM.
Melihat kondisi tersebut, Sandra Pracipta mengatakan bahwa ada peluang besar untuk menjadi akuntan publik di Indonesia. Karenanya, ke depan lulusan akuntansi FEB UGM dapat menjadi akuntan yang dibutuhkan negara untuk mendukung perkembangan ekonomi yang lebih baik di masa depan.
Sementara itu, Guru Besar FEB UGM Prof. Syaiful Ali, MIS., Ph.D., Ak., CA., dalam wisuda tersebut turut menyampaikan tantangan yang dihadapi para akuntan di era digital. Kehadiran artificial intelligence (AI) memberikan tantangan sekaligus peluang bagi profesi akuntan.
“Sebaiknya kita menggunakan AI dengan bijak. Jangan anggap AI sebagai ancaman, tetapi sebagai alat bantu untuk mempermudah kehidupan manusia,” tuturnya.
Reportase: Orie Priscylla Mapeda Lumalan
Penulis: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

