Tidak pernah ada target khusus dalam benak Fransiska Anindya Putri (22) untuk menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93 dalam waktu 3 tahun 8 bulan. Gadis asal Yogyakarta yang akrab disapa Anin justru menjalani masa kuliahnya dengan prinsip sederhana, yakni memberikan yang terbaik di setiap langkahnya.
Kini, apa yang pernah ia tuliskan sebagai cita-cita di selembar kertas saat PPSMB itu akhirnya benar-benar terwujud. Anin berhasil menyelesaikan studinya dan meraih predikat wisudawan terbaik FEB UGM pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026. Baginya, capaian ini bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan membawa hasil yang tak terduga.
Pilihan Anin untuk masuk ke Prodi Manajemen FEB UGM bukan tanpa pertimbangan. Sejak awal, ia memang memiliki ketertarikan kuat pada human resources dan pengelolaan organisasi. Meski sempat mempertimbangkan program studi lain, ketertarikan itu akhirnya meyakinkannya untuk melangkah ke FEB UGM.
“Aku suka banget belajar mengetahui bagaimana suatu hal dikelola,” jelasnya.
Selama kuliah, Anin tidak hanya berfokus pada akademik. Ia aktif di BEM FEB UGM, terlibat dalam kepanitiaan Management’s Event, hingga menjalani magang sebagai compensation and benefit intern di PT Bintang Toedjoe (Kalbe Group).

Tak berhenti sampai di sana, Anin juga mengikuti berbagai kompetisi bisnis, termasuk menjadi semifinalis Gadjah Mada Business Case Competition (GMBCC) 2024. Ia bahkan meraih predikat Highest GPA di Prodi Manajemen angkatan 2022 selama dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024.
Namun, di balik deretan pencapaian itu, tantangan terbesar yang ia hadapi justru bukan soal sulitnya materi, melainkan soal menentukan prioritas. Di tengah banyaknya pilihan kegiatan, Anin harus belajar memilah mana yang benar-benar ingin ia tekuni.
“Yang sangat challenging itu justru ketika aku harus memilih prioritas. Banyak sekali yang bisa dilakukan, tapi aku nggak bisa melakukan semuanya sekarang,” ungkapnya.
Dari situlah Anin membangun strategi yang konsisten, yaitu selalu tahu mana yang menjadi prioritas. Baginya, kuliah dan belajar tetap menjadi yang utama sehingga waktu untuk diri sendiri kerap dikorbankan. Cara belajarnya pun cukup khas. Ia lebih suka membaca dan menulis dibandingkan dengan menonton video sehingga terbiasa mencicil materi jauh-jauh hari, membuat rangkuman, dan mencatat materi di kelas.
“Aku selalu belajar sampai aku merasa percaya diri untuk datang ke ujian, meskipun belum tentu aku bisa menjawab semua soal,” katanya.
Anin menilai ekosistem FEB UGM turut berperan besar dalam perjalanannya. Budaya di kelas yang menantang mahasiswa untuk mempertajam pendapat, dosen-dosen yang mengayomi, hingga staf yang suportif menjadi lingkungan yang terus mendorongnya berkembang.
Ia menekankan bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing dan tidak perlu terjebak FOMO hanya karena melihat orang lain melakukan sesuatu yang berbeda. Hal itu pula yang disampaikan saat menjadi perwakilan wisudawan dalam sambutan malam wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026.

“Ada hari-hari ketika kita merasa tertinggal, rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, serta malam-malam panjang yang diisi tugas, kekhawatiran, dan rasa lelah. Namun di tengah semua itu, kita tetap berjalan,” ujarnya di hadapan para wisudawan dan keluarga yang hadir.
Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa bertumbuh tidak selalu datang dalam bentuk pencapaian besar.
“Kadang ia hadir lewat hal-hal kecil, perlahan, nyaris terlewatkan. Sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang membawa kita sampai ke titik ini adalah karena kita memilih untuk tidak berhenti melangkah,” tegasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus berani mencoba dan mengeksplorasi peluang yang ada selama tetap sejalan dengan tujuan akhir masing-masing.
“Lakukan apa yang benar-benar menjadi keinginan dan kesenanganmu. Tapi itu bukan berarti melupakan prioritas. Jangan takut untuk terus mencoba. Karena aku percaya bahwa setiap langkah akan membawa kita jadi lebih dekat dengan cita-cita kita,” pungkasnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum





