Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2011 akan mencapai kisaran 6,0%-6,5% dan meningkat menjadi 6,1%-6,6% pada 2012. Neraca pembayaran diperkirakan mengalami surplus USD 16,4 miliar dan cadangan devisa dipastikan terus meningkat mencapai USD 112,6 miliar dari sebelumnya USD 96,2 miliar. Bahkan, investasi yang mulai meningkat sejak 2010 diperkirakan dapat berlanjut sehingga membuat struktur pertumbuhan ekonomi lebih berimbang.

Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ardhayadi, dalam kuliah umum di Auditorium Magister Sains Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Jumat (11/3). Lulusan Jurusan Akuntansi UGM tahun 1976 ini menyampaikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada 2011 ditopang ekspor akan semakin teridentifikasi dan bertambah tinggi. Sementara itu, impor tumbuh pesat seiring dengan semakin kuatnya kegiatan investasi dan konsumsi meski krisis sosial-politik di Timur Tengah dan Afrika Utara berpotensi menghambat suplai minyak dunia dan mengganggu distribusi minyak yang menyebabkan tidak terkontrolnya peningkatan harga minyak dunia. Bahkan, kenaikan harga komoditas global, baik minyak maupun pangan, diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun 2012.

Ardhayadi mengakui tingginya harga komoditas internasional jika tidak dapat dimitigasi dan dikelola secara baik akan menimbulkan goncangan di pasar uang dan saham secara cepat. Goncangan spektakuler tersebut dapat menimbulkan kepanikan para pelaku pasar global. "Kepanikan pelaku pasar yang melanda banyak negara dapat memicu terjadinya krisis," ujarnya.

Saat ini, kenaikan harga minyak semakin meningkat seiring dengan kenaikan permintaan dan faktor spekulasi yang juga meningkat. Sementara itu, harga komoditas nonmigas juga diperkirakan masih meningkat meski melambat daripada 2010 disebabkan masih tingginya permintaan, anomali cuaca, kenaikan harga minyak, dan spekulasi untuk beberapa komoditas seperti jagung dab gandum yang juga meningkat. "BI dituntut untuk berperan lebih baik lagi dalam merumuskan kebijkan dan strategi untuk menjaga kestabilan moneter dan sistem keuangan nasional," tuturnya.

Bank Indonesia dan pemerintah akan terus mempertajam program-program untuk menekan tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah. Selain itu, BI tetap berkomitmen untuk mengarahkan BI rate guna mendapat target inflasi jangka menengah menuju kisaran 3,5%. Penetapan BI rate ini dilakukan untuk menyesuaikan inflasi dan ekspekstasi inflasi mengarah pada target inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan. "Inflasi yang semakin rendah dan stabil dan disertai perbaikan kendala struktural, pertumbuhan ekonomi 7,5% di tahun 2015 dapat tercapai," pungkasnya.

 

Sumber: Gusti/UGM