Saat mendengar istilah family business, sebagian orang membayangkan usaha kecil yang dikelola secara tradisional, seperti toko kelontong atau usaha turun-temurun skala rumahan. Namun, persepsi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas dunia bisnis saat ini.
Dosen Departemen Manajemen yang menekuni kajian family business, Rocky Adiguna, S.E., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan bahwa sekitar 75-80 persen bisnis di dunia dimiliki oleh keluarga yang mencakup berbagai bentuk skala usaha. Meski demikian, bisnis keluarga kerap dipandang sebagai bisnis yang tidak profesional.
Dalam program 360 episode manajemen yang bertajuk Why Family Businesses Are Decimating in the New Generation, Rocky menjelaskan bahwa bisnis keluarga bukanlah hal yang bertentangan dengan profesionalisme. Justru, banyak merek global yang beroperasi secara multinasional merupakan perusahaan milik keluarga dengan tata kelola yang kuat. Menurutnya, kontribusi bisnis keluarga sangat signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Ada perusahaan yang berskala kecil, menengah, besar, bahkan multinasional. Mereka dominan menjadi kontributor dalam Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara,” jelasnya.
Berdasarkan peran bisnis keluarga dalam perekonomian nasional, muncul pertanyaan mengenai karakteristik yang membedakan perusahaan keluarga dan perusahaan non-keluarga. Untuk memahami keunikan perusahaan keluarga, Rocky memperkenalkan suatu model bernama Three Circles Model. Model lingkaran tersebut menggambarkan posisi keluarga, bisnis, dan kepemilikan (ownership). Dalam perusahaan keluarga, anggota keluarga dapat berperan sebagai pemilik, manajer, karyawan, atau kombinasi dari ketiganya. Situasi tersebut berbeda dengan perusahaan non-keluarga karena karyawan atau pemilik tidak selalu memiliki hubungan keluarga. Hal ini menjadi kompleks jika pengelolaan bisnis keluarga tidak diatur dengan baik.
Rocky menyampaikan kompleksitas tersebut terasa dalam konteks transisi antar generasi. Bahkan terdapat pepatah Cina yang berbunyi, “Fu bu guo san dai,” bahwa bisnis keluarga gagal bertahan hingga generasi ketiga.
“Dari 80 persen perusahaan keluarga hanya 30 persen yang mampu berlanjut ke generasi kedua dan sekitar 12 persen yang bertahan hingga generasi ketiga. Artinya, terdapat kecenderungan transisi antar generasi yang semakin sulit,” paparnya.
Meski demikian, Rocky menekankan bahwa kegagalan tersebut bukanlah hal yang tidak bisa dicegah. Sejumlah perusahaan keluarga di belahan dunia justru mampu bertahan hingga lintas generasi. Misalnya di Jepang, perusahaan bernama Hoshi Ryokan telah dikelola oleh 47 generasi sejak tahun 1200-an. Contoh lain, Zamil Group di Arab Saudi telah memasuki generasi kelima, sementara Antinori di Italia mampu bertahan hingga 25 generasi.
Selain itu, di Indonesia terdapat perusahaan keluarga yang mampu bertahan lama, seperti Ayam Goreng Mbok Berek di Yogyakarta yang bertahan hingga enam generasi. Menariknya, keberlanjutan usaha ini tidak ditopang oleh tata kelola yang kaku, melainkan oleh kesepakatan keluarga terkait penggunaan merek di setiap cabang usaha.
Namun, tidak sedikit pula perusahaan keluarga yang gagal mempertahankan bisnisnya. Rocky mencontohkan jamu Nyonya Meneer yang berdiri sejak tahun 1919 dan berhenti beroperasi pada tahun 2017. Lalu, perusahaan kopi bernama Margo Redjo di Semarang yang sudah berdiri sejak 1915 juga mengalami pasang surut akibat perubahan zaman, mulai dari zaman kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Kini Margo Redjo berupaya bangkit kembali dengan memanfaatkan sejarah dan tradisi sebagai keunggulan kompetitifnya.
Menurut Rocky, tantangan perusahaan keluarga terletak pada kemampuan mempertahankan sesuatu dan melakukan inovasi agar tetap relevan dengan pasar. Hal ini menjadi tensi antara keberlanjutan dan inovasi yang dihadapi oleh perusahaan.
“Keberlanjutan bukan hanya perkara perusahaan menghasilkan uang atau profit, tetapi juga ikatan emosional pribadi terhadap perusahaan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa perusahaan keluarga memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan non-keluarga, terutama karena adanya aspek emosional dan sosial para pemilik perusahaan. Oleh karena itu, tata kelola perusahaan yang tepat menjadi kunci agar perusahaan keluarga dapat bertahan hingga lintas generasi.
Video program 360 Family Businesses selengkapnya dapat diakses melalui:
Why Family Businesses Are Decimating in the New Generation
Penulis: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum


