Perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon semakin menjadi perhatian global. Komitmen berbagai negara untuk menekan kenaikan suhu bumi turut mendorong perusahaan untuk lebih transparan dalam melaporkan dampak lingkungan dari aktivitas bisnis mereka. Di Indonesia, upaya ini juga semakin diperkuat melalui berbagai kebijakan dan standar pelaporan keberlanjutan yang diarahkan untuk mendukung target menuju Net Zero Emission (NZE).
Dosen Departemen Akuntansi FEB UGM, Ahmad Zaki, S.E., M.Acc., Ph.D., menjelaskan bahwa perhatian terhadap pengurangan emisi karbon sebenarnya telah berkembang sejak beberapa dekade lalu melalui berbagai kesepakatan global. Salah satunya adalah Kyoto Protocol dan Paris Agreement tahun 2015 yang disepakati oleh hampir seluruh negara di dunia.
Sebagai salah satu negara yang menandatangani kesepakatan tersebut, Indonesia perlu berkontribusi dalam upaya menekan emisi karbon. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengadopsi standar pelaporan keberlanjutan yang mengacu pada standar internasional.
“Di Indonesia, saat ini telah diadopsi standar keberlanjutan berbasis International Sustainability Standards Board/ISSB yaitu IFRS S1 dan IFRS S2 yang dikenal sebagai PSPK 1 dan PSPK 2,” ungkap Zaki dalam podcast FEB UGM bertajuk Carbon Intelligence Measuring and Managing Emissions with AI.
PSPK 1 dan PSPK 2 merupakan adaptasi dari standar internasional yang berfokus pada pengungkapan informasi keberlanjutan perusahaan. Kedua standar tersebut telah disahkan oleh Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (DSK IAI) dan akan diterapkan mulai 1 Januari 2027. Dalam hal ini, kecerdasan buatan atau AI dinilai memiliki potensi besar untuk membantu perusahaan dalam proses pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian data terkait emisi karbon.
Salah satu tantangan utama dalam pelaporan keberlanjutan adalah perbedaan metode dan kerangka kerja yang digunakan oleh masing-masing perusahaan. Hal ini menyebabkan informasi yang dihasilkan seringkali sulit dibandingkan oleh para pengguna laporan.
“Entitas A, entitas B, dan entitas C di industri yang sama-sama mengungkapkan inisiatif keberlanjutannya terkait emisi karbon, tetapi informasinya bagi investor dan kreditor tidak comparable,” jelasnya.
Zaki menjelaskan bahwa dalam penghitungan emisi karbon, perusahaan umumnya mengacu pada tiga kategori utama yang dikenal sebagai scope 1, scope 2, dan scope 3.

“Scope 3 ini yang paling menantang karena datanya berada di luar perusahaan, misalnya dari pemasok atau aktivitas konsumen. Di sinilah teknologi seperti AI berpotensi membantu dalam proses pengumpulan dan analisis data,” ujarnya.
Selain AI, Zaki juga mengungkapkan integrasi teknologi seperti Internet of Things (IoT) berpotensi membantu perusahaan dalam memantau emisi karbon secara real time. Melalui teknologi tersebut, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat tanpa harus menunggu laporan keberlanjutan tahunan terbit yang jangka waktunya beberapa bulan.
Menjelang penerapan PSPK 1 dan PSPK 2 pada 2027, Zaki menilai bahwa perusahaan perlu mulai mempersiapkan strategi keberlanjutan sejak sekarang. Strategi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari laporan, tetapi juga harus terintegrasi dalam rencana bisnis dan anggaran perusahaan.
“Strategi keberlanjutan harus masuk ke dalam rencana strategis perusahaan. Manifestasinya harus dalam bentuk program yang memiliki budget,” katanya.
Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan bahwa sistem yang digunakan secara internal mampu mengakomodasi indikator keberlanjutan. Zaki mencontohkan bahwa jika perusahaan menggunakan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), maka indikator kinerja keberlanjutan perlu diintegrasikan ke dalam sistem tersebut. Dengan demikian, tujuan keberlanjutan perusahaan dapat lebih selaras dengan sistem pengendalian manajemen yang ada.
Zaki juga menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan praktik keberlanjutan di dunia bisnis. Ia menilai bahwa minat industri terhadap isu keberlanjutan akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya standar dan regulasi di bidang tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan dan kompetensi yang relevan, termasuk dalam bidang sustainability accounting.
Video program FEB UGM Podcast Carbon Intelligence Measuring and Managing Emissions with AI selengkapnya dapat diakses melalui: CarbonIntelligenceMeasuringandManagingEmissionswithAI
Penulis: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
