Afnei Ngan Billy Tumba tidak pernah menyangka menjadi wisudawan terbaik Program Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dengan capaian akademik yang membanggakan. Mahasiswa Program Magister Sains Manajemen FEB UGM angkatan 2023, ini berhasil meraih IPK 3,88 dalam masa studi 2 tahun 21 hari.
Tidak hanya mencatat capaian akademik yang tinggi, Billy juga menunjukkan rekam jejak riset yang impresif. Hingga saat ini, ia telah menghasilkan 10 publikasi ilmiah yang mencerminkan konsistensi, ketekunan, serta orientasinya dalam pengembangan keilmuan di bidang manajemen.
Perjuangan Mengejar Beasiswa
Perjalanan Billy menuju titik ini tidaklah mudah. Sebelum melanjutkan studi, ia meniti karier di bidang keuangan sebagai Financial Operations Specialist di PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) pada 2021–2022, kemudian melanjutkan pekerjaan di Pusat Rehabilitasi YAKKUM Yogyakarta hingga 2023. Di tengah kesibukan tersebut, ia mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi magister sekaligus mengejar beasiswa LPDP.
Kegagalan sempat menjadi bagian dari perjalanannya. Billy tercatat dua kali tidak lolos seleksi LPDP, masing-masing pada tahap administrasi dan wawancara. Namun, kegagalan tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Pada percobaan berikutnya di tahun 2023, ia berhasil memperoleh beasiswa LPDP dan mulai berkuliah di Magister Sains Manajemen FEB UGM.
“Gagal dua kali tidak membuat saya menyerah. Justru itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri lebih baik,” ujarnya.
Keputusan Billy memilih Program Magister Sains Manajemen tidak terlepas dari pengalaman panjangnya di dunia akademik. Sejak masa studi sarjana, ia aktif sebagai asisten dosen dan research assistant. Bahkan setelah lulus, ia tetap berkontribusi sebagai asisten riset secara freelance.
Ketertarikannya pada dunia penelitian semakin menguat ketika melihat kualitas akademik FEB UGM yang telah terakreditasi internasional AACSB. Reputasi global tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorongnya memilih program ini.
“Program ini bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki lingkungan riset yang sangat kuat,” ungkapnya.
Tantangan Kuliah
Memasuki dunia magister di UGM menjadi pengalaman yang menantang bagi Billy. Ia mengaku sempat terkejut dengan sistem pembelajaran yang menuntut kemandirian, kemampuan analisis yang tinggi, serta ritme akademik yang cepat. Tantangan yang ia hadapi adalah kemampuan bahasa Inggris. Hampir seluruh literatur, diskusi, hingga penyusunan tesis dilakukan dalam bahasa Inggris. Bahkan, ia harus mempresentasikan tesisnya di hadapan penguji internasional.
“Awalnya saya kesulitan, terutama dalam speaking. Tetapi seiring waktu dengan latihan dan tuntutan akademik, saya bisa beradaptasi,” jelasnya.
Selain itu, keberagaman latar belakang mahasiswa juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, Billy justru melihat hal tersebut sebagai peluang untuk belajar dan membangun jejaring. Ia mengandalkan strategi manajemen waktu berbasis time blocking untuk menyeimbangkan antara studi, aktivitas organisasi, dan pekerjaannya sebagai asisten riset.
Teliti Kewirausahaan Perempuan
Dalam tesisnya, Billy mengangkat topik Dynamics of Women Entrepreneurship and Ethnic Entrepreneurship. Penelitian ini tergolong unik karena menjadi salah satu yang pertama di FEB UGM yang menggunakan pendekatan mixed-method literature review, yaitu Bibliometric-Systematic Literature Review (B-SLR).
Ia menganalisis 92 artikel internasional bereputasi dari database Scopus dan Web of Science untuk memahami dinamika kewirausahaan perempuan dalam konteks etnisitas.
Melalui kerangka TCM (Theory, Context, Methodology, serta Antecedence, Decision, Outcomes), Billy mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi perempuan etnis dalam berwirausaha, mulai dari faktor individu, keluarga, hingga kebijakan pemerintah.
Temuannya menunjukkan bahwa penelitian terkait women dan ethnic entrepreneurship masih didominasi oleh konteks negara maju dan belum banyak dieksplorasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Padahal Indonesia memiliki keragaman etnis yang sangat besar. Ini menjadi peluang penelitian ke depan,” ujarnya.
Ia juga menemukan bahwa perempuan etnis sering menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan akses pendidikan, diskriminasi, hingga tekanan sosial. Namun, mereka mampu merespons melalui penguatan komunitas dan pemberdayaan sesama perempuan dalam bisnis.
Berkembang di FEB
Keberhasilan Billy tidak lepas dari peran dosen pembimbingnya, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., yang dinilainya sangat suportif dan terbuka dalam proses bimbingan. Dengan bimbingan tersebut, ia berhasil menyelesaikan tesis yang juga menjadi salah satu yang pertama diuji oleh penguji eksternal internasional di program tersebut, yaitu Prof. Renato Pereira dari ISCTE Business School, Lisbon, Portugal.
“Awalnya saya sangat gugup, tapi dukungan pembimbing membuat saya percaya diri dan bisa memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Bagi Billy, perjalanan akademik di FEB UGM bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang pembentukan karakter terutama dalam hal critical thinking, problem solving, dan kolaborasi.
Ia menekankan pentingnya semangat, kepercayaan diri, dan ketekunan dalam mencapai tujuan. Pengalamannya sebagai mahasiswa dari Papua menjadi motivasi tersendiri untuk membuktikan bahwa setiap individu memiliki potensi yang sama untuk berkembang.
Sebagai penutup, Billy membagikan prinsip hidup yang selalu ia pegang, yaitu ora et labora, berdoa dan bekerja.
“Kalau kita berdoa tanpa bekerja, itu bohong, dan kalau bekerja tanpa berdoa, itu sombong,” pungkasnya.
Penulis: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
