Buono Aji Santoso (30) merupakan salah satu dari 17 lulusan Program Magister yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yaitu 4,00, dalam Wisuda Program Pascasarjana UGM pada 22-23 April 2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Wisudawan Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM ini berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 1 tahun 6 bulan 21 hari. Sementara rerata masa studi lulusan program magister periode ini adalah 2 tahun 1 bulan dan rerata IPK adalah 3,75.
Buono mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan yang diraih dalam menjalani studi S2. Hasil yang diraihnya tidaklah diperoleh dengan mudah dan terdapat proses panjang yang penuh tantangan.
Buono merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) sejak 2018. Ia mengawali kariernya sebagai auditor yang tidak hanya bertugas sebagai pengawas pengelolaan keuangan negara, tetapi juga sebagai konsultan yang memastikan penggunaan anggaran publik dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Berangkat dari keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri dan berkontribusi lebih besar dalam sektor publik, Buono memutuskan untuk melanjutkan studi di Program Studi Magister Akuntansi FEB UGM pada Agustus 2024 lalu.
“Saya menemukan fakta bahwa prodi ini memiliki bidang yang fokus pada akuntansi publik dan memiliki kerja sama dengan BPKP untuk meningkatkan kualitas auditor internal pemerintah. Dengan ini, saya ingin memastikan setiap rupiah dari APBN benar-benar memberikan value for money dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dalam menjalani studi, Buono menerapkan kedisiplinan tinggi dalam belajar. Ia berusaha untuk selalu fokus selama perkuliahan, aktif berdiskusi, serta mencatat poin-poin penting untuk dipelajari kembali. Di tengah kesibukannya sebagai seorang profesional sekaligus kepala keluarga, ia juga mengatur waktu dengan cermat, memanfaatkan setiap jeda untuk belajar dan mengerjakan tugas.
Ia juga meraih beberapa prestasi seperti Best Presenter dalam International Student Conference yang diadakan oleh Faculty of Business Widya Mandala Surabaya Catholic University. Baginya, ini adalah pencapaian yang paling membanggakan.

“Saya baru pertama kali mengikuti International Conference dan dengan bermodalkan kemampuan speaking bahasa Inggris yang menurut saya pas-pasan, ternyata apa yang saya paparkan dapat diterima dengan baik dan memperoleh predikat Best Presenter. Tentunya hal tersebut menjadi motivasi saya untuk terus berkembang ke depannya nanti,” jelasnya.
Meski demikian, perjalanan studinya tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat mengalami berbagai tantangan dalam membagi waktu antara studi dan keluarganya.
“Memang terkadang sangat sulit untuk bisa membagi waktu belajar dan keluarga. Saya selalu ingin balance antara studi saya dan menjalankan peran saya sebagai seorang Bapak,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa sempat mengalami kegagalan saat memperoleh hasil yang kurang memuaskan pada salah satu ujian di awal semester. Pengalaman itu sempat membuatnya merasa khawatir terhadap capaian akademiknya. Namun, Buono tidak larut dalam kekecewaan. Ia memilih untuk bangkit dengan meningkatkan fokus belajar dan menantang dirinya untuk memperbaiki hasil pada ujian akhir semester.
“Pelajaran paling berharga dari pengalaman tersebut yaitu saya belajar untuk tidak menyerah sampai akhir. Saya percaya bahwa ketika kita sudah berjuang dan bekerja keras, maka apa pun hasilnya saya akan lebih ikhlas menerimanya daripada apabila saya menyerah di awal,” ungkapnya.
Buono menerapkan strategi belajar yang disiplin dan konsisten. Ia membiasakan diri untuk fokus penuh saat perkuliahan, aktif berdiskusi, serta mencatat poin-poin penting untuk dipelajari kembali. Selain itu, ia juga mengelola waktu secara efektif dengan menerapkan skala prioritas antara akademik, pekerjaan, dan keluarga.
Selama menempuh studi di FEB UGM, Buono mengaku nilai integritas dan profesionalisme menjadi fondasi utama yang membentuk karakter dan cara berpikirnya. Ia berupaya menjalani setiap proses akademik dengan penuh tanggung jawab dan menjunjung tinggi kejujuran. Profesionalisme, menurutnya, tercermin dari kesungguhan dalam mengerjakan setiap tugas dengan kualitas terbaik, bukan sekadar memenuhi kewajiban.
Di balik prestasi akademiknya, Buono juga menghadapi ujian kehidupan yang berat. Saat ia sedang menjalani masa pengerjaan tesis, Buono juga harus mendampingi ibunya yang divonis menderita kanker tiroid stadium 4. Dalam kondisi tersebut, ia termotivasi untuk menyelesaikan studi dengan maksimal dan memberikan yang terbaik bagi ibunya yang selalu mendukung Buono.
Kebahagiaan tersebut sempat dirasakan ketika ia dinyatakan lulus pada awal Maret 2026. Ibunya yang mendengar kabar tersebut menyambutnya dengan bangga.
“Saya yakin Ibu senang mendengar kabar itu. Terlihat dari raut wajah beliau yang masih saya ingat sampai sekarang. Namun, Ibu juga meminta maaf jika tidak bisa hadir di wisuda saya nanti bulan April,” tuturnya.

Namun, kenyataan berkata lain. Ibunya tidak dapat hadir bukan hanya karena kondisi fisik yang melemah, tetapi juga karena telah berpulang pada 30 Maret 2026. Kepergian sang Ibu tentunya meninggalkan duka bagi Buono, terlebih Ibu belum menyaksikan momen wisudanya di GSP. Meskipun begitu, ia tetap memegang teguh semangat dan nasihat ibu untuk terus berjuang dan belajar sampai akhir hayatnya.
Pengalaman inilah yang membentuk cara pandang dalam menjalani proses dan menghadapi tantangan. Buono semakin menyakini pentingnya ketekunan, refleksi diri, dan semangat untuk terus bertumbuh.
Ke depan, ia berkomitmen untuk mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya dalam pekerjaannya sebagai auditor di Kementerian PANRB, sekaligus berbagi pengetahuan dengan rekan kerja serta berkontribusi dalam perbaikan tata kelola keuangan publik. Dengan bekal ilmu yang diperoleh, Buono bertekad untuk terus melanjutkan kontribusinya di sektor publik, sekaligus membuka peluang untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral di masa depan.
Buono tidak lupa membagikan tips bagi mahasiswa agar dapat menyelesaikan studi secara optimal. Ia menekankan pentingnya melakukan yang terbaik pada setiap proses dan tidak mudah menyerah.
“Karena dari terus mencoba dan mengalami kegagalan itu kita justru bisa belajar banyak hal. Jangan mudah berpuas diri dan selalu kuatkan keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri dan pengetahuan yang kita miliki,” ungkapnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
