Sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di wilayah Yogyakarta. Berawal dari keresahan akan krisis sampah yang terjadi di Yogyakarta, Alan Putra Wijaya, mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UGM bersama dengan rekan mahasiswa UGM lainnya berani mengambil langkah inovatif untuk mengurai permasalahan sampah melalui ide bisnis mengolah sampah menjadi produk furnitur atau perabotan.
Alan dan Muhammad Fikri Iedfi Darmawan, mahasiswa program studi Teknik Infrastruktur Lingkungan, Fakultas Teknik UGM untuk membuat ide ini menjadi nyata melalui melalui start up bernama Renou yang berlokasi di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Mereka pun bekerja sama dengan Tempat Pengelolaan Sampah- Reuse, Reduce, Receycle (TPS3R).
“Kami bekerjasama dengan TPS3R setempat agar dapat memberikan dampak dan edukasi langsung kepada lingkungan sekitar. Kami mengolah limbah plastik menjadi furnitur dan aksesoris yang fungsional,” jelas Alan.
Alan menjelaskan bahwa ide ini berangkat dari tugas mata kuliah di semester 4 untuk membuat ide bisnis. Karena pada saat itu Yogyakarta sedang mengalami krisis sampah, lahirlah ide yang dapat berkontribusi menyelesaikan masalah tersebut.
“Bagi kami masalah sampah yang sudah ada itu sangatlah besar, baik dari hulu maupun di hilir. Masalah sampah tidak akan dengan mudah diselesaikan dengan sendiri atau satu pihak saja dan tidak akan selesai 5-10 tahun, bahkan mungkin perlu berpuluh-puluh tahun untuk menangani persoalan sampah ini. Sebagai anak muda kita masih punya waktu 40-50 tahun untuk berkontribusi pada masyarakat dan negara,” paparnya.
Lebih lanjut Alan mengungkapan Renou mengolah limbah plastik jenis jenis sampah High-Density Polyethylene (HDPE) sebagai bahan baku produk mebel dan perabotan. Alasannya, limbah plastik jenis ini banyak dijumpai di masyarakat. Sampah yang mencemari lingkungan dan dianggap menjijikan ini disulap menjadi produk fungsional dan estetik
Bisnis Renou mulai berjalan pada pertengahan tahun 2025 lalu. Dalam perjalanannya, Alan mengaku tidaklah mudah menjalankan bisnis ini sembari membagi waktu dengan kuliah. Ditambah, saat itu ia sedang menjalani program dual degree di Toulouse Business School, Prancis sehingga terdapat banyak hal yang perlu disesuaikan seperti jam kerja, waktu meeting karena adanya perbedaan waktu sekitar enam jam.
“Sebelumnya, saat masih di Indonesia membagi waktu masih bisa dibilang sangatlah mudah. Namun sekarang dengan adanya perbedaan waktu yang jauh dan kegiatan kuliah di Prancis ini lumayan banyak, maka banyak pekerjaan yang akhirnya di-cover oleh kolega saya,” tuturnya.
Kedepannya, Alan berkeinginan agar Renou dapat terus memberikan dampak sebesar-besarnya dalam industri pengelolaan limbah. Dalam jangka panjang, ia berharap bahwa Renou akan mampu terlibat dalam proses pengelolaan limbah mulai dari hulu hingga hilir. Meskipun dengan usianya yang masih muda, Alan yakin bahwa harapan untuk mewujudkan hal tersebut pasti akan selalu bisa menjadi nyata.
Alan juga berpesan kepada para mahasiswa. Ia mendorong kepada anak-anak muda untuk selalu berkarya dan memberikan kontribusi kepada masyarakat dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Dari situ, bisa menjadi satu langkah bagi anak-anak muda untuk berkontribusi kepada negara.
“Waktu yang kita miliki masih banyak, bet on yourself, do what you can do, and dream big!” tegasnya.
Penulis: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
