Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas sekaligus inklusif. Hal tersebut selaras dengan kebijakan UGM untuk membuka akses pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penerapan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berlandaskan prinsip keadilan.
Sistem UKT di UGM dirancang berdasarkan prinsip keadilan melalui subsidi silang dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi keluarga. Bantuan maupun pengurangan UKT diberikan secara selektif kepada mahasiswa yang memenuhi kriteria berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Selama kuliah, mahasiswa juga memiliki banyak peluang untuk mendapatkan dukungan finansial melalui program beasiswa yang berasal dari pemerintah, universitas, fakultas, alumni, perusahaan, maupun mitra eksternal.
Berbagai program bantuan pendidikan tersebut telah membantu banyak mahasiswa untuk mengakses dan menyelesaikan pendidikan tinggi. Di samping melalui beasiswa, mahasiswa FEB UGM juga memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman sekaligus dukungan finansial melalui program asisten dosen, asisten peneliti, maupun pekerjaan paruh waktu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan akademik. Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai aktivitas tersebut tidak hanya membantu dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja. Salah satunya dialami oleh Love’s Nurani Hasan, mahasiswa Program Studi Akuntansi FEB UGM angkatan 2024. Mahasiswi asal Kelurahan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur, ini diterima di FEB UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Saat pertama kali dinyatakan lolos di UGM, Love’s sempat diliputi kekhawatiran mengenai biaya pendidikan karena kondisi ekonomi keluarganya yang sederhana. Namun, melalui program pembebasan UKT 100 persen serta dukungan Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dari pemerintah, ia dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya kuliah hingga lulus.
“Awalnya saya khawatir tidak bisa kuliah karena kondisi ekonomi keluarga. Namun, setelah mendapatkan beasiswa, saya merasa lebih tenang dan bisa fokus belajar,” ujarnya.
Tidak hanya aktif menjalani perkuliahan, Love’s juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan diri di kampus. Ia aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan dan menjalani pekerjaan paruh waktu di Unit Admisi, Kemitraan, dan Alumni FEB UGM.
“Terhitung sudah hampir dua tahun saya menjadi asisten part-time di FEB UGM, dan hingga sekarang itu menjadi salah satu hal yang paling saya syukuri. Dari pengalaman tersebut, saya bisa lebih mandiri secara finansial,” ungkapnya.
Pengalaman bekerja di lingkungan kampus tersebut juga membuka berbagai kesempatan baru bagi dirinya. Selain memperoleh tambahan penghasilan, Love’s mengaku mendapatkan banyak tawaran untuk terlibat sebagai Master of Ceremonies (MC), talent, maupun sebagai bagian dari berbagai penyelenggaraan acara.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa bekerja paruh waktu di FEB UGM juga memberikan pengalaman praktis yang sangat berharga tentang dunia kerja, mulai dari membangun komunikasi profesional, mengelola tanggung jawab, hingga beradaptasi dengan berbagai situasi yang hanya dapat dipelajari melalui pengalaman langsung.
“Saya juga berkesempatan bertemu dan belajar dari banyak orang hebat. Yang paling berkesan, FEB menghadirkan lingkungan kerja yang hangat dan menyenangkan. Sebagai anak rantau, hal itu sangat berarti bagi saya karena membuat saya merasa diterima, didukung, dan memiliki ruang untuk bertumbuh,” tuturnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Azahra Ahda Sabila, mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UGM angkatan 2023 yang menerima beasiswa dari Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) Angkatan 1996. Beasiswa tersebut telah diterimanya sejak awal semester gasal tahun akademik 2025/2026.
Azahra mengaku bahwa bantuan tersebut memberikan dampak besar bagi kelangsungan studinya. Menurutnya, dukungan finansial yang diberikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama menempuh pendidikan, tetapi juga meringankan beban orang tua.
“Beasiswa ini sangat berarti dalam menunjang kebutuhan hidup sehari-hari saya selama berkuliah. Dukungan finansial ini secara signifikan meringankan beban mama saya yang saat ini sudah pensiun dan baru saja menjalani operasi setelah mengalami kecelakaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa beasiswa tersebut turut mendukung kelancaran mobilitas dan aktivitas akademiknya pada semester ini. Sebelumnya, Azahra baru saja menyelesaikan program magang selama 4 bulan di PT HK Realtindo, Jakarta, sebagai bagian dari pemenuhan mata kuliah konversi Kepemimpinan X.
Azahra menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada KAFEGAMA atas dukungan yang diberikan selama dirinya menempuh pendidikan di FEB UGM. Ia berkomitmen untuk menyelesaikan studi dengan prestasi terbaik serta berharap dapat mengikuti jejak para alumni dengan memberikan kontribusi serupa bagi mahasiswa yang membutuhkan di masa mendatang.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menyampaikan bahwa FEB UGM, sebagai bagian dari UGM, terus berupaya memastikan bahwa mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Prinsip keberpihakan kepada mahasiswa yang membutuhkan menjadi bagian penting dari upaya UGM dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagai bagian dari komitmen untuk menciptakan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan, FEB UGM secara kontinu juga menyalurkan berbagai program bantuan pendidikan kepada mahasiswa, salah satunya melalui program beasiswa FEB UGM yang berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA).
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
