Memahami kebutuhan dan pengalaman masyarakat merupakan langkah awal dalam menciptakan inovasi yang berdampak. Guru Besar bidang Inovasi dan Kewirausahaan FEB UGM, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., mengajak puluhan mahasiswa peserta Global Summer Week 2026 untuk mengembangkan solusi dengan menjadikan empati sebagai fondasi proses inovasi melalui workshop “Empathy and Inclusive Design Thinking”.
Nurul menjelaskan bahwa pendekatan design thinking menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap proses inovasi.
“Prinsip utama dari design thinking adalah desain yang berpusat pada manusia (human-centred design). Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk menggunakan empati agar dapat memahami kebutuhan,” jelasnya Senin (13/07/2026).
Ia memperkenalkan lima tahapan dalam design thinking yang bersifat non-linear, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test sebagai upaya untuk menciptakan inovasi yang bersifat inklusif. Proses tersebut dimulai dari memahami pengalaman kelompok sasaran, merumuskan persoalan, mengembangkan berbagai alternatif solusi, membuat purwarupa, hingga mengujinya kembali kepada pengguna agar solusi yang dihasilkan benar-benar relevan.
Nurul mengatakan sebuah ide bisnis seharusnya tidak dimulai dari produk yang ingin dijual, melainkan dari persoalan yang ingin diselesaikan.
“Pertanyaan pertama yang harus diajukan ketika ingin membangun sebuah ide bisnis adalah who needs this and why? Siapa yang membutuhkan ide tersebut dan mengapa mereka membutuhkannya?” terang Nurul.
Untuk menunjukkan bagaimana empati dapat diterjemahkan menjadi inovasi, peserta mempelajari sejumlah contoh perusahaan yang berhasil membangun bisnis sekaligus menciptakan dampak sosial. SukhaCitta memberdayakan petani kapas melalui industri fesyen berkelanjutan, Fairphone menghadirkan telepon pintar modular sebagai respons terhadap rantai pasok elektronik yang kurang transparan, sementara Too Good To Go mengurangi limbah makanan dengan menghubungkan konsumen dan pelaku usaha makanan.
Di sesi berikutnya pada Rabu (15/07/2026), peserta berbagi gagasan yang lahir berangkat dari isu nyata, mulai dari pemberdayaan petani, akses air bersih, kesenjangan pendidikan, pemanfaatan limbah makanan, hingga peningkatan inklusivitas bagi penyandang disabilitas di dunia kerja. Ada pula kelompok yang merancang solusi untuk memperluas akses pembelajaran bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Pada sesi lanjutan, setiap kelompok mempresentasikan gagasan mereka dan memperoleh masukan untuk menyempurnakan solusi yang dirancang. Ide-ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi model bisnis dan dituangkan ke dalam Business Model Canvas (BMC) sebagai tahap awal penyusunan purwarupa.
Melalui workshop ini, peserta tidak hanya belajar memahami sebuah permasalahan, tetapi juga mengubahnya menjadi solusi yang lebih terstruktur. Berbagai ide yang lahir dari isu sosial dan lingkungan menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan pondasi tersebut, peserta diharapkan mampu terus mengembangkan gagasan mereka menjadi solusi yang dapat memberikan dampak nyata.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
