Tiga mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berkesempatan mengikuti Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College (NUSC) di Singapura. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Fazmi Rizki Al Ghifari (Manajemen 2024), Clairina Elvina Indrian (Akuntansi 2024), dan Jovita Melinda Susanti (Manajemen 2024).
Program yang berlangsung pada 5-18 Juli 2026 ini mempertemukan 300 peserta dari berbagai negara Asia untuk belajar, bertukar budaya, membangun jejaring, serta mengembangkan kapasitas melalui kolaborasi lintas negara. Peserta berasal dari berbagai negara, termasuk negara-negara ASEAN, China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Keinginan mengikuti program summer course menjadi salah satu alasan Fazmi dan Jovita mendaftarkan diri dalam AUS 2026. Clairina kemudian turut tertarik setelah memperoleh informasi lebih lanjut mengenai program tersebut melalui Office of International Affairs (OIA) dan GREAT FEB UGM.
Menurut ketiganya, persiapan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pendaftaran. Selain memastikan kemampuan bahasa Inggris melalui English Proficiency Test (EPT), peserta perlu mempersiapkan CV, motivation letter, hingga dokumen perjalanan seperti paspor.
“Persiapannya harus benar-benar matang, mulai dari EPT, CV, motivation letter, sampai memastikan paspor masih siap digunakan. Dokumennya juga perlu di proofread sebelum dikirim,” ucap Clairina.
Pada minggu pertama, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran melalui panel session dan learning journey yang membahas ketiga subtema AUS 2026. Learning journey menjadi salah satu bagian yang paling berkesan karena peserta tidak hanya memperoleh materi secara teoritis, tetapi juga berkesempatan mengunjungi komunitas dan bisnis yang berkaitan langsung dengan topik yang dipelajari.

Bagi Jovita, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif sekaligus mempererat hubungan antarpeserta.
“Yang paling berkesan buat aku adalah learning journey karena kita bisa langsung belajar dari komunitas atau bisnis yang menerapkan subtema yang sudah dipelajari. Jadi, belajarnya lebih interaktif dan bonding dengan peserta lain juga lebih terasa,” tutur Jovita.
Sementara itu, Fazmi mengikuti sejumlah learning journey yang membahas sustainability, heritage, dan culture. Salah satu sesi yang paling membekas baginya adalah Growthbeans, yang dikemas dalam format menyerupai board game dengan tema kesehatan mental.
Menurut Fazmi, sesi tersebut menjadi menarik karena peserta dari berbagai negara dapat terlibat secara aktif dalam diskusi.
“Yang paling berkesan buat aku itu Growthbeans karena formatnya seperti board game tentang komunitas dan kesehatan mental. Diskusinya cukup intens dan peserta dari berbagai negara benar-benar aktif berpartisipasi,” jelas Fazmi.
Setelah menyelesaikan rangkaian pembelajaran selama satu minggu, peserta kemudian mulai mengembangkan proyek dengan pendampingan mentor.
Dalam pengerjaan proyek, Clairina memilih mengangkat isu ekonomi sirkular melalui pemanfaatan pelepah pisang. Bersama timnya, ia mengembangkan ide bernama “Piring Ijo”, yaitu proyek yang memanfaatkan pelepah pisang sebagai bahan baku pembuatan piring dan alat makan.
Ide tersebut berangkat dari melimpahnya sumber daya pelepah pisang di daerah Mangunan, Yogyakarta. Melalui pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.
Proyek “Piring Ijo” kemudian berhasil lolos ke tahap presentasi secara daring di hadapan investor bersama 30 tim lainnya. Dari tahap tersebut, tim Clairina terpilih sebagai salah satu dari 15 penerima seed grant.
“Prosesnya cukup padat karena proposal harus selesai dalam waktu dua sampai tiga hari. Tetapi selama prosesnya kami tetap didampingi mentor, jadi sangat membantu,” ungkap Clairina.
Setelah memperoleh seed grant, Clairina dan tim akan melanjutkan implementasi proyek selama enam bulan di daerah yang dituju dengan pendampingan mentor. Tidak hanya Clairina, Fazmi juga berhasil menjadi salah satu penerima seed grant melalui proyek “AlirCita” yang berfokus pada mitigasi bencana banjir.
Proyek tersebut bertujuan memperkuat komunitas yang rentan terhadap bencana melalui digitalisasi sistem peringatan dini dan pelaporan. Solusi yang dikembangkan memanfaatkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung sistem yang sebelumnya masih dilakukan secara manual di Majalaya, Bandung.
“Proyek ini berangkat dari kondisi sistem peringatan dini dan pelaporan banjir di Majalaya yang masih dilakukan secara manual. Kami mencoba memanfaatkan teknologi dan workshop supaya masyarakat bisa mendapatkan edukasi dan peringatan lebih awal,” jelas Fazmi.

Seperti tim Clairina, Fazmi dan timnya juga akan menjalani tahap implementasi selama enam bulan di daerah sasaran. Program seed grant tersebut memberikan dukungan pendanaan sebesar 5.000 dolar Singapura untuk pengembangan proyek.
Dalam proses persiapan hingga keberangkatan ke Singapura, ketiganya mengaku memperoleh dukungan dari GREAT FEB UGM melalui informasi administratif dan persyaratan program. Menurut mereka, respons yang diberikan ketika berkonsultasi mengenai prosedur maupun persyaratan berlangsung cepat sehingga membantu proses persiapan.
Selain dukungan administratif, keikutsertaan dalam AUS 2026 juga dapat dikonversikan menjadi SKS. Hal tersebut membuat pengalaman mengikuti program internasional dapat terintegrasi dengan proses akademik di FEB UGM.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan ketiganya selama mengikuti AUS 2026. Tidak hanya memperoleh pengalaman akademik dan internasional, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan proyek berbasis aksi komunitas.
Menutup pengalaman tersebut, ketiganya berpesan kepada mahasiswa FEB UGM yang ingin mengikuti program internasional agar tidak ragu mencari informasi dan mencoba berbagai kesempatan yang tersedia.
“Jangan takut untuk mencoba. Rajin cari informasi, punya rencana yang jelas, dan berani mengambil kesempatan yang ada,” pesan Fazmi.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
