Dua setengah abad setelah Adam Smith menerbitkan An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, pemikiran ekonom asal Skotlandia tersebut masih menjadi bahan diskusi dalam memahami pertumbuhan ekonomi, produktivitas, pasar, perdagangan, hingga peran pemerintah.
Memperingati 250 tahun penerbitan karya monumental tersebut, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama Adam Smith Business School, University of Glasgow menggelar forum bertajuk “Relevance of Adam Smith’s Thinking in The Wealth of Nations for the Current Economic Development” pada Jumat (21/8/2026) di Auditorium Gedung Pusat Pembelajaran FEB UGM.
Forum ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan global 250 tahun The Wealth of Nations yang diselenggarakan University of Glasgow dan Adam Smith Business School bersama berbagai institusi mitra di dunia. FEB UGM menjadi salah satu mitra internasional dalam rangkaian tersebut.
Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA., menyampaikan bahwa peringatan 250 tahun The Wealth of Nations menjadi momentum untuk kembali melihat pemikiran Adam Smith dalam konteks tantangan ekonomi masa kini.
“Dua setengah abad telah berlalu, tetapi pemikiran Smith mengenai pembagian kerja, dinamika pasar, dan peran negara masih jauh dari sekadar peninggalan sejarah. Bagi Indonesia, sebagai negara berkembang yang dinamis dan tengah menghadapi kompleksitas pembangunan modern, pemikiran tersebut tetap menjadi pertanyaan yang relevan dan terus hidup,” paparnya.
Didi menyampaikan bahwa forum tersebut menjadi jembatan antara kajian akademik dan perumusan kebijakan yang relevan serta dapat diimplementasikan. Kolaborasi dengan ini juga kian memperkuat hubungan akademik antara FEB UGM dan Adam Smith Business School, University of Glasgow sekaligus membuka ruang untuk mengkaji pemikiran Adam Smith secara lebih kontekstual. Pemikiran Smith tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai perspektif yang tetap dinamis untuk memahami serta merespons berbagai pilihan strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia saat ini.

Dekan Adam Smith Business School, University of Glasgow, Prof. Wendy Loretto menyampaikan bahwa peringatan 250 tahun publikasi The Wealth of Nations menjadi momentum untuk mengkaji kembali pemikiran Adam Smith dalam menghadapi tantangan dunia saat ini. Menurutnya, meskipun dunia kini menghadapi persoalan yang tidak pernah dibayangkan Smith, seperti kecerdasan artifisial, perubahan iklim, dinamika geopolitik, ketidakpastian, dan perubahan demografi, sejumlah pertanyaan fundamental yang diangkat Smith tetap relevan.
Wendy juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara University of Glasgow dan UGM dalam memperluas diskusi akademik mengenai pemikiran Adam Smith. Ia menyebut kemitraan Adam Smith Business School, University of Glasgow dan FEB UGM yang telah terjalin sejak 2023 melalui program double degree, pertukaran staf, dan kolaborasi riset sebagai fondasi penting untuk terus dikembangkan. Ia berharap diskusi tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memahami pemikiran Adam Smith, tetapi juga mendorong akademisi, peneliti, mahasiswa, pemimpin bisnis, dan pembuat kebijakan untuk berkontribusi dalam membentuk masa depan kemajuan ekonomi dan sosial.
Melalui forum ini, FEB UGM dan Adam Smith Business School tidak sekadar mengenang karya yang terbit pada 1776 tersebut. Penyelenggaraan forum di Indonesia membuka ruang pembahasan khusus mengenai relevansi pemikiran Adam Smith terhadap kondisi Indonesia. Salah satu perhatian utama Smith adalah mengapa sebagian negara menjadi kaya sementara negara lainnya tidak, dan perjalanan Indonesia menuju keluar dari status middle-income country berkaitan dengan banyak faktor yang telah diidentifikasi Adam Smith. Pembagian kerja dan produktivitas berkaitan dengan kondisi demografi Indonesia serta kesenjangan keterampilan. Populasi usia produktif yang besar hanya dapat meningkatkan output apabila memiliki keterampilan yang sesuai dan dapat terserap dalam pekerjaan.
Forum ini menghadirkan tiga narasumber yakni Professor Soner Baskaya dari Adam Smith Business School, University of Glasgow, dan dua akademisi FEB UGM yaitu Denni Puspa Purbasari, Ph.D., dan Rimawan Pradiptyo, Ph.D.
Professor Soner Baskaya membawa perspektif ekonomi moneter dan pengalaman sebagai mantan bankir sentral. Fokus keilmuannya mencakup kebijakan moneter, bank sentral, stabilitas keuangan, arus modal, kebijakan makroprudensial, serta pasar tenaga kerja. Perspektif tersebut akan dikaitkan dengan pembahasan Adam Smith mengenai modal, uang, dan perbankan.
Sementara itu, Dr. Denni Puspa Purbasari membahas pemikiran Adam Smith dari perspektif ekonomi tenaga kerja dan kebijakan pengembangan keterampilan. Pengalamannya memimpin Program Management Office Kartu Prakerja menjadi salah satu konteks menarik untuk membahas hubungan antara produktivitas, pembagian kerja, pendidikan, keterampilan, serta peran pemerintah.
Adapun Dr. Rimawan Pradiptyo membawa perspektif ekonomi perilaku dan eksperimental. Penelitiannya mengenai perilaku manusia, ekonomi kejahatan, korupsi, dan desain sanksi akan membuka diskusi mengenai bagaimana pemikiran Adam Smith tentang motivasi manusia, keadilan, aturan, dan institusi dapat dibaca melalui perkembangan ilmu ekonomi modern.
Forum ini tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai relevansi pemikiran Adam Smith bagi kebijakan ekonomi Indonesia saat ini. Melalui kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat hubungan kerja sama antara FEB UGM dan Adam Smith Business School, University of Glasgow.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
