Perlahan, Maëli Inès Lagnide mengoleskan cat ke permukaan topeng kayu di hadapanya. Sapuan kuas mulai memberi warna pada wajah topeng yang semua polos. Bagi mahasiswa asal Rotterdam School of Management itu, proses melukis topeng kayu menjadi sebuah pengalaman baru yang cukup berkesan
“Saya sangat menikmati sesi melukis karena bisa membuat saya menjadi fokus pada satu hal, memperlambat tempo, dan membiarkan kreatifitas kita yang berbicara,” ungkap Maëli.
Pengalaman melukis topeng ini Maëli peroleh saat mengikuti Cultural Immersion Day di desa wisata Kembang Arum, Turi, Sleman bersama 71 mahasiswa internasional dari 42 universita di dunia yang mengikuti program student exchange maupun double degree di FEB UGM selama satu semester kedepan.

Lain halnya dengan Cole Davis Lynch, mahasiswa dari University of Victoria, Kanada. Ia justru sangat tertarik dengan Jemparingan, olahraga panahan tradisional Jawa yang memiliki teknik dan cara bermain yang khas.
Bagi Cole pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berbeda dari olahraga panahan yang biasa ia kenal. Salah satu hal yang paling menarik perhatiannya adalah posisi tubuh saat memanah. Jika panahan pada umumnya dilakukan sambil berdiri, Jemparingan dilakukan dalam posisi duduk.
“Hari ini sangat seru! Sebuah pengalaman yang sangat baru karena di sini berpanah dilakukan dengan cara duduk, berbeda dengan di Kanada yang dilakukan sambil berdiri. Itu sangat keren!” ujarnya.

Kegiatan kebudayaan dalam Cultural Immersion Day 2026 menjadi salah satu bagian dari kegiatan para mahasiswa internasional FEB UGM untuk mengenal dan merasakan langsung bagaimana budaya Jawa dijalankan. Para mahasiswa internasional memulai perjalanan eksplorasi budaya ini dengan mengenakan busana tradisional jawa, yaitu surjan untuk para mahasiswa dan kebaya untuk para mahasiswi. Tidak lupa, lilitan kain jarik dengan motif batik khas yogyakarta juga membawa kesan otentik bagi mereka.
Para mahasiswa internasional diajak untuk mengikuti berbagai macam aktivitas tradisional jawa. Pertama, membuat mainan tradisional dari daun janur untuk dikreasikan menjadi berbagai bentuk seperti keris, burung, dan bunga. Kedua, melukis topeng tradisional Jawa yang terbuat dari kayu dengan berbagai warna. Terakhir, bermain Jemparingan atau aktivitas olahraga panahan yang berasal dari jawa dan memiliki teknik tersendiri.
Pengalaman tersebut menjadi penting bagi para mahasiswa internasional yang akan menghabiskan satu semester di Yogyakarta. Di tengah kehidupan akademik yang akan mereka jalani, budaya menjadi pintu masuk untuk memahami lingkungan sosial tempat mereka tinggal.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum





