Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. Nurul Indarti, Sivilokonom., M.Si., Ph.D., dipercaya menjadi Associate Editor Journal of Entrepreneurship in Emerging Economies (JEEE), jurnal internasional terbitan Emerald yang terindeks Scopus dan Web of Science serta berada pada peringkat Q1 Scopus. Ia mulai menjalankan peran tersebut sejak April 2025 lalu.
Ia terpilih sebagai Associate Editor JEEE tidak lepas dari rekam jejak akademik khususnya bidang entrepreneurship. Lebih dari dua dekade Nurul menekuni bidang tersebut mulai dari entrepreneurial intention, SMEs, innovation, ethnic entrepreneurship, women entrepreneurship, hingga social entrepreneurship dan sustainability. Selain aktif melakukan penelitian dan publikasi, ia memiliki pengalaman sebagai reviewer dan telah terlibat dengan JEEE sejak 2020. Hingga saat ini, enam artikelnya dengan tema beragam di bidang entrepreneurship telah dipublikasikan di jurnal tersebut.
Bagi Nurul, posisi Associate Editor merupakan bentuk tanggung jawab untuk turut menjaga kualitas pengetahuan yang dipublikasikan. Dalam peran tersebut, ia terlibat dalam proses penilaian manuskrip dengan memperhatikan pentingnya pertanyaan penelitian, ketepatan metode, kejelasan kontribusi, serta kualitas proses peer review.
“Menjadi Associate Editor bagi saya bukan sekadar memiliki posisi dalam sebuah jurnal. Kita ikut bertanggung jawab terhadap kualitas pengetahuan yang nantinya dipublikasikan,” ujar Nurul
Dalam menjalankan perannya, Nurul ingin mendorong penelitian dari emerging economies agar tidak berhenti pada keunikan konteks atau data yang digunakan. Menurutnya, penelitian perlu mampu membawa temuan dari konteks lokal ke dalam percakapan akademik yang lebih luas.
Ia melihat salah satu tantangan penelitian dari emerging economies adalah fenomena yang menarik belum selalu diikuti kemampuan untuk menunjukkan kontribusi terhadap perkembangan teori. Karena itu, proses editorial perlu diarahkan agar dapat membantu penulis memperkuat pertanyaan penelitian, argumentasi, metode, dan kontribusi ilmiahnya.
“Menurut saya, emerging economies menarik bukan hanya karena konteksnya berbeda atau unik. Kalau alasannya hanya karena “Indonesia berbeda”, itu belum cukup menjadi kontribusi akademik,,” tuturnya.
Nurul mengatakan hal yang lebih menarik adalah ketika fenomena di emerging economies menunjukkan bahwa teori yang selama ini digunakan ternyata belum cukup mampu menjelaskan apa yang terjadi. Ia menyebutnya sebagai insufficiency of explanation. Banyak teori entrepreneurship dikembangkan dalam lingkungan dengan institusi dan pasar yang relatif mapan. Sementara entrepreneur di emerging economies sering bekerja dalam kondisi yang sangat berbeda seperti sumber daya terbatas, institusi formal belum selalu kuat, informalitas tinggi, perubahan berlangsung cepat, dan keluarga serta komunitas sering mempunyai peran yang besar.
“Emerging economies bukan sekadar research setting. Ia bisa menjadi ruang untuk menguji, menantang, dan mengembangkan teori,”urai Guru Besar bidang Kewirausahaan dan Inovasi ini.
Ia berharap keterlibatannya sebagai Associate Editor dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi FEB UGM. Menurutnya, berada dalam jajaran editorial jurnal internasional memungkinkan akademisi terlibat langsung dalam proses bagaimana pengetahuan dinilai, diperdebatkan, dan dikembangkan dalam komunitas akademik global.
Nurul menyebutkan bahwa pengalaman tersebut juga memberikan pembelajaran mengenai standar jurnal internasional, penilaian terhadap kebaruan dan kontribusi penelitian, penempatan manuskrip dalam literatur, serta proses peer review. Pembelajaran ini juga dapat dibagikan kepada kolega, peneliti muda, dan mahasiswa doktoral di FEB UGM.
“Saya juga berharap dapat membuka lebih banyak ruang untuk kolaborasi dan jejaring internasional Manfaatnya bukan hanya visibility, tetapi juga institutional learning. Saya berharap keterlibatan ini ikut membawa nama FEB UGM dan Indonesia semakin hadir dalam percakapan akademik internasional,” tuturnya.
Bagi peneliti muda Indonesia, termasuk peneliti di FEB UGM, Nurul berpesan agar publikasi tidak menjadi titik awal dalam merancang penelitian. Peneliti perlu terlebih dahulu menemukan persoalan ilmiah yang penting untuk dipahami, kemudian membangun penelitian berdasarkan pemahaman terhadap perkembangan literatur dan kontribusi yang ingin diberikan.
Ia juga mengingatkan bahwa proses publikasi membutuhkan ketekunan. Revisi maupun penolakan merupakan bagian dari perjalanan akademik yang dapat menjadi ruang untuk belajar dan memperbaiki kualitas penelitian. Pada akhirnya, menurut Nurul, jejak akademik tidak hanya ditentukan oleh jumlah publikasi, tetapi juga oleh rasa ingin tahu, kedisiplinan terhadap data, keterbukaan terhadap kritik, dan ketekunan untuk terus memperbaiki karya.
“Peneliti yang baik bukan hanya yang banyak menghasilkan publikasi, tetapi yang memiliki rasa ingin tahu, disiplin terhadap data, terbuka terhadap kritik, dan mempunyai ketekunan untuk terus memperbaiki karyanya. Pada akhirnya, itulah jejak akademik yang kita tinggalkan,” pungkasnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
