Transisi dari masa SMA ke dunia perkuliahan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi mahasiswa baru. Perbedaan kultur dan lingkungan sering kali menyebabkan mahasiswa baru mengalami kesulitan beradaptasi, yang berdampak pada pencapaian akademis maupun kesehatan mental mereka, terutama pada semester awal. Lantas bagaimana mahasiswa bisa mewujudkan study-life balance?
Menjawab masalah ini, Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM bersama KarirLab menyelenggarakan pelatihan soft skill bertajuk “Achieving Study-Life Balance for Optimal Performance and Well-Being”. Pelatihan ini dilaksanakan secara luring di Auditorium Pertamina Tower FEB UGM, serta di Auditorium Pusat Pembelajaran selama dua hari yaitu 8-9 Oktober 2024.
Dalam pelatihan tersebut, Sanidya Prabaswara, psikolog klinis, menyampaikan sejumlah strategi dan tips untuk menjaga keseimbangan hidup dan studi bagi mahasiswa. Sanidya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan kuliah dan kehidupan pribadi bagi mahasiswa baru. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengenal diri sendiri dan memahami bahwa stres tidak selalu bersifat negatif.
“Mengenal diri sendiri merupakan bagian dari refleksi dan kesadaran pribadi. Selain itu, sebenarnya stres juga tidak selalu buruk,” ujar Sanidya.
Ia membedakan antara stres positif (eustress) dan stres negatif (distress). Eustress adalah jenis stres yang memotivasi individu untuk bekerja lebih baik, misalnya ketika merasa terdorong untuk belajar untuk ujian yang akan datang. Sebaliknya, distress merupakan jenis stres yang justru menurunkan kinerja dan memengaruhi kesehatan mental, misalnya ketika menghadapi ujian yang sulit hingga merasa tertekan dan kehilangan motivasi belajar. “Namun, perlu diingat bahwa kita tak bisa menyamaratakan ini untuk semua orang. Bisa saja satu situasi yang kita anggap stres justru tidak stres bagi orang lain. Hal ini wajar karena penyebab stres pada setiap orang berbeda-beda,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sanidya menjelaskan konsep study-life balance, yaitu titik keseimbangan atau equilibrium antara kehidupan akademik dan kehidupan pribadi. Hal ini hanya dapat dicapai ketika seseorang mampu memprioritaskan dan mengalokasikan waktunya secara proporsional. “Seimbang berarti elemen-elemen yang berbeda di dalamnya diposisikan secara proporsional, berdasarkan prioritas dan kebutuhan kita. Artinya, kita tahu kapan untuk istirahat dan kapan harus belajar,” terang Sanidya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga study-life balance bagi mahasiswa agar dapat mengelola energi dengan lebih baik. Dengan keseimbangan yang baik, mahasiswa dapat mengembangkan kebiasaan belajar yang sehat dan berkelanjutan, tanpa merasa tertekan oleh stres yang berlebihan. Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan ini adalah melalui perawatan diri, baik secara fisik maupun mental.
Sanidya juga membagikan tips untuk melakukan perawatan diri ini, seperti mengenali kebutuhan diri sendiri, menemukan stresor, membuat strategi, dan memulai dari langkah-langkah kecil. Meskipun begitu, ia menekankan bahwa strategi perawatan diri dapat berbeda-beda untuk setiap individu. “Strategi yang berhasil untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita juga. Hal ini wajar karena setiap orang memiliki jenis stres yang berbeda,” jelasnya.
Tak lupa, ia juga membagikan tips untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan dan studi. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain membuat jadwal harian, memecah tugas besar menjadi bagian yang lebih kecil, memanfaatkan metode belajar online, memberikan estimasi waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan tugas, serta tidak lupa merawat diri. Selain itu, ia juga memperkenalkan dua metode yang dapat digunakan untuk mengatur waktu dan menetapkan tujuan, yaitu metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) dan metode matriks Eisenhower (Urgency and Importance).
Penyelenggaraan pelatihan soft skills ini merupakan wujud komitmen FEB UGM dalam mendukung kelancaran studi mahasiswanya sekaligus mewujudkan kampus yang sehat. Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat membantu mahasiswa baru FEB UGM dalam menyeimbangkan kehidupan kuliah dan kehidupan pribadi. Dengan keseimbangan tersebut, mahasiswa dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, baik secara fisik maupun mental.
Reportase: Najwah Ariella Puteri
Editor: Kurnia Ekpatiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)



