Rencana Strategis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada 2023-2027 bertujuan membimbing Fakultas dalam mencapai misi dan visinya dengan mengoptimalkan sumber daya melalui empat pilar strategis: kepemimpinan berorientasi layanan dan inovatif, transformasi proses bisnis berbasis teknologi, fokus pada sumber daya manusia, dan kolaborasi dengan mitra strategis selama lima tahun ke depan.
Related Posts
Ekonom FEB UGM: Kemiskinan DIY Turun, Ketimpangan Masih Tinggi
Berita Kamis, 20 Agustus 2026
Penurunan angka kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Maret 2026 dinilai sebagai capaian positif. Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., mengatakan bahwa di balik capaian tersebut, masih terdapat persoalan ketimpangan antarwilayah dan antarkelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
“Rilis Badan Pusat Statistik pada awal Agustus menunjukkan persentase penduduk miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Maret 2026 menurun 0,38 poin dari September 2025.
Program Magang Mampu Atasi Kesenjangan Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi
Berita Rabu, 19 Agustus 2026
Setelah menempuh studi sarjana, gelar yang dikantongi lulusan perguruan tinggi di Indonesia ternyata belum cukup menjadi bekal menembus ketatnya persaingan dunia kerja.
FEB UGM Sambut 95 Mahasiswa Internasional dari 42 Universitas Dunia
Berita Selasa, 18 Agustus 2026
Para mahasiswa asing tersebut berasal dari 42 universitas di dunia dengan total 76 mahasiswa program sarjana dan 19 mahasiswa program pascasarjana. Seluruh mahasiswa tersebut mengikuti program student exchange maupun double degree di FEB UGM selama satu semester ke depan.
Sebelum memulai perkuliahan, para mahasiswa mengikuti orientation day pada 10 Agustus 2026 untuk lebih mengenal FEB UGM, mulai dari sistem belajar, fasilitas, hingga budaya yang berlaku di lingkungan kampus.
Membangun Bisnis Berkelanjutan dari Limbah Industri
Berita Selasa, 18 Agustus 2026
Limbah industri kerap dipandang sebagai persoalan. Namun, bagi Andre Suryaman, limbah yang biasanya hanya berakhir di tempat sampah justru menjadi awal sebuah bisnis yang mampu menembus pasar global.