
Di era digital yang terus berkembang pesat, institusi pendidikan dituntut untuk beradaptasi agar tetap relevan dalam arus informasi yang dinamis. Strategi pemasaran digital menjadi instrumen krusial dalam membangun citra dan eksistensi yang kuat.
Hal tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Optimalisasi Digital Marketing dan Media Sosial Kampus” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada Jumat (21/3/2025). Dalam acara ini, Winda Mirza Pratiwi, seorang konsultan komunikasi strategis dan pakar digital marketing, membagikan wawasan mengenai digital marketing untuk industri pendidikan.
Winda menyebutkan rahasia di balik konten viral, produk laris, dan gerakan sosial yang menyebar dengan cepat merupakan kombinasi dari tiga media yang menjadi landasan utama membangun strategi digital marketing. Dalam konsep yang dikembangkan Jonah Berger dalam bukunya yang berjudul Contagious tiga elemen utama ini berupa owned media, earned media, dan paid media.
Owned media adalah media yang dimiliki dan dikontrol oleh masing-masing pribadi atau institusi berupa website, blog, dan akun media sosial. Sementara, earned media publikasi yang dilakukan tanpa biaya berupa ulasan dari mahasiswa, alumni, liputan media tentang institusi. Berikutnya, paid media adalah media berbayar untuk meningkatkan jangkauan ke publik yang lebih luas melalui iklan, promosi, atau kolaborasi dengan influencer.
“Dengan mengombinasikan tiga elemen ini dengan baik dan strategis akan menciptakan dampak yang lebih besar dalam membangun dan meningkatkan daya tarik institusi di dunia digital,” jelas Winda.
Dalam strategi pemasaran digital, kehadiran media merupakan fondasi utama yang tidak bisa diabaikan. Winda menekankan bahwa meskipun teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) semakin berkembang, peran Public Relations (PR) tetap penting karena mampu menyampaikan pesan dengan pendekatan emosional dan empati yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Selain itu, pemetaan media menjadi elemen penting dalam komunikasi digital. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah impact mapping, yaitu dengan menentukan tujuan, aktor yang berperan, dampak yang ingin dicapai, serta hasil yang diharapkan.
“Menggunakan media tanpa tujuan dan pemetaan yang jelas adalah kesalahan besar. Setiap strategi harus memiliki endgame yang terukur agar optimal,” ujar Winda.
Tak hanya media, pemetaan stakeholder juga menjadi langkah krusial dalam strategi pemasaran digital. Pembagian peran yang jelas dapat membantu komunikasi dan tugas agar lebih terkoordinasi. Dengan pemetaan yang jelas, setiap individu atau tim dapat segera mengetahui tanggung jawabnya, menghindari miskomunikasi, dan mencegah duplikasi kerja.
“Kalau belum ada pemetaan persona yang jelas, maka akan sulit menjalankan digital marketing dengan efektif,” jelasnya.
Winda menegaskan bahwa engagement bukan hanya sekadar angka berupa jumlah likes atau komentar, tetapi juga kualitas interaksi yang terjalin dengan audiens. Satu hal utama yang dapat diterapkan adalah personalisasi konten dengan menggunakan analisis data dari Google Analytics untuk memahami preferensi audiens dan menciptakan konten yang lebih relevan. Optimalisasi media sosial perlu dilakukan sesuai dengan target audiens.
“LinkedIn bagus untuk menjangkau profesional dan alumni, TikTok dan Instagram untuk calon mahasiswa, sementara Facebook lebih cocok untuk orang tua dan komunitas akademik.” jelasnya.
Dalam menghadapi tantangan di era digital, lanjutnya, institusi pendidikan juga harus memiliki strategi manajemen krisis untuk mengatasi isu-isu negatif yang berpotensi merusak citra institusi. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi konten perlu dilakukan secara berkala dengan menggunakan alat analitik untuk mengukur efektivitas strategi yang diterapkan. Melalui cara ini, institusi dapat menyesuaikan strategi kembali berdasarkan hasil yang diperoleh. Selain itu, benchmarking terhadap institusi ternama juga menjadi langkah penting dalam mengembangkan strategi digital marketing.
Di akhir paparannya Winda menekankan lima prinsip utama dalam penerapan pemasaran digital yang efektif. Pertama, integrasi holistik dengan mengombinasikan berbagai jenis media secara sinergis. Kedua, pembuatan konten berkualitas yang menarik, relevan, dan konsisten. Ketiga, pengukuran efektivitas kampanye melalui analisis data dan evaluasi berkelanjutan. Keempat, pemahaman mendalam tentang audiens untuk menyesuaikan strategi komunikasi. Kelima, kemampuan beradaptasi dengan tren digital dan teknologi agar tetap relevan di tengah persaingan global.
Dengan strategi digital marketing yang tepat, Winda menyebutkan institusi pendidikan dapat membangun citra yang kuat, menjangkau audiens yang lebih luas, dan meningkatkan daya saing di era digital. Kunci utama terletak pada kombinasi media yang efektif, pemetaan yang jelas, serta engagement berkualitas yang terus dievaluasi dan dikembangkan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pemasaran digital yang strategis, institusi pendidikan dapat terus beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan lanskap digital yang dinamis.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals